circadiansins

Kondisi Zidan sudah membaik, pada awalnya. Namun karena Zidan bebal dan memaksa masuk kuliah di hari Senin—yang jadwalnya padat bukan main—anak itu tumbang lagi. Bunda Zidan yang mendengar kabar itu langsung menjemputnya pulang.

Di rumah, kerjaan Zidan hanya makan, minum, tidur, buang air. Zidan merasa sudah sembuh setelah beberapa hari istirahat total. Tapi, bundanya bilang, sekalian izin kuliah seminggu aja. Karena restu bunda adalah restu segala dunia, Zidan ya seneng-seneng aja.

Masalahnya di Zendra.

Padahal mereka pernah berpisah jauh lebih lama dari ini, namun untuk yang kali ini, Zendra betul-betul tidak tahan. Ia bahkan membolos empat SKS di hari Jumat untuk menyusul ke rumah pacarnya.

Kedatangan Zendra ke rumah, disambut dengan riang gembira oleh calon bunda mertua. Sangat gembira.

“Makasih ya nak Zendra ganteng, udah main ke rumah. Apa nggak mau sekalian nginep aja? Masih banyak kamar kosong kok, bunda sama Jidan kan cuma tinggal berdua,” ucap bunda di sela-sela makan malam mereka.

Penawaran yang menggiurkan tentu saja bagi Zendra, tapi demi menjaga imej calon mantu idaman, ia harus menjaga martabat dan wibawa.

“Enggak perlu Bunda, nggak enak, nanti malah ngerepotin. Zendra pulang ke kos aja, belum terlalu malem juga,” jawab Zendra sambil tersenyum ramah.

“Yah, sayang banget, padahal bunda mau sekalian minta tolong.”

“Minta tolong apa, Bunda?” sahut Zendra terlalu cepat. Terlalu semangat melihat kesempatan untuk cari muka.

“Jadi tuh, sebenernya bunda besok ada janji nginep-nginep di villa gitu sama geng bunda waktu kuliah. Tapi karena si bontot sakit nggak bisa ditinggal, bunda nggak jadi berangkat, deh.” Bunda Zidan menatap netra Zendra dengan mata yang penuh harap.

“Bunda! Jie kan udah bilang, bunda pergi aja nggak apa-apa, Jie udah sembuh, bisa ditinggal sendirian.”

Zidan mendapat jeweran di telinga kanannya.

“Kamu tuh kalau bunda tinggal pasti makannya mie lagi, mie terus! Nggak ada yang ngawasin buat makan yang bener!”

Zendra tersenyum, lalu berdehem pelan.

“Bunda mau Zendra aja yang jagain Jidan di rumah?” ucap Zendra lembut memotong perdebatan ibu dan anak di depannya.

Bunda Zidan langsung menoleh ke arah Zendra, menatap pacar anaknya itu dengan berbinar-binar. Ah, sekarang Zendra mengerti, Zidan mendapat sorot mata penuh pikat itu dari mana. Kekuatan genetika.

Akhirnya, keesokan paginya, bahkan saat kedua pemuda itu belum bangun tidur. Bundanya sudah berangkat dengan meninggalkan satu wajan nasi goreng serta selembar catatan di meja makan.

Nggak boleh macem-macem ya, anak-anakku sayang.

Zendra memang tidak ada sedikitpun niat untuk macam-macam, namun diberi warning begitu, Zendra makin tidak berani macam-macam. Bahkan untuk sekadar menyulut rokoknya di rumah ini saja Zendra segan.

Sudah lebih dari setengah jam setelah Zendra pamit pada Zidan untuk membeli cemilan di Indomaret. Padahal Zidan tahu, niat asli Zendra adalah untuk merokok di sana.

Karena bosan menunggu lama sendirian, Zidan memutuskan untuk menyusul pacarnya ke Indomaret terdekat yang ada di samping gerbang masuk kompleks perumahannya.

Sepeda Polygon abu-abunya ia parkirkan di depan minimarket sejuta umat. Ia mencari ke dalam, di balik setiap rak di sana, namun tidak menemukan paras tampan kekasihnya. Di depan, tempat kursi dan meja besi berjejer pun, ia tak menemukan Zendra di sana.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, kayuhan Zidan memelan saat melihat punggung kokoh familiar sedang duduk santai di bangku panjang lapangan voli yang kosong.

Zendra sedikit tersentak melihat tubuh jangkung pacarnya berjalan mendekat dengan sepeda yang dituntun, hingga sang empu memarkirkan sepedanya tepat di sebelah bangku yang ia duduki.

“Aduh maaf, gue kelamaan, ya? Sampe disusulin gini,” ucap Zendra sembari berusaha memadamkan rokoknya yang masih bisa beberapa kali dihisap.

“Lanjutin aja, nggak apa-apa.” Zidan ikut mendudukkan dirinya pada bangku kayu di bawah rindangnya pohon kersen. Ia hanya mengistiratkan punggungnya pada sandaran bangku dan menatap lurus ke depan. Sedang lelaki di sebelahnya melanjutkan kegiatan yang sempat terinterupsi karena kehadirannya.

Entah mengapa keheningan ini terasa canggung, Zidan jadi teringat kencan pertama keduanya di Taman Lansia. Potongan memori berputar di kepalanya.

Zidan tersenyum saat melihat Zendra yang mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya berusaha sebisa mungkin tidak mengarah pada dirinya.

“Emang enak, ya?” Konteks pertanyaan Zidan adalah rokok yang sedang disesap Zendra. Pertanyaan basa-basi sebetulnya. Sebagai anak laki-laki dengan pergaulan yang sedikit liar, Zidan tentu pernah mencoba menghisap rokok, saat SMP dulu. Dalam ingatannya, rasanya tidak enak dan asapnya membuat tenggorokannya seperti tercekik. Kenangan buruknya itu yang menyebabkan dia tidak mau lagi merokok hingga sekarang.

“Enak kalau yang ini, ada rasanya soalnya.”

Zidan melirik bungkus rokok di atas bangku di antara keduanya. Kotak dengan nuansa putih dan nila, berbeda dengan rokok Zendra yang biasanya. Memang beberapa waktu lalu Zendra sempat bercerita ingin mengurangi kadar rokoknya, pelan-pelan dimulai dengan transisi oleh rokok yang lebih ringan. Tapi dihitung dari lamanya Zendra di luar rumah, ia pasti sudah menghabiskan lebih dari dua batang, agaknya sedikit percuma, tapi usahanya patut diapresiasi. Untuk perokok sekelas Zendra, bukan lagi keenakan yang dicari, namun sensasi ketenangan dan kepuasan yang didapat dari zat adiktif yang terkandung dalam gulungan tembakau tersebut.

“Mau nyobain?”

Zidan mendongak dan memukul dada Zendra pelan.

“Ih, dasar pembawa pengaruh buruk!”

Zendra hanya terkekeh mendengarnya, ia mematikan rokoknya dan melempar puntungnya pada tempat sampah yang ada di sebelahnya. Satu tangannya terulur untuk menangkup pipi Zidan, mengusapnya dengan ibu jari pelan.

“Jangan ngomel-ngomel dulu dong, Sayang.” ㅤ

cup

Zidan terkejut. Tanpa aba-aba, Zendra menyatukan bibir mereka berdua. Ia membeku, selama beberapa detik hanya mempertahankan kecup. Hingga Zendra mengetuk-mengtukkan lidahnya pada belah bibir Zidan, meminta izin untuk masuk.

Zidan membuka mulutnya, tangannya menggenggam kuat otot bisep Zendra. Masih tidak membalas ciuman, ia hanya membiarkan Zendra bermain-main dengan lidahnya di dalam sana. Melilit, menyusuri setiap indera pengecapnya, membagi perpaduan rasa manis, asam, dan sepat jejak rokok yang dihisap.

Ciumannya singkat, Zendra menjauhkan wajahnya setelah memberi satu lumatan gemas pada bibir Zidan.

“Kaya gitu rasanya.”

Zidan menjilat sisi bibirnya yang basah akan salivanya sendiri, ia menengguk ludahnya kasar.

“Oh,” jawab Zidan datar. Sangat kontradiktif dengan wajahnya yang semerah buah kersen yang bergantungan di atas kepalanya.

Zidan bangkit dari duduknya, berbalik mengambil cepat sepeda dan kabur dengannya.

“Bang, ayo pulang! Mendung!” teriak Zidan yang punggungnya sudah semakin menjauh.

Zendra tertawa melihat pacarnya yang salah tingkah terlihat sangat menggemaskan. Ia memandang sejenak pada langit yang menggelap. Bahkan alam semesta mendukung Zidan untuk sembunyi dari rasa malunya.

Kondisi Zidan sudah membaik, pada awalnya. Namun karena Zidan bebal dan memaksa masuk kuliah di hari Senin—yang jadwalnya padat bukan main—anak itu tumbang lagi. Bunda Zidan yang mendengar kabar itu langsung menjemputnya pulang.

Di rumah, kerjaan Zidan hanya makan, minum, tidur, buang air. Zidan merasa sudah sembuh setelah beberapa hari istirahat total. Tapi, bundanya bilang, sekalian izin kuliah seminggu aja. Karena restu bunda adalah restu segala dunia, Zidan ya seneng-seneng aja.

Masalahnya di Zendra.

Padahal mereka pernah berpisah jauh lebih lama dari ini, namun untuk yang kali ini, Zendra betul-betul tidak tahan. Ia bahkan membolos empat SKS di hari Jumat untuk menyusul ke rumah pacarnya.

Kedatangan Zendra ke rumah, disambut dengan riang gembira oleh calon bunda mertua. Sangat gembira.

“Makasih ya nak Zendra ganteng, udah main ke rumah. Apa nggak mau sekalian nginep aja? Masih banyak kamar kosong kok, bunda sama Jidan kan cuma tinggal berdua,” ucap bunda di sela-sela makan malam mereka.

Penawaran yang menggiurkan tentu saja bagi Zendra, tapi demi menjaga imej calon mantu idaman, ia harus menjaga martabat dan wibawa.

“Enggak perlu Bunda, nggak enak, nanti malah ngerepotin. Zendra pulang ke kos aja, belum terlalu malem juga,” jawab Zendra sambil tersenyum ramah.

“Yah, sayang banget, padahal bunda mau sekalian minta tolong.”

“Minta tolong apa, Bunda?” sahut Zendra terlalu cepat. Terlalu semangat melihat kesempatan untuk cari muka.

“Jadi tuh, sebenernya bunda besok ada janji nginep-nginep di villa gitu sama geng bunda waktu SMP. Tapi karena si bontot sakit nggak bisa ditinggal, bunda nggak jadi berangkat, deh.” Bunda Zidan menatap netra Zendra dengan mata yang penuh binar berharap.

“Bunda! Jie kan udah bilang, bunda pergi aja nggak apa-apa, Jie udah sembuh, bisa ditinggal sendirian.”

Zidan mendapat jeweran di telinga kanannya.

“Kamu tuh kalau bunda tinggal pasti makannya mie lagi, mie terus! Nggak ada yang ngawasin buat makan yang bener!”

Zendra tersenyum, lalu berdehem pelan.

“Bunda mau Zendra aja yang jagain Jidan di rumah?” ucap Zendra memotong perdebatan ibu dan anak di depannya.

Sesampainya di kos, Zendra tergopoh-gopoh menuju kamar pujaan hatinya yang sedang sakit. Jika ada yang melihat kondisinya yang kelimpungan saat ini, ia pasti akan dikatai, “Ah anjir, lebay banget lu, cuma panas doang udah kaya denger kabar istri mau ngelahirin.”

Tapi memang begitu lah caranya mencintai. Bukan cara yang seratus persen baik.

Mengingat bagaimana ia kebut-kebutan di sepanjang perjalanan.

Telinganya seakan tuli, padahal ribuan kali dicaci-maki klakson pengendara lain.

Matanya seakan buta, tak bisa bedakan warna, yang merah dianggapnya hijau.

Mulutnya seakan bisu, saat Markus bertanya dengan raut bingung, “Loh Zen, nggak jadi nginep di rumah?”

Zendra berhenti sejenak di ambang pintu kamar yang terbuka lebar, menampilkan Markus yang sepertinya sedang mengemban tugas untuk mengganti kompres Zidan.

Ia meraup napas sebanyak-banyaknya, ibu jarinya menyisir rambutnya yang berantakan karena helm kebesarannya—entah milik siapa, saking terburu-burunya dia bahkan asal mencomot helm di garasi rumah—.

“Udah minum obat?” tanya Zendra dari ujung tempat tidur, entah pada siapa. matanya terus mengamati Zidan lekat, namun yang diamati nampak tak mungkin menjawab pertanyaannya karena terlampau lemas.

“Udah, sejam yang lalu.” Akhirnya Markus mewakili menjadi juru bicara.

“Makannya?”

“Cuma beberapa sendok aja, kayanya lidah dia lagi nggak enak, sama malah bikin mual.”

Jujur saja, Markus sebenernya nggak tahu kenapa harus menjelaskan detail kondisi Zidan kepada pria yang sekarang sedang mengambil posisi untuk duduk di sisi ranjang yang lain.

Tapi instingnya memberi sinyal, bahwa Zendra berhak mendapat informasi itu.

“Bang, gerah…” tutur Zidan lemah, badannya menggeliat kecil tak nyaman karena peluh yang membanjiri tubuhnya.

Ada dua abang di ruangan ini. Abang yang satu terlihat kikuk, bingung harus merespon dan bertindak apa.

Abang yang satu lagi, dengan sigap membelai surai hitam kecoklatan Zidan, menyeka keringat pada pelipis menggunakan punggung tangannya. Hembusan napas keluar saat merasakan suhu panas yang menjalar di sana.

Tangan yang satunya, terulur untuk membuka selimut tebal yang menutupi tubuh jangkung Zidan. Mengecek pacarnya yang ternyata masih mengenakan kemeja yang tampak kurang nyaman digunakan untuk beristirahat.

Jemarinya menggapai kancing teratas kemeja merah flanel bermotif kotak—kemeja yang ujungnya pernah sobek terjepit pintu mobil Leo, tapi itu adalah baju kesayangan Zidan, semakin sayang karena kemeja itu yang dikenakan pada salah satu momen berharga dalam hidupnya—.

Pergerakan tangan Zendra terhenti saat hendak membuka kancing ketiga. Matanya melirik ke arah Markus, memberi kode enkripsi.

Paham dengan kode tersebut, Markus justru mentransimikannya kepada Zidan. Menatap wajah adik kos-kosannya yang paling bontot, mencari persetujuan.

Posisinya ‘kan Markus nggak tahu kalau mereka berdua pacaran, kalau ini termasuk modus pelecahan seksual gimana?

“Maass…”

Markus terkejut mendengar rengekan Zidan, lebih terkejut lagi saat lelaki itu mendusel sambil kedua tangannya berusaha memeluk pinggang Zendra.

Dekripsi konkret bentuk persetujuan dari Zidan.

Markus bangkit dari duduknya, ia berdehem singkat. Matanya menatap ke arah Zendra, kelihatan betul tenggorokannya tercekat, menahan banyak tanya yang ingin dilontarkan.

Namun yang keluar hanya, “Titip Jidan.”

Zendra sedikit tersinggung dengan frasa itu. Markus salah, bukan dia yang harusnya dititipi.

Semua hal yang dilakukan teman-teman kosnya sejak tadi, seharusnya ia yang mengambil peran.

Namun Zendra juga salah, banyak peran yang bisa dilakukan, hanya olehnya.

Zendra membuka seluruh kancing kemeja Zidan setelah kepergian Markus.

Ia mengangkat punggung Zidan pelan untuk melepaskan kemeja itu seutuhnya.

Ia memutari ranjang, duduk di sisi yang semula adalah posisi Markus. Ia mengecek air di dalam baskom, masih hangat.

Dengan telaten, dibasuhnya tubuh Zidan dengan handuk hangat, menyeka keringat yang membuat Zidan sedari tadi tidak nyaman. ㅤ ㅤ Setelah mengganti bawahan Zidan dengan celana training yang lebih nyaman, bukannya mamakaikan baju, Zendra justru ikut melepaskan kaosnya.

Tagar CMIIW, setahu Zendra, skin to skin dengan orang yang sedang demam bisa membantu untuk menurunkan panas.

Maka dari itu, di balik selimut tebal, ia mempraktekannya sekarang.

Dibawanya Zidan dalam pelukan hangatnya, dibiarkan dadanya menjadi bantal bagi kepala besar pacarnya.

Dibiarkan kulit abdomennya saling menempel dengan kulit dada Zidan.

Lengannya merengkuh punggung dan memeluk pinggang Zidan erat.

Bibirnya mengecup puncak kepala kekasihnya bak merapalkan mantra-mantra pengobatan.

“Mas ngapain parkir sepeda di depan lemari adek?” ucap Zidan lirih.

Tanpa mengikuti arah pandang mata Zidan yang terbuka sayu pun, Zendra tahu, tidak akan ada apa-apa di sana, pacarnya ini hanya sedang berhalusinasi, efek dari sakit.

Ibu jarinya terangkat untuk membelai pangkal hidung Zidan, memberi stimulasi agar matanya kembali terpejam.

Baru beberapa menit, Zidan nampak mengerutkan alisnya tak nyaman. Pipinya yang mengembung menjadi sinyal bagi Zendra untuk bangkit mengambil asal plastik Indomaret yang tergeletak di meja belajar Zidan.

“Hoeekkk”

Zendra membantu Zidan untuk duduk lebih nyaman dari posisi tidurnya. Dielus-elus punggung kekasihnya lambut.

Matanya berkaca-kaca sedih saat melihat Zidan yang terlihat sangat mual, namun isi perutnya seperti sudah tidak ada yang bisa dikeluarkan. Hanya sedikit ampas bubur dan cairan lambung yang mengisi plastik putih tersebut.

Tanpa rasa jijik, Zendra menyeka tepi bibir Zidan yang basah akibat muntahannya.

Saat dirasa kekasihnya itu mulai tenang dan napasnya kembali teratur. Zendra akhirnya bangkit untuk memakaikan Zidan—dan dirinya sendiri—baju sebelum turun untuk mengambilkan air minum hangat.

ㅤ ㅤ Zendra hendak kembali ke kamar Zidan, langkahnya terhenti saat melihat Markus duduk di tengah persimpangan anak tangga.

Kedua sikunya ditopangkan di atas paha, telapaknya menggenggam satu sama lain, matanya menatap lurus ke arah Zendra.

Explain.” Itu bukan pertanyaan, apalagi penawaran, itu jelas todongan penjelasan.

Air hangat pada genggamannya, mengingatkan Zendra bahwa pacarnya sedang membutuhkannya, segera. Karenanya, ia tak mau mengulur waktu lebih lama.

Mungkin memang sudah template-nya. Zendra membuka mulut, mengeluarkan kalimat yang sama seperti yang ia berikan kepada Leo.

ㅤ “Zidan pacar gue, Bang.”

Dibanding ekspresi terkejut, kelegaan yang justru tergambar dari wajah Markus.

“Yooo, dudee-“

“Bisa minggir dulu nggak, Bang? Jidan nungguin gue.” potong Zendra sebelum Markus dan kebiasaannya saat heboh nyerocos panjang lebar akan mengulur waktunya lebih lama.

“Okay, Sorry.” Markus menggeser pantatnya untuk memberi jalan pada Zendra.

“Jadi yang gue denger waktu itu bukan lo lagi nonton bokep?”

Zendra hanya terkekeh sembari menaiki tangga, memberikan pundak Markus dua kali tepukan saat melewatinya. “Gue juga sorry ya, Bang.”


ㅤ Zendra membuka matanya saat merasakan adanya pergerakan di pelukannya, jam digital di nakas Zidan menunjukkan pukul tujuh. Ia baru memejamkan mata satu jam, setelah semalaman terjaga untuk menjaga Zidan. Padahal setelah muntah terakhir tadi malam, kondisi pacarnya itu sudah lebih mendingan. Sudah tertidur pulas juga, hanya saja Zendra kelewat cemas sampai tiap jam mengecek suhu badan Zidan.

Zidan menggeliat pelan dan membuka mata perlahan, tersenyum manis saat melihat wajah kekasihnya.

“Kirain cuma mimpi, taunya beneran tidur dikelonin sama Mas.”

Zendra ikut tersenyum, lalu mengecup kening Zidan yang sudah tidak sepanas tadi malam. “Mas bikinin bubur, ya?”

“Nggak mau, nggak laper.”

“Tetep harus makan dong Sayang, biar bisa minum obat.” Zendra berusaha melepaskan pelukan Zidan yang semakin erat pada tubuhnya.

“Ihhhh, dibilangin nggak mau. Udah diem di sini aja.”

Perfect timing.

Sebelum bujukan Zendra berubah menjadi paksaan, pintu kamar Zidan terbuka, menampakkan Leo yang melangkah mendekat dengan semangkuk bubur di tangannya.

“Dapet shift pagi nih gue ngurusin pasien.”

Zendra hendak bangkit untuk mengambil alih mangkuk dari tangan Leo, namun lagi-lagi ditahan oleh Zidan.

“Adek tuh cuma mau dipeluk sama mas, kenapa pergi-pergi mulu, sih!?”

Waduh, mulai ngambeknya.

Leo yang melihat itu, hanya berdecih. “Yaudah Bang, pelukin aja tuh pacar lo, biar gue yang nyuapin dia makan.”

Merasa tidak ada opsi lain yang lebih baik, maka Zendra—dan Zidan yang bergelayutan di tubuhnya—pun duduk bersandar pada headboard tempat tidur.

Leo betulan menyuapi Zidan yang kepalanya menempel manja di dada Zendra.

Zendra pun tampak tidak terganggu atau pun risih dengan itu, dan dengan eksistensi Leo.

“Uhuk.”

“Pelan-pelan dong Le, jangan banyak-banyak nyuapinnya,” tegur Zendra karena pacarnya sedikit tersedak.

Padahal Leo sengaja, biar tugasnya cepet selesai, biar cepet hengkang dari kamar ini.

Siapa juga yang mau lama-lama di antara dua sejoli ini, mana Zendra dengan nggak tahu malunya tiba-tiba nyium hidung Zidan.

Yang itu Leo masih maklum, Zidan memang menggemaskan, wajar kalau pacarnya nggak tahan buat nyium.

Tapi Leo betulan merasa terlempar ke universe lain, karena nggak pernah terbayang dalam hidupnya, di dunia ini, akan melihat adegan yang satu ini.

Zidan. Nyium. Bibir. Zendra.

Bukan ciuman yang gimana-gimana, cuma kecupan singkat yang diakhiri cengiran kedua belak pihak.

Tapi,

Diulang lagi, ya…

Zidan. Nyium. Bibir. Zendra.

Zidan, subjek.

Nyium, predikat.

Bibir Zendra, objek.

Zidan yang itu, yang disayang semua abang-abang kosan, memulai inisiasi buat nyium Zendra.

Zendra yang itu, yang paling keliatan nggak sayang sama Zidan dibanding abang-abang kosan yang lain.

Leo berdiri, menaruh paksa mangkuk bubur yang masih tersisa beberapa sendok ke tangan Zendra.

“Lanjutin sendiri.”

Ia tak tahan, melangkah keluar kamar, meninggalkan pasangan itu untuk kembali berduaan. ㅤ



Please, dibaca sampai akhir.ㅤ ㅤ

Menurut hasil penelitian Purwaningsih dan Widuri (2019), terdapat perbedaan secara bermakna suhu tubuh pada bayi demam sesudah dilakukan skin to skin contact (PMK).

Hal ini disebabkan karena hipotalamus di otak akan menganggap area tersebut menjadi panas di luar batas titik pengaturan (set point), maka impuls dikirimkan untuk menurunkan suhu tubuh.

Serta dengan skin to skin contact (PMK) maka bayi akan lebih merasa nyaman karena dapat mendengar detak jantung ibunya yang pada akhirnya metode skin to skin contact (PMK) ini lebih cepat dalam menstabilkan suhu tubuh bayi.

Tentu saja di AU ini Zidan adalah lelaki dewasa dan bukan bayi. Cara ini agaknya kurang efektif diterapkan pada orang dewasa. Makanya aku mengoreksi ke-sok-tahu-an Zendra. Biar nggak jadi salah informasi.

Yaudah sih, gitu aja, lagian ini cuma karya fiktif. Hihi.

DAFTAR PUSTAKA ㅤ Purwaningsih H, Widuri. 2019. Pengaruh skin to skin (pmk) terhadap penurunan suhu tubuh pada bayi demam. J Perawat Indonesia 3(1): 79-84. e-ISSN 2548-7051.

ㅤ “Naik, Jun,” ucap Najmi kepada Arjuna setelah membukakan kedua footstep motor Beat putih-pink nya.

Arjuna masih bergeming di tempatnya berdiri. Menatap Najmi yang kini sedang nangkring di atas motor juga menatapnya bingung.

Arjuna pikir, perhatian-perhatian kecil yang selama ini temannya berikan, hanyalah bentuk kebaikan antar sesama umat manusia.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mana ada manusia lain yang ngelapin jok motor pakai lengan kemejanya sendiri waktu dia mau bonceng.

Mana ada manusia lain yang waktu kameranya dipinjem, terus lensanya dipatahin, malah bilang, “Hehe nggak apa-apa, seenggaknya di dalem sini jadi ada banyak foto Arjun.”

Nggak ada yang lain, selain Najmi.

“Jun?”

Arjuna tersadar dari lamunan panjangnya, Najmi bahkan sudah mematikan mesin motornya kembali. Ia berdehem pelan sebelum mengangkat kakinya untuk menaiki motor matic tersebut.

“Mau ke mana emangnya?”

“Belum tau. Fly over, mau?” sahut Najmi sembari menyalakan mesin motornya kembali.

jedug

Arjuna membenturkan ujung helmnya sendiri dengan bagian belakang helm Najmi.

“Nggak mau. Dasar, jamet!”

Yang dikatai hanya menggelakkan tawa, bersiap untuk menancapkan gas.

“Pegangan, Jun.”


ㅤ ㅤ Arjuna menatap jagung rebus di genggamannya yang tersisa setengah. Di sampingnya, Najmi melakukan hal yang serupa. Namun, jagungnya hampir sama sekali tidak dimakan.

Aneh, padahal biasanya Najmi yang lebih lahap makan. Bahkan, pria berdarah Sukabumi itu sering mencomot lauk dari piring makan siangnya.

Dari raut mukanya, tampak sedang menanggung beban pikiran.

Apa yang sedang ada di pikiran Najmi?

“Jun, jagung kok bisa ada yang rasanya manis, ada yang rasanya biasa aja tuh, gimana?”

“Ya karena beda varietasnya. Hasil panennya juga beda.”

“Oh, terus varietas manis itu asal muasalnya bisa manis gimana?”

Arjuna mendengus geli.

“Nggak tau, nilai makul tanaman semusim gue C.”

“Ups…” Najmi meringis, masih menatapi tiap butir biji jagung di depannya.

Arjuna meletakkan sisa jagungnya pada piring plastik di samping paha kanannya, piring yang menciptakan jarak setengah meter di antara mereka berdua.

Kini keduanya sedang duduk di pinggiran air mancur yang terletak di depan gerbang salah satu taman kota.

Tamannya sudah tutup, jelas. Sekarang saja sudah hampir jam dua pagi. Di sekitar taman hanya tersisa beberapa pedagang kaki lima. Salah duanya adalah lapak jagung rebus dan wedang ronde yang mereka beli.

Hening menyelimuti keduanya. Bukannya mereka lupa maksud dan tujuan pergi malam-malam begini.

Hanya saja, baik Arjuna dan Najmi, tampak sengaja mengulur waktu lebih lama.

Hembusan napas keluar dari hidung bangir yang lebih tua.

“Sejak kapan?” tanyanya. Kepalanya mendongak ke atas, menatap lekat langit gelap, seakan bisa melihat rasi bintang aries di sana, padahal bulannya saja tertutup polusi.

“Nggak tau, lupa. Udah lama banget soalnya.” Najmi ikut menatap ke atas langit, nggak tau juga dia ngeliatin apa.

“M-“

“Nggak perlu minta maaf, Jun.” Kini Najmi fokuskan pandangannya pada pria di sebelahnya.

“Bukan sesuatu yang salah kalau lo nggak bisa bales perasaan gue.”

Arjuna semakin mendongakkan kepalanya, udah kaya orang mau kayang, saking berusaha keras dia menahan air matanya supaya nggak keluar.

Masa iya dia yang nangis, posisinya ‘kan dia yang menyakiti Najmi.

Setelah beberapa tarikan dan hembusan napas, Arjuna berhasil memposisikan tubuhnya dengan benar, menoleh ke samping kanannya, balik menatap netra Najmi.

Pria itu masih tersenyum, menatapnya lembut, terlihat tenang sekali.

Arjuna jadi bertanya-tanya, apa ini rasanya dicintai?

“Sorry…”

ㅤ “Itu mah sama aja minta maaf, cuma pakai bahasa Inggris, Jun!”

Arjuna memaksakan tawa keluar dari mulutnya.

“Tulisan lo bagus. You’ll be a famous author, someday.

Terdengar kekehan pilu dari samping kanannya. Sepertinya Arjuna salah memilih bahan obrolan. Sekarang jadinya seakan-akan ia mengolok-olok keadaan. Padahal bukan begitu maksudnya.

Miris, karena tulisan yang disebut bagus oleh Arjuna adalah spin off dari kisah nyata mereka berdua. Najmi menuangkan perasaannya yang terpendam melalui karyanya.

Arjuna sekarang menundukkan kepalanya dalam. Merasa bodoh bukan main. ㅤ

“Jun…”

Panggilan lembut itu membuat Arjuna mengangkat kepalanya kembali.

Najmi menarik napasnya dalam. ㅤ “When I become a famous author someday, I’ll write about us and happy ending we never had,” ucap Najmi sedikit bergetar. Ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan, perlahan runtuh juga.

Pupil Arjuna bergetar mendengar kalimat Najmi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. ㅤ ”Enggak Na, you are the main character and I already did my part as an additional character. So keep going, a happy ending is waiting for you.

Lagi-lagi Najmi hanya tekekeh. Rasanya, hidupnya benar-benar seperti berada di puncak komedi.

“Jun…”

“Hehe, maaf, gue manggilin lo mulu ya dari tadi.” Najmi nyengir, menggaruk tengkuknya gugup.

ㅤ “Kenapa, Na?”

“Gue boleh nggak, cium lo? Buat yang terakhir kali?”

Arjuna megangguk, mengiyakan. Mempersilakan Najmi untuk mendekat ke arahnya, mempersilakan bibir tipis itu untuk mencium bibirnya.

Arjuna tidak membalas ciuman Najmi, ia hanya membuka mulutnya, mempersilakan bilah merah muda itu untuk merasakan basah dan kenyal bibirnya.

Ia tak sanggup membalas ciuman penuh cinta itu.

Ia tidak memiliki cinta untuk disalurkan, seperti yang sedang Najmi lakukan padanya saat ini, dan selama ini.

Selama ini juga, Arjuna tidak sadar, bahwa ciuman dalam yang diberikan laki-laki itu adalah proyeksi dari rasa cintanya yang sama dalamnya. Ia baru menyadarinya sekarang.

Air matanya menetes di sela-sela ciuman keduanya.

Sungguh, ia merasa bersalah. Betapa teganya dia selama ini membalas ciuman itu hanya sebatas menyalurkan nafsu.

Andaikan Arjuna tahu, Najmi juga memiliki penyesalan dan rasa bersalah yang sama besarnya.

Ia tak seharusnya mengambil langkah ini sejak awal.

Sebagai mahasiswa Psikologi, harusnya ia yang paling tahu, menjalin hubungan dengan harapan bisa mengubah seseorang adalah visi yang salah.

Tapi ia terlalu dibutakan oleh cinta. Ia tak berpikir panjang.

Ia tak seharusnya egois dengan perasaannya, dan membuat Arjuna merasa menjadi orang jahat karena tak membalas perasaannya.

Padahal ia yang telah mengingkari janji, bahwa tidak akan ada ikatan perasaan di antara keduanya.

Kini tak akan ada lagi Arjuna dengan setumpuk kertas HVS di tangannya, yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tengah malam, menggerutu, “Gue numpang ngerjain laporan di sini, ya. Banyak banget anjir, kalau di kamar sepi, gue takut ketiduran.”

Tak akan ada lagi Arjuna yang mengeluhkan jok baru motornya yang terlalu licin, sehingga pria itu sering melorot ke arahnya saat sedang membonceng.

Meskipun setelah ini mereka masih berteman seperti biasa.

Najmi yakin, Arjuna akan membatasi diri. Lelaki itu tak mau menabur pupuk pada perasaannya yang bahkan sudah terlanjur tumbuh subur.

Setelah ini, ia akan kehilangan Arjunanya.

ㅤ Najmi menjauhkan wajahnya, melepaskan ciumannya.

Sejenak Arjuna merasa hampa. Jauh di lubuk hatinya, sejujurnya ia tak rela ciuman mereka harus berakhir.

ㅤ Keduanya saling menatap mata merah satu sama lain.

“Arjuna, happy birthday.”

Arjuna tersenyum manis, matanya lagi-lagi mengeluarkan cairan bening.

Setidaknya, di ulang tahunnya hari ini, ia mendapat hadiah berharga. Pelajaran bagaimana rasanya dicintai.

Ia berharap, di ulang tahun selanjutnya, ia sudah belajar, bagaimana caranya mencintai.

Ibu jari Najmi terulur untuk menyapu air mata yang mengalir di pipinya.

ㅤ “Sorry, I love you.

Makasih, Nana.” ㅤ

“Jadi gitu ceritanya.” Zendra menutup penjelasan panjang lebarnya perihal kronologi Leo yang mengetahui hubungan mereka.

Kini keduanya sedang duduk bersila, saling berhadapan di atas ranjang kamar Zendra.

Di depannya, Zidan tampak sibuk menggulirkan layar ponsel yang menunjukkan percakapannya bersama Leo sore tadi.

“Ohhh,” tutur Zidan. Matanya masih fokus pada gelembung-gelembung pesan di hadapannya.

Oh itu artinya oh paham atau oh marah?” tanya Zendra penuh hati-hati.

Pertanyaan itu membuat Zidan menurunkan ponsel kekasihnya. Kepalanya terangkat untuk menatap manik mata Zendra.

“Oh… yaudah?” jawab Zidan santai sebelum ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menggulingkan tubuhnya miring memunggungi Zendra.

“Yaudah sih Bang, santai aja. Nggak apa-apa,” lanjutnya sambil memejamkan mata.

ㅤ Zendra menghembuskan napas lega, lalu menyusul untuk ikut berbaring di samping pacar jangkungnya itu.

Tangan kirinya terulur untuk memeluk erat pinggang Zidan dari belakang.

Dagunya sudah bertengger nyaman di antara leher dan bahu bidang kekasihnya. Tempat favoritnya, di mana ia bisa mencium harum white musk khas Zidan yang selalu menjadi candu baginya.

“Ji, gue sayang banget sama lo. Sayaaaanggg bangeeet.”

Zidan terkekeh geli mendengar pengakuan dari Zendra.

“Tiba-tiba banget?”

“Enggak tiba-tiba tuh, gue sayang, gue mikirin lo tiap hari, tiap detik bahkan, tapi nggak mungkin juga ‘kan, gue ngomong gitu tiap detik?”

Zidan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Zendra.

Ia menurunkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan dada bidang kekasihnya, untuk kemudian menjatuhkan kepalanya di sana. Tangannya memeluk erat tubuh Zendra.

Bak menerima sinyal cinta, lengan kanan Zendra secara otomatis bergerak untuk merengkuh tubuh Zidan, sedang tangan kirinya semakin mesra, intim melingkar di pinggang Zidan.

“Kangen.”

Satu kata dari pujaan hatinya, sukses meningkatkan ritme detak jantung Zendra.

“Hahaha. Kan tiap hari juga kita ketemu, Ji?” Zendra hanya basa-basi, ia tahu persis apa yang dirasakan Zidan.

“Eunggg…. Kangen…” Zidan mengulang perkataannya dengan nada yang berpuluh kali lipat lebih manja. Kepalanya menggeleng-geleng gemas di atas dada Zendra yang sedang naik turun karena tertawa pelan.

Tangan kiri Zendra menggenggam telapak Zidan yang sedang memeluknya. Dilayangkannya ribuan kecupan kupu-kupu pada punggung tangan dan jemari lentik kekasihnya itu.

“Mas, adek malem ini boleh tidur sini?”

Kecupannya turun, beralih pada pelipis Zidan. Diciumnya lembut dan dalam penuh kasih sayang.

Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini semenjak seluruh penghuni kos kembali.

Jangan bahas soal aktivitas panas mereka di homestay beberapa waktu lalu.

Rasanya, berbeda.

“Ya boleh dong, Sayang. Malahan, sekarang udah bebas. Kan Leo udah tau juga, jadi kamu nggak perlu ngendap-ngendap lagi kalau di sini.”

Ternyata, ada untungnya juga.

Zidan tersenyum lebar, ia menengadahkan kepala untuk menatap Zendra.

“Minta cium,” rengeknya sambil memanyunkan bibirnya gemas.

Jangankan cium. Kalau Zendra bisa, Zidan minta seisi dunia pun bakal dikasih.

Chuuu~p

“Udah, ayo bobo.”

“Eungg… Lagi!”

Pipi Zendra rasanya mau sobek gara-gara kebanyakan senyum. Demi Tuhan, bayi besarnya tidak pernah semanja ini sebelumnya. Ini peristiwa langka, salah satu keajaiban dalam dunia Zendra yang tentu saja tak mau ia sia-siakan begitu saja.

Maka dari itu, Zendra mengubah posisi mereka. Ia rebahkan kepala Zidan di atas lengannya, guna memudahkan kegiatannya, menciumi setiap inci wajah Zidan sepanjang malam.

Deru halus mesin Xpander mengisi kekosongan di antara dua sejoli yang saling melempar hening. Mereka sudah tiba sejak tadi, namun tidak ada yang berinisiatif untuk turun dari mobil.

“Maaf ya Bang, padahal hubungan lo sama keluarga udah membaik, gue malah nambah-nambahin masalah baru,” ucap Zidan. Tangannya memilin ujung kemejanya gusar.

“Enggak Ji, udah gue bilang, mereka cuma kaget. Besok-besok pasti udah biasa aja, kok.”

Zendra mengulurkan tangan kirinya untuk menangkup dagu Zidan. Ibu jari dan telunjuknya menekan pipi pacarnya itu hingga bibirnya mengerucut lucu seperti ikan.

“Lagian siapa sih yang nggak mau punya mantu cakep dan baik kaya gini,” lanjutnya sambil terkekeh pelan.

Zidan memalingkan wajah ke arah jendela di sebelah kirinya, melepaskan tangan Zendra dari wajahnya, ia sama sekali tidak terhibur dengan perkataan kekasihnya itu dan mendengus kasar.

ㅤ “Tapi gue laki-laki.”

ㅤ Zendra mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Zidan.

“Justru karena laki-laki, gue suka,” bisik Zendra pelan tepat di sebelah telinga Zidan.

ㅤ Ia tersenyum lega saat akhirnya melihat semburat merah muda pada pipi dan lengkungan naik dari sudut bibir Zidan yang masih menatap ke luar jendela.

sniff sniff

Zendra menghirup dalam aroma di sekitar leher pacarnya. “Ganti parfum, ya?”

Yang ditanya akhirnya menoleh dan mengangguk pelan. “Iya. Nggak suka, ya?”

Zendra memberikan kecupan singkat pada leher Zidan, lalu mengeluarkan jurus senyum bulan sabit andalannya sebelum menjawab, “Suka kok, enak.”

Entah enak yang dimaksud Zendra adalah wangi parfum baru, atau leher jenjang Zidan.

Ia lantas memberikan kecupan bertubi-tubi pada setiap inci ceruk leher kekasihnya.

ㅤ “Aaa~ Udah ah Bang, geli,” pinta Zidan.

Keduanya terkekeh sambil menatap mata satu sama lain.

Pandangan Zidan turun pada bibir ranum Zendra. Ibu jarinya terangkat untuk mengusap lembut bibir tersebut.

Terkadang ia heran, pacarnya itu adalah perokok aktif, namun bibirnya tetap indah merah muda, manis, bikin kecanduan.

“Jangan dipencet-pencet doang dong, cium,” goda Zendra menyadarkan Zidan dari lamunannya.

ㅤ Zidan pun menuruti permintaan pacarnya, ia memiringkan wajahnya, mempersempit jarak di antara keduanya dan mempertemukan bibir mereka.

Bibir penuh Zidan yang pertama kali membuka untuk melumat bibir Zendra, yang tentu saja dibalas dengan senang hati.

Keduanya saling menyesap bibir satu sama lain.

Namun hari ini agaknya terlalu berbeda. Mereka terbiasa menyalurkan kasih sayang dengan ciuman yang hangat dan manis.

Hari ini ciuman mereka panas dan memabukkan.

Lenguhan-lenguhan kecil acapkali terdengar di sela-sela ciuman keduanya.

Punggung Zendra mulai pegal karena posisi duduknya yang tidak menguntungkan. Namun ia tidak bisa melepaskan pagutan bibirnya dan kekasihnya.

Bukan hanya Zidan yang kecanduan, Zendra juga.

Tangannya pada tengkuk Zidan turun untuk meraih kait seat belt.

Klik

Dengan sekali tekan, tubuh Zidan sudah terbebas dari lindungan sabuk pengaman.

Zendra pun meraih pinggang Zidan, menariknya mengisyaratkan untuk duduk di atas pangkuannya.

Posisi yang semakin nyaman dan intim, membuat keduanya semakin hilang kendali.

Bukan hanya mencumbu bibir satu sama lain, mereka melesakkan dan saling melilitkan lidah. Bunyi kecipak basah memenuhi seisi mobil.

Pagutan keduanya terlepas, ciuman Zendra turun pada leher Zidan.

Dalam sekali jilatan, ia menyapu sepanjang selangka hingga ke daun telinga Zidan dengan lidahnya.

“Ngghhhhh…”

Lenguhan itu. Lenguhan Zidan yang seksi itu, adalah kesukaan Zendra mulai saat ini. Ia ingin mendengar lebih. Ia harus melakukan lebih.

Tangan kanannya menggapai kancing kemeja Zidan untuk dibukanya satu persatu. Sedang tangan kirinya menggenggam pinggul Zidan yang sedang maju mundur di atas pangkuannya.

“Ahh…” Zendra juga tidak kuat menahan desahannya. Kepalanya mendongak ke atas saat merasakan penisnya bergesekan dengan milik Zidan yang masih terbalut celana.

Zendra kembali memfokuskan pandangannya pada tubuh yang ada di hadapannya saat seluruh kancingnya sudah berhasil terlepas.

Mata sayunya menggelap, tubuh kekasihnya sangat indah.

Pandangannya tertuju pada puting coklat muda yang mencuat minta dihisap.

Ia mendekatkan wajahnya pada dada Zidan. Melahap puting tersebut seperti bayi kelaparan.

Dilumat, dijilat, dihisap. Tubuh Zidan menggelinjang keenakan. Dadanya membusung. Tangan kirinya mencengkram surai Zendra, mendorongnya untuk mencumbunya lebih dalam.

TIINNNNN!!!!

Keduanya terlonjak kaget saat mendengar suara kencang klakson mobil.

Penyebabnya adalah Zidan.

Ia terlalu menikmati rangsangan dari pacarnya sampai-sampai punggungnya tidak sengaja membentur klakson mobil yang mereka tumpangi.

Efek kejut tadi sedikit mengembalikan kesadaran atas kontrol diri mereka.

Keduanya terkekeh menyadari kebodohan Zidan dan kondisi mereka yang sudah tidak karuan.

Zendra menggigit bibir bawahnya sembari menatap Zidan lekat. Telunjuknya mengelus-elus membentuk lingkaran pada puting kemerahan akibat perbuatannya barusan.

“Lanjut di dalem yuk, Ji?”


ㅤ ㅤ Sepasang kekasih tersebut sudah sama-sama bertelanjang dada di atas tempat tidur Zendra.

Zidan yang berada di bawah kukungan Zendra, menekan-nekan pelan selangkangan lelaki yang ada di atasnya menggunakan lutut kanannya.

Matanya merem melek merasakan segala stimulus yang diberikan pada sekujur tubuhnya. Mulai dari sentuhan telapak kekar dan hangat Zendra pada dadanya, hingga jilatan sensual yang membasahi abdomennya.

Jilatan Zendra perlahan turun, menuju gundukan yang ada di balik celana jeansnya.

Zendra menaikkan tubuhnya agar bisa bertatapan dengan Zidan.

“Boleh?” tanyanya lembut. Zidan hanya menjawab dengan. anggukan. Tentu saja boleh.

Ia kembali menurunkan tubuhnya, kedua tangannya dengan telaten membuka zipper celana Zidan, melepasnya hingga hanya tersisa celana dalam yang sedikit basah akibat cairan pre-cum.

Diliriknya kekasihnya sekali lagi, wajahnya merah padam, entah karena malu atau karena nafsu. Zendra pun sulit menafsirkannya.

Zendra meneguk ludahnya sebelum menggapai karet celana dalam Zidan. Ditariknya sisa kain terakhir dari tubuh pacarnya itu.

Penis Zidan sudah mengacung sempurna. Zendra merasakan bagian bawahnya semakin sesak, meminta untuk dibebaskan juga.

Ia mengecup paha Zidan sebelum mendekatkan wajahnya pada buah zakar yang tengah mengembang. Deru napasnya dapat dirasakan oleh Zidan.

Selama beberapa detik, tetap hanya deru napasnya yang terasa.

Zidan yang kebingungan, melirik Zendra di bawah sana sedang memejamkan matanya dan mengatur tempo napasnya.

Pacarnya itu malah bangkit dan mencium keningnya dalam.

“Maaf, gue nggak bisa.” Zendra berucap lembut.

“Kenapa? Ada yang salah sama badan gue?” Zidan bertanya setengah menangis. Kurang ajar, udah bikin anak orang sange mampus, tapi nggak mau tanggung jawab.

“Ssshhhh no, nggak gitu, Sayang,” jawab Zendra kemudian memberikan kecupan pada pipi Zidan. “Kita nggak ada persiapan apa-apa. Aku bahkan nggak punya kondom, apalagi lubricant.”

Zendra menatap wajah pacarnya cemas, ia juga sulit menahan nafsunya, tapi ia tidak mau membahayakan orang yang ia sayang.

“Mas…”

Sial, panggilan itu.

Zendra memejamkan matanya, berusaha untuk tidak melihat mata Zidan yang menatapnya berkaca-kaca.

“Nggak usah pakai itu aja nggak bisa?”

Ia menggeleng tegas. Tangan kanannya mengusap peluh di pelipis Zidan.

“Nanti sakit. Mas nggak mau adek sakit.”

Zidan menggigit bibirnya kuat untuk menahan tangisnya. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, berusaha menenggelamkan wajahnya ke bantal, air matanya keluar tanpa permisi.

Zendra yang melihat itu merasa bersalah, ia kemudian menangkup wajah Zidan untuk menghadap ke arahnya.

“Yaudah, adek tahan sebentar ya, mas mau ngeloot di kamar Arjun dulu. Biasanya kamarnya nggak dikunci.”

Demi pacar, Zendra rela jadi maling dadakan.


ㅤ ㅤ Zendra sempat meremehkan kejantanan Arjuna. Ia khawatir ukuran kondom tetangga kosnya itu tidak sesuai dengan miliknya, dan juga milik pacarnya. Kepunyaan pacarnya itu, setelah ia lihat tadi, meskipun tidak sebesar miliknya, namun ukurannya sedikit lebih panjang.

Tapi untungnya, ukuran Arjuna setara dengan mereka.

Seluruh persiapan tempur sudah terpasang, amunisi pelumas juga sudah di tangan.

Zendra mengecup bibir Zidan dalam. “Maaf ya Sayang, udah dibikin nunggu lama.”

Zidan hanya diam, ia masih kesal. Entah mengapa jiwanya menjadi lembek saat berada di bawah kukungan Zendra.

ㅤ “Adek lebih suka gimana? Mau jadi yang di atas atau di bawah?” tanya Zendra sembari membelai rambut Zidan yang lebih gondrong dari biasanya.

Zendra tak mendapatkan jawaban apapun. Ia paham, pacarnya itu masih belum tahu.

Mereka pernah mengobrol tentang hal ini. Zidan belum pernah berhubungan seksual.

Ini adalah kali pertamanya.

Sebagai yang lebih berpengalaman, Zendra harus memberikan solusi.

“Gimana kalau mas coba masukin adek dulu? Kalau adek nggak nyaman, nanti kita bisa gantian.”

Setelah mendapat persetujuan, Zendra melebarkan paha Zidan, menunjukkan lubang analnya yang masih sempit.

Ia mengusap lubang itu pelan, sekadar menyapa menggunakan ibu jarinya.

Zidan mendesis geli, Zendra tertawa. Gemes, batinnya.

Zendra melumuri jarinya dengan lubricant. Satu jarinya perlahan masuk pada lubang anal Zidan. Memaju mundurkan jarinya di sana.

Zidan tidak merasakan sakit, hanya sedikit dingin dan mengganjal pada lubang analnya.

“Mas boleh kok tambahin jarinya, adek nggak apa-apa.”

Zendra pun menyusulkan jari tengahnya memasuki lubang Zidan. Kali ini Zidan lumayan merasakan perih, namun juga nikmat di saat bersamaan ketika jemari tebal Zendra menyentuh prostatnya.

Zendra betul-betul mempersiapkan Zidan. Jarinya menggunting di dalam sana, berusaha melebarkan lubang analnya agar tidak terlalu sakit saat ia setubuhi pertama kali nanti.

Setelah selesai dengan jari ketiga, barulah Zendra merasa cukup untuk masuk ke bagian inti.

Tangan kirinya terangkat untuk menggenggam tangan kanan Zidan.

Ia mencium kening, mata, hidung, pipi, dan bibir Zidan.

“Mas masukin ya, Dek.”

“Ngangkang yang lebar ya Sayang, nanti kalau sakit bilang,” titah Zendra.

Yang dipanggil Dek hanya mengangguk pasrah.

Zendra mengocok sebentar penisnya yang licin oleh lubricant. Ia mengarahkan kejantanannya pada lubang Zidan.

Kepala penisnya sudah masuk. Ia merasakan genggaman Zidan pada tangannya mengerat.

Are u okay?”

I’m okay, lanjutin aja.”

Zendra kembali memasukkan seluruh batang penisnya perlahan-lahan. Meskipun sudah dipersiapkan sedemikian rupa, lubang perawan tetap berbeda. Penisnya tidak pernah dijepit seketat ini.

Ia menciumi bibir Zidan, berusaha mengalihkan dari rasa sakit saat penisnya sudah masuk sepenuhnya. Ia mendiamkannya di sana sejenak sampai Zidan lebih rileks dan terbiasa.

“Mas mulai genjot ya, Sayang.”

Zendra mulai memaju mundurkan penisnya di lubang Zidan dengan sangat berhati-hati.

“Ahhh… Mas, ahhhh…”

Desahan Zidan selalu membuat libidonya meningkat, apalagi dilihatnya pacarnya itu sedang memelintir putingnya sendiri.

Ingin rasanya ia menggempur Zidan habis-habisan, tapi ia bahkan tidak memikirkan kenikmatannya sendiri. Ia hanya fokus menyenangkan kekasihnya, berusaha tidak membuatnya terluka.

Karenanya, ia menjaga tempo genjotannya agar tidak terlalu kasar.

S-stoph…” Zidan berucap lirih.

Zendra yang mendengar itu langsung menghentikan pergerakannya.

Saat ia berniat melepaskan penisnya dari lubang Zidan, pinggulnya justru ditarik, menyebabkan penisnya melesak masuk lebih dalam.

Zidan sedikit mengangkat kepalanya, mempertemukan hidung mancung keduanya. Ibu jari kirinya mengusap halus alis Zendra.

Ia berucap lembut, “Jangan ditahan, Mas.”

“Kita kan ngelakuinnya berdua, masa cuma adek yang keenakan.”

Zendra mencium telapak tangan yang menangkup wajahnya. Ia tersenyum senang. Bukan senang karena ia bisa leluasa menggenjot Zidan, tapi ia senang dianugerahi pacar yang sangat pengertian.

Zendra pun menegakkan tubuhnya, ditekuknya kaki Zidan hingga menempel di dada. Membuat lubangnya semakin jelas terekspos.

Ia kembali menggenjot seperti tempo awal. Pelan-pelan… Namun lama-kelamaan semakin kencang.

Ia menghentak-hentakkan penisnya kuat dan dalam.

Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan kalimat pujian kepada sang pujaan.

Suara erangan serta desahan memenuhi kamar Zendra. Mereka bahkan sudah tidak peduli apabila ada orang lain yang menangkap basah perbuatan mereka.

“Ngghh aahhh…”

Bibir merah Zidan yang sedikit terbuka terlihat sangat menggairahkan di mata Zendra.

Ia pun memasukkan dua jarinya ke sana, Zidan mengulum jemari tersebut dengan semangat, seperti mendapatkan es krim di musim panas.

Jarinya menekan-nekan lidah Zidan, hingga air liur mengalir dari sudut bibir.

Pemandangan ini membuat penisnya semakin mengembung.

Dilepaskannya jemarinya dari mulut Zidan, tangannya turun untuk mengocok penis panjang pacarnya tersebut.

“Mmmh-mas… Adek mau keluar nghhhh…” Air matanya mengalir membasahi pipi, Zidan punya kebiasaan menangis apabila terlalu emosional, baik karena perasaan senang ataupun sedih.

ㅤ Zendra dapat merasakan penis yang ada di genggamannya bergetar mengeluarkan cairan kental. Dada Zidan kembang kempis, tubuhnya bergelonjang.

Setelah berdiam sejenak untuk memberi waktu Zidan menikmati pelepasannya, ia kembali menumbuk lubang anal kesayangannya dalam, berusaha mendapatkan pelepasannya juga.

Pada hentakan ke delapan, ia mengeluarkan penisnya dari lubang Zidan saat dirasa ejakulasinya sudah di ujung tanduk.

“Nghhh ahhhhh…” Lenguhan panjang menggema di penjuru dinding kamar.

Dengkul Zendra lemas saat cairan kental keluar memenuhi ujung kondomnya.

Tubuhnya ambruk di pelukan kekasihnya, kepalanya bersandar di dada Zidan.

Kepalanya mendongak ke atas, dikecupnya rahang tegas Zidan. “Makasih ya, Sayang.”

Kemudian ia bangkit untuk membereskan sisa pelepasannya dan juga Zidan.


ㅤ ㅤ Zendra mendekap Zidan yang berbaring di lengannya. Keduanya saling memeluk satu sama lain di balik selimut tebal, masih telanjang bulat.

“Adek kapan-kapan mau cobain di atas juga, nggak?” tanya Zendra. Sepertinya ia serius soal agenda eskplorasinya dulu.

Zidan mengeratkan pelukannya. Ia menggeleng pelan, menenggelamkan kepalanya pada bahu Zendra.

“Adek udah nyaman kaya gini. Mentang-mentang badan adek gede, terus adek macho, selama ini orang-orang berekspektasi kalau adek yang di atas. Padahal nggak harus begitu, kan?” oceh Zidan mengerucutkan bibirnya gemas.

Zendra tertawa renyah.

“Iya Sayang, it’s just sex position, kok,” jawabnya dengan senyum, kemudian mencium kening Zidan.

. .

Mereka masih terjaga, saling diam memeluk satu sama lain. Hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar.

“Mas…” Zidan memecah keheningan.

“Hm?”

“Adek udah bilang, jangan ditahan…”

Zendra terkejut, ia berdehem sebelum memiringkan tubuhnya bertumpu pada sikunya untuk menghadap ke arah Zidan.

“Emang boleh nambah?”

Sontak Zendra menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka setelah mendapat jawaban berupa anggukan.

Bersiap untuk ronde kedua.


Pemerintah harus menjadikan gue duta kondom nggak, sih?

✨Penggunaan pelumas sangat penting ya, Sahabat. Diusahakan gunakan yang sillicone base, karena kalau bahan dasar air lebih cepet kering, kalau nggak sering re-apply berpotensi melukai lubang senggama kalian. Pakai air liur juga sebaiknya dihindari karena dia cepet kering, bisa menularkan PMS/IMS, beberapa sumber juga mengatakan air liur bisa menurunkan kualitas kondom.✨

Pesan moral yang dapat diambil dari part ini adalah, TITIT BOT NGGAK MELULU MUNGIL DAN BOT NGGAK MELULU KEMAYU!

Sekian khamsahaeyo ✨privatter sebagai sarana edukasi (kali ini bikin sange dikit lah tp gpp bonus), semoga bermanfaat✨

Hanya suara denting pergesekan sendok dan piring yang terdengar di ruang makan keluarga Zendra. Sang ayah yang duduk memimpin di sisi kanan meja makan, bunda dan kakaknya duduk di hadapannya, serta tamu spesial yang duduk dengan kikuk di sampingnya.

“Nak Zidan ada kegiatan apa di kampus? Kok enggak pulang ke rumah?”

Ini adalah screening pertama dari nyonya rumah. Semenjak tiba sore tadi, Zidan hanya bertegur sapa seadanya dengan keluarga kekasihnya. Sebelum makan malam pun, ia justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan ketiga kucing Zendra dibanding dengan ketiga anggota keluarga yang tinggal di rumah ini. Bukannya tidak ingin melakukan pendekatan, namun setelah ia memasukkan barang-barang di kamar tamu, keadaan rumah mendadak jadi sepi. Kata Zendra, keluarganya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di kamar masing-masing.

“Saya lagi ikut volunteer Tante, buat ngisi liburan,” jawab Zidan sambil tersenyum. Ia mencoba membaca ekspresi dua wanita di hadapannya, juga pria paruh baya yang ada di sebelah kanannya, hanya anggukan kecil yang tertangkap oleh matanya.

Jantungnya berdegup cepat karena grogi, ia tidak menyangka bahwa suasananya akan secanggung ini. Zidan melirik ke arah pacarnya, berupaya mencari sedikit ketenangan di sana. Namun yang ia dapati malah jantungnya yang berdegup dua kali lebih kencang.

Zidan dapat melihat dengan jelas, pupil mata Zendra yang bergerak gelisah sama seperti dirinya, atau malah lebih dari itu. Ia mulai mempertanyakan banyak hal.

Apakah dirinya menganggu kenyamanan keluarga Zendra?

Apakah keluarga Zendra tidak menyukainya?

Apakah ia terlihat tidak pantas bersanding dengan putra bungsu mereka?

Apakah ia nampak bodoh dan lemah?

Ia mengenakan pakaian terbaiknya untuk mengunjungi kediaman pujaan hati, ia juga selalu menjadi anak yang menjunjung tinggi sopan santun di manapun dan kapanpun. ㅤ

Apa yang salah dari dirinya? ㅤ ㅤ

“Kami nggak tau kalau kamu suka laki-laki. Kayanya waktu SMA semua pacarmu perempuan.” Sang kakak yang sedari tadi nampak tak acuh akhirnya angkat bicara.

Zidan menghentikan pergerakan pada sendoknya. Kepalanya menunduk menatap nasi di piringnya. Ia bahkan tidak berani mencuri pandang pada wajah manapun yang ada di meja makan ini, bahkan tidak kepada kekasihnya yang kini menggenggam pahanya posesif.

Seluruh pertanyaannya terjawab sekarang, bukan penampilannya atau sikapnya yang menyebabkan kecanggungan di rumah ini.

Melainkan karena anak laki-laki keluarga ini, mencintai yang juga laki-laki.

Kepalanya terangkat ke atas untuk menengok teman minumnya yang sedang berbaring di tempat tidur yang ada di sampingnya. Hugo masih tertidur lelap, biasanya ia akan tidur di kasur bawah, namun pengecualian untuk tadi malam. Zidan membaringkan Hugo di atas tempat tidur dan merebahkan dirinya sendiri di kasur bawah.

Zidan bangkit mendudukkan diri, memijit pelan pelipisnya. Dunianya masih terasa sedikit berputar akibat efek alkohol semalam. Ia melirik jam digital di atas nakasnya yang menunjukkan angka 6.30 AM. Padahal mereka melanjutkan kegiatan minum-minum sampai pukul tiga, tapi Zidan sudah terbangun sepagi ini.

Zidan menghembuskan napasnya pelan, ada kelas yang harus dihadirinya nanti. Ia pun berdiri melangkahkan kakinya ke dapur, berencana untuk memasak mie kuah pedas, hitung-hitung sebagai pereda pengar.


Saat langkahnya memasuki dapur, Zidan langsung disuguhi pemandangan seorang lelaki berpakaian serba hitam yang terlihat kontras dengan kulit putihnya, sedang berdiri di depan dispenser meneguk air tergesa. Dari samping, terlihat jelas bagaimana hidung pria tampan itu terpahat mancung sempurna, tampak sedikit peluh menempel di keningnya serta napasnya yang terengah-engah, menandakan sosok tersebut baru saja kembali dari kegiatan bersepeda.

Zidan berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara.

Secara tiba-tiba, mencuri kecup pada pipi lelaki yang masih sibuk meneguk air putih.

“Selamat pagi, Mas Pacar.”

Zendra tersedak akibat perlakuan mendadak kekasihnya, sedang sang pencuri hanya tersenyum tanpa dosa.

“Bikin kaget aja, pagi-pagi cium-cium.” Zendra berlagak memasang wajah galak, namun gagal karena senyumnya yang tak bisa ia tahan.

“Itu ciuman buat bayar kemarin-kemarin gue lebih sering sama bang Hugo dari pada sama elu, Bang.”

Zendra mengangguk dan ber-oh ria, dari mimik mukanya tersirat sebuah ide cemerlang.

“Hmmm, kalau gitu satu lagi dong, kan gue cemburunya dua kali.” Ia menepuk-nepuk pipi kanannya dengan telunjuk dan mencondongkannya pada Zidan.

cuup~

Lagi-lagi Zendra terkejut, ia berniat jahil, namun malah ia yang merasa dijahili.

Bukannya mendaratkan kecup di pipinya, Zidan justru mencium bibirnya.

“Huhmmm~ Kayanya gue harus nyiapin amunisi cium banyak-banyak deh, pacar gue cemburuan soalnya,” ucap Zidan pura-pura menguap dan meregangkan tangannya, berlalu menuju kompor melewati Zendra, kembali pada tujuan awalnya untuk memasak mie kuah. Namun bukan lagi untuk pereda pengar, kesadarannya sudah kembali penuh saat ia mencium Zendra.

“Gue lagi neduh di Indomaret, otw balik kosan.” Sayup-sayup suara serak Zendra dari balik telepon tersamarkan oleh bunyi jatuhnya air hujan yang turun dengan deras.

Zidan duduk di sofa ruang tengah menggigiti buku-buku jemarinya diringi dengan kedua kaki yang tak henti-hentinya bergerak gelisah.

Sudah dua puluh menit sejak percakapan mereka di telepon berakhir, Zendra tak juga kunjung tiba. Zidan khawatir karena nampaknya Zendra kembali ke kos dalam kondisi emosi yang tidak stabil sampai-sampai ia kabur dari rumah.

‎ ㅤ Zidan melihat semburat cahaya putih memantul dari jendela depan yang ia yakini berasal dari motor Zendra yang memasuki halaman depan. Ia segera bangkit dari duduknya dan bergerak untuk membukakan pintu.

Mulai dari kepala, hoodie, hingga sepatu yang dikenakan Zendra basah kuyup. Ia tidak mengenakan jas hujan, hanya ranselnya saja yang terlindungi oleh mantel tas. Zidan teringat saat pertama kali tiba di kos ini, Zendra menyambutnya dalam kondisi yang hampir serupa, bedanya sekarang keadaannya berbalik.

“Bang, lo bersih-bersih badan dulu ya di kamar, gue bikinin teh anget,” ucap Zidan yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh lawan bicaranya.


Zidan memeras handuk dalam baskom air hangat untuk yang ketiga kali. Saat menghampiri Zendra untuk mengantarkan teh, ia mendapati suhu tubuh Zendra yang tinggi.

Ia meletakkan handuk kecil tersebut pada kening lelaki yang sedang terkulai lemas di tempat tidur, dilihatnya mata lelaki tersebut sudah terpejam dan napasnya mulai teratur. Zidan bangkit hendak kembali ke kamarnya sendiri, namun urung ketika pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang.

Zidan berbalik dan menatap mata Zendra yang setengah terbuka menatapnya melas. “Temenin gue di sini, please.” Hatinya terketuk untuk kemudian ia merangkak ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Zendra.

Zendra memiringkan tubuhnya ke kanan agar berhadapan dengan Zidan. Pergerakannya tersebut menyebabkan handuk kecil pada keningnya terlepas. Zidan mengulurkan tangannya hendak membenarkan posisi kompres agar kembali menempel dengan benar pada kening Zendra. Niatnya tersebut justru ditolak, tangannya malah diarahkan untuk membelai surai hitam milik pria yang sedang berbaring di hadapannya ini.

“Gue sedih.” Zendra berucap dengan nada yang lirih sembari berusaha membuka mata sepenuhnya.

“Ssttt… Sekarang yang penting tidur dulu ya, Bang? Besok kita ngobrol lagi, gue bakal tetep di sini, kok.” Zidan berucap lembut sembari ibu jarinya mengusap-usap pelipis Zendra.

Tangan Zendra terangkat untuk menggenggam lengan Zidan yang tengah mengelus-elusnya. Kepalanya menggeleng pelan, ia ingin curhat sekarang juga.

Zidan menghela napas. Ia mendekatkan diri ke arah Zendra dan mempersilakannya untuk tidur di atas dada Zidan.

“Kenapa sedih?” tanya Zidan lembut sekali, ia merasa Zendra menjadi lebih sensitif dibanding biasanya akibat kondisi fisiknya yang sedang lemah.

“Gue merasa jadi anak yang nggak berguna.” Telapak tangannya kini berlabuh pada perut Zidan dan mengetuknya pelan

“Kenapa?”

“Kakak gue, waktu seumuran gue udah sukses buka CV sendiri, udah mandiri sama bisnisnya. Kakak gue selalu lebih baik dalam segi apapun dibanding gue. Papa gue selalu bilang, gue anak cowok seharusnya bisa lebih baik dibanding kakak gue, nggak ada hari tanpa gue dibanding-bandingin dan ditekan buat mencapai ini itu.”

Zidan menyimak dengan seksama, masih dengan tangan kanannya yang mengusap kepala Zendra.

“Pasti berat ya, Bang?”

“Meskipun berat, gue masih berusaha buat menahan itu. Sejujurnya gue jenuh, hidup gue berasa dikejar-kejar. Sampai tadi gue denger sesuatu keluar dari mulut mama. Gue nggak sengaja denger pas mama lagi ngobrol sama tante gue.“

Zidan menatap lembut ke arah Zendra yang tengah mengambil jeda pada kalimatnya.

“Mama gue bilang, dia menyesal dan kecewa terhadap gue.” Terdengar isakan tertahan dari kalimat yang disampaikan Zendra. “Selama ini, gue bisa nahan diri atas perlakuan papa. Mama selalu gue anggep orang yang paling menyayangi gue. Denger mama bilang kaya gitu, gue merasa, nggak seharusnya terlahir di dunia ini.” Zidan tercekat, ia kemudian mempererat pelukannya, tangan kirinya kini menepuk-nepuk punggung Zendra.

“Keluarga besar gue punya standar yang tinggi dalam hidup. Bahkan kakek gue profesor, semua om tante gue sukses, sepupu-sepupu gue juga punya segudang prestasi. Lebay ya, kalau gue merasa tersisihkan dari keluarga sendiri?”

No… Nggak lebay kok, wajar kalau lo merasa sedih. Perasaan itu sulit kita kontrol. Lo udah kuat bisa bertahan selama ini, tumpahin semua sedihnya, nggak apa-apa, itu bukan sesuatu yang salah atau menjadikan lo orang lemah.” Zidan berucap pelan masih dengan tatapan lembutnya mengarah pada mata Zendra.

Ia mengerti sekarang, mengapa Zendra begitu ambisius akan urusan akademiknya, dan bahkan memforsir tubuhnya pada kegiatan di luar kepentingan akademik. Semata demi memenuhi hasrat bangga keluarganya.

Zendra semakin membenamkan kepalanya pada dada Zidan. “Makasih ya, Ji.”

“Buat?”

“Selama ini kalau gue cerita, semua orang bilang gue nggak bersyukur. Katanya itu cuma hal sepele, hidup gue masih jauh lebih baik dibanding mereka. Makasih karena lo nggak kaya gitu.” Zidan tersenyum mendengar ucapan Zendra, lelaki di pelukannya ini hanya butuh didengar.

“Gue juga minta maaf.” lanjut Zendra.

“Kok malah minta maaf?”

“Gue belum minta maaf yang masalah bikin lo nangis gara-gara gue marahin waktu ngerusakin router. Tanpa sadar, gue melampiaskan tekanan dari lingkungan gue ke elo. Gue minta maaf, Ji.”

It’s okay, gue paham kok. Lo pasti saat itu lagi banyak masalah.” Telunjuk Zidan menyapu sepanjang alis Zendra hingga ke pangkal hidung. “Makasih udah kuat menanggung beban itu selama ini. Lo udah bekerja keras, Bang. You’re doing great.”

Stimulasi pada sekitar matanya dan efek paracetamol yang diminum beberapa menit lalu, menyebabkan Zendra tak mampu membuka mata lebih lama, matanya terpejam perlahan. Buliran air mata jatuh bersamaan dengan tertutupnya kelopak mata. Ibu jari Zidan membelai pipi Zendra, menyeka air mata yang membasahi pipi.

Zidan tersenyum saat mendapati Zendra tertidur dengan menyunggingkan senyum.

Sore harinya penuh dengan lara. Setidaknya malam itu, ada seseorang yang membalut lukanya. Seseorang yang tidak mengomentari hidupnya. Seseorang yang berempati pada perasaannya. Seseorang yang memvalidasi rasa sedihnya. Seseorang yang berterima kasih atas kerja kerasnya. Seseorang yang meminjamkan bahunya untuk bersandar dan membekapnya dalam pelukan hangat.

Zidan berada di ambang kebimbangan. Ia menimbang-nimbang, apakah harus membangunkan Zendra yang tertidur pulas di pundaknya atau membiarkan keduanya tetap berada di posisi ini selama beberapa menit ke depan.

Urusan transaksinya dengan tukang tambal ban telah selesai beberapa menit lalu. Untungnya, bapak penambal ban pengertian, saat Zidan hendak bangkit untuk membayar jasa, si bapak dengan santainya berkata, “Sambil duduk aja Dek, kasihan itu pacarnya nanti kebangun.”

Zidan yang tak merasa perlu untuk mengklarifikasi kesalahpahaman hanya tersenyum sembari menyerahkan dua lembar uang dua puluh ribuan.

“Kembaliannya ambil saja, Pak.”

Setelah mengucapkan terima kasih, bapak penambal ban pergi meninggalkan dua anak adam yang kini duduk di anak tangga toko kelontong yang sudah tutup.

Zidan menengok jam di pergelangan tangan kirinya, jarum pendek dan panjang saling bertindih lurus menunjuk angka 12. Mau tidak mau ia harus membangunkan Zendra sebelum hari semakin larut.

Ia mengguncang pundak kirinya pelan, berusaha memberi kode pada Zendra untuk bangun. Namun, dekapan pada lengan kirinya justru mengerat. Bukannya mengangkat kepala, Zendra justru semakin melesakkan kepalanya ke ceruk leher Zidan.

“Kaya gini dulu. Sebentar aja.”

Vibrasi dari suara Zendra pada kulit lehernya membuatnya diam tak berkutik. Jakunnya naik turun, mengisyaratkan kegugupan sekaligus kata-katanya yang tertahan.

“Capek ya, Bang?” Kalimat itu akhirnya lolos juga.

“Iya, untung ada lo tadi, jadi bisa gue jadiin alesan buat kabur rapat.”

Zidan tertawa singkat sebelum melayangkan pertanyaan lanjutan dengan nada yang lebih rendah. “Uhmm, anything else?”

Kali ini Zendra yang tertawa. Ia cukup peka untuk menangkap situasi bahwa Zidan cemas atas kondisinya belakangan ini yang mirip seperti tanaman layu.

Bukannya ia tidak percaya dengan Zidan, namun ia tak ingin orang-orang di sekitarnya ikut memikul beban yang ada di pundaknya. Zidan juga paham tentang hal tersebut. Selama tinggal bersama, ia mendapati bahwa Zendra adalah yang paling tertutup dibandingkan penghuni kos yang lain. Dibanding dengan Hugo yang selalu memuntahkan segala keluh kesahnya pada setiap sudut rumah—bahkan jepitan jemuran pun akan tahu jika pagi ini Hugo tersandung kabel proyektor saat hendak presentasi—, Zendra justru menelan seluruh racunnya, larut dalam masalah dan pikirannya sendiri.

“Gue boleh pakai satu permintaan sekarang?” tanya Zidan menatap lekat pada Zendra. Kali ini ia sudah cukup rileks, bahunya tidak setegap barusan.

“Boleh. Apa?” Zendra menjawab tanpa mengubah posisinya. Matanya masih terpejam rapat.

“Lo wajib melaporkan satu cerita yang terjadi dalam hari lo. It doesn't have to be something big, it can be any smallest little thing. Boleh apapun, asal lo harus cerita ke gue. Setiap hari.”

Yang lebih tua mendongakkan kepala untuk menatap netra lelaki yang ada di sampingnya. Dagunya masih menempel pada pundak Zidan. Ia mengangguk disertai dengan sebuah senyuman lebar.

Mereka bertahan dalam posisi saling tatap tersebut dalam waktu yang cukup lama. Hingga Zidan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Zendra.

Saat jarak keduanya sudah begitu dekat, Zidan kembali menatap mata Zendra untuk meminta persetujuan. Yang ditatap hanya memejamkan mata, cukup menjadi sinyal bagi Zidan untuk melanjutkan aksinya yang tertunda.

Ia turut memejamkan mata dan semakin mempersempit jarak di antara keduanya.

Zendra dapat merasakan hangat dan basah bilah bibir Zidan yang mendarat pada keningnya. Dikecupnya dalam dahi Zendra selama beberapa detik, menyalurkan seluruh afeksi yang ada dalam dadanya.

Zidan menjauhkan wajahnya dan membuka mata perlahan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Zendra dengan bibir mengerucut sedang menatapnya pasrah. ㅤ

“Kirain mau di bibir.”

Zidan sontak bangkit dan melepaskan bahunya dari tubuh Zendra. “Dasar kufur nikmat!” ㅤ


Zidan memasuki halaman kos diikuti dengan Zendra yang berkendara di belakangnya. Belum selesai ia memarkirkan motornya, tampak Markus dan Hugo keluar dari pintu utama dengan raut cemas bak orangtua yang menanti kepulangan anaknya.

“Jidan jadinya disamperin Zendra?” tanya Hugo setengah heran.

“Itu mah si Zendra baru balik dari rapat kali, yang,” sahut Markus.

Zendra melepas helm dan langsung melangkah memasuki kos. “Iya nih, kebetulan aja tadi nyampe barengan.”

Dua sejoli itu hanya mengangguk-angguk penuh rasa percaya.