Hari ini sedih

“Gue lagi neduh di Indomaret, otw balik kosan.” Sayup-sayup suara serak Zendra dari balik telepon tersamarkan oleh bunyi jatuhnya air hujan yang turun dengan deras.

Zidan duduk di sofa ruang tengah menggigiti buku-buku jemarinya diringi dengan kedua kaki yang tak henti-hentinya bergerak gelisah.

Sudah dua puluh menit sejak percakapan mereka di telepon berakhir, Zendra tak juga kunjung tiba. Zidan khawatir karena nampaknya Zendra kembali ke kos dalam kondisi emosi yang tidak stabil sampai-sampai ia kabur dari rumah.

‎ ㅤ Zidan melihat semburat cahaya putih memantul dari jendela depan yang ia yakini berasal dari motor Zendra yang memasuki halaman depan. Ia segera bangkit dari duduknya dan bergerak untuk membukakan pintu.

Mulai dari kepala, hoodie, hingga sepatu yang dikenakan Zendra basah kuyup. Ia tidak mengenakan jas hujan, hanya ranselnya saja yang terlindungi oleh mantel tas. Zidan teringat saat pertama kali tiba di kos ini, Zendra menyambutnya dalam kondisi yang hampir serupa, bedanya sekarang keadaannya berbalik.

“Bang, lo bersih-bersih badan dulu ya di kamar, gue bikinin teh anget,” ucap Zidan yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh lawan bicaranya.


Zidan memeras handuk dalam baskom air hangat untuk yang ketiga kali. Saat menghampiri Zendra untuk mengantarkan teh, ia mendapati suhu tubuh Zendra yang tinggi.

Ia meletakkan handuk kecil tersebut pada kening lelaki yang sedang terkulai lemas di tempat tidur, dilihatnya mata lelaki tersebut sudah terpejam dan napasnya mulai teratur. Zidan bangkit hendak kembali ke kamarnya sendiri, namun urung ketika pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang.

Zidan berbalik dan menatap mata Zendra yang setengah terbuka menatapnya melas. “Temenin gue di sini, please.” Hatinya terketuk untuk kemudian ia merangkak ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Zendra.

Zendra memiringkan tubuhnya ke kanan agar berhadapan dengan Zidan. Pergerakannya tersebut menyebabkan handuk kecil pada keningnya terlepas. Zidan mengulurkan tangannya hendak membenarkan posisi kompres agar kembali menempel dengan benar pada kening Zendra. Niatnya tersebut justru ditolak, tangannya malah diarahkan untuk membelai surai hitam milik pria yang sedang berbaring di hadapannya ini.

“Gue sedih.” Zendra berucap dengan nada yang lirih sembari berusaha membuka mata sepenuhnya.

“Ssttt… Sekarang yang penting tidur dulu ya, Bang? Besok kita ngobrol lagi, gue bakal tetep di sini, kok.” Zidan berucap lembut sembari ibu jarinya mengusap-usap pelipis Zendra.

Tangan Zendra terangkat untuk menggenggam lengan Zidan yang tengah mengelus-elusnya. Kepalanya menggeleng pelan, ia ingin curhat sekarang juga.

Zidan menghela napas. Ia mendekatkan diri ke arah Zendra dan mempersilakannya untuk tidur di atas dada Zidan.

“Kenapa sedih?” tanya Zidan lembut sekali, ia merasa Zendra menjadi lebih sensitif dibanding biasanya akibat kondisi fisiknya yang sedang lemah.

“Gue merasa jadi anak yang nggak berguna.” Telapak tangannya kini berlabuh pada perut Zidan dan mengetuknya pelan

“Kenapa?”

“Kakak gue, waktu seumuran gue udah sukses buka CV sendiri, udah mandiri sama bisnisnya. Kakak gue selalu lebih baik dalam segi apapun dibanding gue. Papa gue selalu bilang, gue anak cowok seharusnya bisa lebih baik dibanding kakak gue, nggak ada hari tanpa gue dibanding-bandingin dan ditekan buat mencapai ini itu.”

Zidan menyimak dengan seksama, masih dengan tangan kanannya yang mengusap kepala Zendra.

“Pasti berat ya, Bang?”

“Meskipun berat, gue masih berusaha buat menahan itu. Sejujurnya gue jenuh, hidup gue berasa dikejar-kejar. Sampai tadi gue denger sesuatu keluar dari mulut mama. Gue nggak sengaja denger pas mama lagi ngobrol sama tante gue.“

Zidan menatap lembut ke arah Zendra yang tengah mengambil jeda pada kalimatnya.

“Mama gue bilang, dia menyesal dan kecewa terhadap gue.” Terdengar isakan tertahan dari kalimat yang disampaikan Zendra. “Selama ini, gue bisa nahan diri atas perlakuan papa. Mama selalu gue anggep orang yang paling menyayangi gue. Denger mama bilang kaya gitu, gue merasa, nggak seharusnya terlahir di dunia ini.” Zidan tercekat, ia kemudian mempererat pelukannya, tangan kirinya kini menepuk-nepuk punggung Zendra.

“Keluarga besar gue punya standar yang tinggi dalam hidup. Bahkan kakek gue profesor, semua om tante gue sukses, sepupu-sepupu gue juga punya segudang prestasi. Lebay ya, kalau gue merasa tersisihkan dari keluarga sendiri?”

No… Nggak lebay kok, wajar kalau lo merasa sedih. Perasaan itu sulit kita kontrol. Lo udah kuat bisa bertahan selama ini, tumpahin semua sedihnya, nggak apa-apa, itu bukan sesuatu yang salah atau menjadikan lo orang lemah.” Zidan berucap pelan masih dengan tatapan lembutnya mengarah pada mata Zendra.

Ia mengerti sekarang, mengapa Zendra begitu ambisius akan urusan akademiknya, dan bahkan memforsir tubuhnya pada kegiatan di luar kepentingan akademik. Semata demi memenuhi hasrat bangga keluarganya.

Zendra semakin membenamkan kepalanya pada dada Zidan. “Makasih ya, Ji.”

“Buat?”

“Selama ini kalau gue cerita, semua orang bilang gue nggak bersyukur. Katanya itu cuma hal sepele, hidup gue masih jauh lebih baik dibanding mereka. Makasih karena lo nggak kaya gitu.” Zidan tersenyum mendengar ucapan Zendra, lelaki di pelukannya ini hanya butuh didengar.

“Gue juga minta maaf.” lanjut Zendra.

“Kok malah minta maaf?”

“Gue belum minta maaf yang masalah bikin lo nangis gara-gara gue marahin waktu ngerusakin router. Tanpa sadar, gue melampiaskan tekanan dari lingkungan gue ke elo. Gue minta maaf, Ji.”

It’s okay, gue paham kok. Lo pasti saat itu lagi banyak masalah.” Telunjuk Zidan menyapu sepanjang alis Zendra hingga ke pangkal hidung. “Makasih udah kuat menanggung beban itu selama ini. Lo udah bekerja keras, Bang. You’re doing great.”

Stimulasi pada sekitar matanya dan efek paracetamol yang diminum beberapa menit lalu, menyebabkan Zendra tak mampu membuka mata lebih lama, matanya terpejam perlahan. Buliran air mata jatuh bersamaan dengan tertutupnya kelopak mata. Ibu jari Zidan membelai pipi Zendra, menyeka air mata yang membasahi pipi.

Zidan tersenyum saat mendapati Zendra tertidur dengan menyunggingkan senyum.

Sore harinya penuh dengan lara. Setidaknya malam itu, ada seseorang yang membalut lukanya. Seseorang yang tidak mengomentari hidupnya. Seseorang yang berempati pada perasaannya. Seseorang yang memvalidasi rasa sedihnya. Seseorang yang berterima kasih atas kerja kerasnya. Seseorang yang meminjamkan bahunya untuk bersandar dan membekapnya dalam pelukan hangat.