circadiansins

“FWB-an yuk, Jun?”

Saat Najmi menerima pesan dari Zidan bahwa ia diminta untuk pulang lebih dulu, sebenarnya ia sudah nangkring di atas motornya di parkiran samping FMIPA.

Selepas melayangkan beberapa kalimat godaan kepada adik kosnya yang paling muda tersebut, ia mendongakkan kepala.

Di seberang sana, menjulang gedung lima lantai dengan papan besi bertuliskan Ged. E Program Studi Ilmu Teknologi Pangan, Program Studi Agribisnis, Program Studi Kehutanan. Gedung ini adalah gedung yang paling baru dibangun di pojok kanan wilayah Fakultas Pertanian.

Fakultasnya—FK—, FMIPA, dan FP memang masih dalam satu rumpun, berjejer di bagian sayap kiri universitas. Para mahasiswa menyebut jalanan area ini sebagai Jalur Saintek. Jalur yang paling dihindari untuk dilintasi pada malam hari, karena rumornya, di sana terdapat kerajaan setan, tempat para bos besar hantu-hantu universitas bersarang.

Orang-orang lebih memilih jalan memutar dan memakan jarak lebih jauh dibanding harus melewati area ini pada malam hari, yang padahal adalah jalur tercepat menuju gerbang depan—saat malam hari, akses keluar masuk hanya bisa melalui gerbang depan—.

Karena fakultas yang berdekatan, maka dari itu Najmi, Zidan, dan Arjuna sering menebeng satu sama lain. Maka dari itu pula, Najmi berinisiatif hendak mengajak Arjuna pulang bersama, sebab menurut spekulasinya, Zidan mengkhianatinya dan pergi berkencan. Jok belakangnya perlu diisi.

Ia mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Hanya berselang sekian detik, ponselnya berdenting tanda notifikasi.

”Di shelter”

Setelah membaca pop up tanpa membuka pesan, Najmi langsung menyalakan motornya dan mengarahkannya ke parkiran basement Gedung E FP. ㅤ

ㅤ Ia turun dari motor dan mulai berjalan memasuki pemukiman Fakultas Pertanian.

Meskipun bukan wilayah teritorinya, ia sudah sangat hafal dengan tata letak bagian kampus ini. Ia terus berjalan dengan santai walaupun sempat bertubrukan dengan seorang mahasiswa yang terlihat setengah berlari tergesa mengenakan jas lab. Sepertinya orang ini terlambat praktikum.

Najmi mengedarkan pandangannya saat tiba di Public Space. Tempat ini cukup ramai akan mahasiswa karena letaknya berada di kawasan sekre HMP dan UKM, juga jalan menuju kantin.

Meja batu tersebar di banyak titik, terlihat beberapa orang duduk di sana, sibuk dengan kegiatannya masing-masing, namun ia tak kunjung menemukan batang hidung Arjuna.

Ia mengambil beberapa langkah besar ke depan dan matanya menangkap sosok yang sedari tadi ia cari sedang duduk di meja panjang gazebo samping lapangan basket, dengan earphone tersemat di telinga.

Ia menghampiri Arjuna dan duduk di depannya. Arjuna hanya melirik sekilas pada Najmi yang tengah duduk dengan bertopang dagu pada kedua telapak tangannya.

Keduanya hanya saling diam, Najmi fokus mengamati Arjuna yang tengah menggambar berbagai macam batang-batangan pada setumpuk kertas HVS A4.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, segerombolan orang mengerjakan hal yang sama dengan yang dikerjakan Arjuna. Ia menyimpulkan bahwa orang-orang ini adalah teman seangkatan Arjuna.

”Yang ini pacar aslinya bukan, sih? Soalnya yang paling sering keliatan barengan.”

”Kasian banget kalo iya, cowonya kegatelan nempel sana sini.”

”Kemarin baru lagi tau, cowo tinggi kayanya maba fakultas sebelah wkwk bisaan dia nyari mangsa yang masih polos.”

Najmi hanya bergeming mendengar bisikan-bisikan—yang sebenarnya terlalu keras jika disebut bisikan— dari telinga kanannya. Bukannya ia menerima ucapan tidak sopan tersebut, namun Arjuna bilang, ia harus bersikap biasa saja.

Pernah suatu ketika, saat ia menjemput Arjuna dari kegiatan kerja kelompok di kafe, untuk pertama kalinya ia mendengar celotehan sejenis dari mulut teman-teman Arjuna. Ia hampir lepas kendali jika saja Arjuna tidak menahannya.

“Mereka bener, kok.” Kalimat tersebut yang terlontar dari mulut Arjuna kala itu, membuat hati Najmi sakit bukan main.

ㅤ Memang benar jika Arjuna memiliki banyak teman laki-laki, namun orang lain tidak berhak menghakiminya seperti itu.

Sebut Najmi bias, namun pandangannya tidak merendah sedikitpun pada Arjuna. Terlebih karena ia sedikit banyak tahu penyebab munculnya sisi Arjuna yang satu itu.

Meskipun sering mencela satu sama lain, bonding antar penghuni Kos Bu Pepeng eratnya bukan main. Malam itu, dalam rangka merayakan berakhirnya pekan UAS, seluruh penghuni kos berkumpul di ruang tengah untuk minum bersama, berujung Arjuna yang berkisah tentang hidupnya.

Arjuna terlahir di keluarga yang kaya, sangat kaya bahkan. Ia anak tunggal dengan orangtua yang sibuk bekerja. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan bersama teman sekolah dan tetangganya yang sebaya. Namun Arjuna tidak pernah benar-benar memiliki teman.

Arjuna termasuk anak berprestasi di sekolahnya, namun prestasinya tidak pernah diapresiasi oleh teman-temannya karena semua orang menganggap itu hasil dari kekuatan uang.

Di sekolah, tidak banyak yang mau berteman dengannya karena rasa dengki. Beberapa hanya datang untuk memanfaatkan otak pintarnya untuk mencontek PR bahkan mencontek ujian.

Arjuna kecil hanyalah anak manis yang kesepian, ia tidak keberatan dimanfaatkan seperti itu asalkan ia punya teman untuk diajak jajan bersama di kantin.

Di rumah, saat ia hendak bergabung untuk bermain bola, teman-temannya selalu meminta dibelikan cemilan atau minuman. Ia tidak pernah diajak bermain jika tidak memberikan sesuatu. Tentu saja ia tidak keberatan, toh ia punya banyak sisa uang saku. Hatinya masih jernih, pikirnya saat itu yang penting ia tidak sendirian menghabiskan waktu menunggu orangtuanya pulang kerja malam hari nanti.

Terlepas dari kacamata ilmu psikologi yang didapatnya, sebagai seorang teman, Najmi sebisa mungkin ingin menjadi support system bagi Arjuna.

Luka yang tanpa sadar terbentuk saat masih belia, berefek pada kehidupan dewasa Arjuna. Ia tak cukup mampu mendeteksi rasa ikhlas dan ketulusan, tidak ada yang mengajarkannya dua hal tersebut. Ia hanya belajar dari rasa dendam. Banyak yang mendekatinya dengan berbagai tujuan. Sekali lagi, ia tidak keberatan. Namun kali ini, ia tidak bisa hanya menjadi pihak yang tertindas, ia juga memanfaatkan orang-orang tersebut sebagai timbal baliknya.

Najmi ingin membantu Arjuna perlahan-lahan lepas dari trauma masa kecilnya.

. .ㅤ

“FWB-an yuk, Jun?”

Sosok di depannya yang diberi ajakan tersebut sontak mengangkat kepala. Seperti yang diduga, earphone yang dipakai Arjuna hanyalah aksesoris yang bahkan tidak mengeluarkan suara.

Arjuna hanya menjawab dengan tatapan, ternyata Nana masih bisa lebih gila dari yang kemarin-kemarin.

Najmi pun berpikir demikian, ia nampaknya sudah sangat gila. Ia mengambil jalan pintas untuk bisa mendekati Arjuna dengan dalih FWB. Setidaknya ia tidak benar-benar akan memanfaatkan Arjuna, ia hanya akan menyalurkan segala perasaan tulusnya yang selama ini terpendam.

Kewarasannya yang tersisa ia gunakan untuk berdoa bahwa jalan yang ia pilih tidak akan menjadi jalan buntu bagi hubungan mereka atau parahnya menyebabkan kecelakaan pada keduanya.


“Lo yakin kunci motor lo jatuh di sekitar sini?” Arjuna sedikit berteriak, bertanya dengan nada skeptis. Tubuhnya berjongkok mencari-cari benda hitam dengan gantungan kunci berbentuk wortel seperti deskripsi Najmi.

“Yakin, tadi abis dari parkiran, gue tabrakan sama orang di sini,” jawab Najmi sambil melangkah mendekat ke arah Arjuna, ia baru saja kembali dari pos satpam untuk menanyakan perihal kunci motornya yang hilang, namun hasilnya nihil.

“Coba cek tas lo sekali lagi,” perintah Arjuna.

Najmi menghembuskan napasnya, sudah tiga kali ia mengecek tasnya namun kuncinya tidak ditemukan di sana. “Nggak ada Jun, nggak ada tuh, kok lo nggak percaya sama gue, sih?” ucap Najmi sembari mengobok-obok tasnya di depan wajah Arjuna.

Arjuna merebut tas tersebut kasar, ia menyelusupkan tangan ke setiap bagian tas namun tetap tidak menemukan kunci motor Najmi.

Ia mengambil jaket yang ada di dalam tas, kemudian mengulurkan tas Najmi kembali kepada pemiliknya.

Tangan Arjuna menelusuri saku kanan jaket, tetap tidak ketemu. Tangannya berpindah pada saku kiri, kemudian pergerakannya berhenti.

Najmi yang melihat itu ikut membeku, memeluk erat tas yang ada di tangannya.

Tangan Arjuna perlahan keluar dari saku, terlihat kunci motor dengan gantungan berbentuk wortel dalam genggamannya.

Arjuna menatap Najmi datar lalu melemparkan kunci dan jaket tersebut ke arah Najmi.

Ia langsung berbalik badan menuju parkiran basement dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Ia kesal sekali.

Najmi mensejajarkan langkahnya dengan Arjuna, lalu merangkulkan tangannya pada pundak kecil sosok di sampingnya. “Jun, mending kita ambil hikmah dari peristiwa ini. Ibaratnya kunci motor ini kunci hati kita Jun, udah dicari kemana-mana nggak ketemu, ternyata ada di deket kita sendiri, Jun,” celoteh Najmi sambil cengar-cengir.

Arjuna memutar bola matanya malas, namun bibirnya menyunggingkan tawa.

Meskipun memalukan, setidaknya Najmi bersyukur, kejadian kehilangan kuncinya yang tidak hilang sukses menjadi ice breaking dari kecanggungan mereka setelah ucapan gilanya di shelter tadi.

.

“Bakso keliling di situ enak banget, Ji,” ucap Zendra di tengah perjalanan mereka menuju Taman Lansia beberapa menit yang lalu.

ㅤ Zidan menginjak-injak daun kering yang ada di bawah bangkunya untuk menghilangkan rasa bosan–menunggu Zendra dan pesanan baksonya datang. Ia duduk di area batu refleksi, cukup jauh dari gerobak bakso.

Zidan mengedarkan pandangannya, walaupun bernama Taman Lansia, namun tidak banyak lansia yang datang sore ini, justru ramai terlihat anak-anak yang berlarian di area playground dan beberapa remaja yang bermain badminton. ㅤ

Tidak buruk juga sebenarnya Zendra membawanya ke sini, banyak pohon rindang yang menjadi naungan dari teriknya matahari. Lingkungannya pun bersih ditambah dengan suara gemericik air mancur. Aura kebahagiaan dari keluarga yang datang bersama pun ikut diserap oleh Zidan. ㅤ

Ah, tapi nampaknya tempat ini terlalu family-friendly untuk berkencan. ㅤ

“Aww!‼” Zidan merasakan hangat tiba-tiba pada tengkuknya, ia menoleh dan mendapati cengiran Zendra yang rupanya baru saja menempelkan mangkuk bakso pada lehernya. ㅤ

“Ngelamun aja sih, Ji.” Zendra mengulurkan mangkuk tersebut ke arah Zidan, kemudian duduk di sampingnya. ㅤ

Zidan menyeruput sedikit kuah baksonya, masih terlalu panas baginya untuk dimakan. Lagi-lagi ia harus menunggu, dan lagi-lagi ia mengedarkan pandangannya, lalu terkunci pada sosok di sampingnya.

Mereka sudah tidak bertemu sekitar 3 hari, sejak menjemputnya di depan FMIPA hingga ke Taman Lansia, Zendra terus menggunakan helm. Saat tiba pun, ia tidak sempat memerhatikan Zendra dengan seksama.

Namun dari jarak sedekat ini, ia dapat melihat dengan jelas wajah Zendra yang nampak lelah, dihiasi kantung mata besar dengan lingkaran hitam yang lebih legam dari biasanya. Yang mana menurut Zidan cukup janggal, karena Zendra baru saja pulang ke rumah untuk menghabiskan akhir pekan, seharusnya ia kembali dengan keadaan fresh selepas beristirahat panjang. Setidaknya itu yang dilakukan Zidan jika di rumah, bermalas-malasan sepanjang hari, bergerak hanya jika disuruh sang bunda.

“Baru sadar ya kalau gue ganteng? Bukan sekadar nggak jelek jelek amat?” ㅤ

Sialan, Zidan lagi-lagi melamun. Sialnya lagi ia tertangkap basah sedang memerhatikan wajah Zendra. Ia hanya berdecih sebagai balasan dan memfokuskan diri pada baksonya. Zidan merutuki dirinya sendiri, sudah berapa lama ia memandangi Zendra, sampai-sampai kuah baksonya sudah tidak panas sama sekali.


Sepertinya kencan hari ini bertemakan perkenalan diri, hal dasar yang dilakukan pada segala macam hubungan dan segala keperluan agenda. ㅤ

Mereka menjadi lebih tahu tentang satu sama lain, Zidan juga mendapati fakta baru, bahwa sebenarnya Zendra tidak sekaku yang ia kira. Terbukti, selama bercengkrama, Zendra justru yang lebih aktif membangun obrolan. Hingga bakso mereka habis, hingga sekarang ditemani gelas kedua es teh mereka, walaupun beberapa kali keduanya terdistraksi oleh orang tua yang melalui dan menyapa mereka saat berjalan di batu refleksi, percakapan mereka masih mengalir begitu saja. ㅤ

Obrolan keduanya tidak selalu cocok, bagaimana Zidan yang percaya bahwa alien itu ada, dibantah oleh Zendra bahwa tidak terdapat cukup bukti ilmiah akan adanya kehidupan lain di luar bumi.

Bagaimana Zidan yang terkejut bahwa harga sepeda Zendra ternyata lebih mahal dari motornya.

Begitu pun Zendra yang tidak habis pikir dengan Zidan yang membeli album vinyl limited edition penyanyi favoritnya dengan harga mahal padahal ia tidak memiliki turntable.

Namun keduanya merasakan adanya kenyamanan dalam dialog mereka. Zidan bahkan sudah sama sekali lupa akan kegugupannya beberapa saat lalu. Nyatanya, ia tidak perlu gimana gimana.

Bersama Zendra, ia hanya perlu bersikap sederhana dan apa adanya.


“Gue iri deh, sama lo,” ucap Zendra setelah mereka membahas tentang bagaimana Zidan merayu abangnya untuk manggung di event konser galang dana Fakultas Teknik, tentang bagaimana arti hari Jumat bagi keluarganya. ㅤ

“Hanya dengan eksistensi lo aja bisa menciptakan kebahagiaan bagi orang lain, unconditionally.”

Lagi, raut lesu yang beberapa waktu lalu menyita perhatian Zidan kembali muncul.

Ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh, ia merasa belum saatnya melangkah sejauh itu jika Zendra belum menghendaki.

Ia hanya mampu menyalurkan empati melalui sorot mata dan senyuman lembut. ㅤ

“Oh, ya? Dari cerita gue, lo nangkepnya begitu, Bang?” tanya Zidan. ㅤ

“Nggak cuma dari cerita lo, gue dari tadi nangkep sendiri juga. Keberadaan lo, bikin gue seneng.” Zendra memberikan senyum dengan mata melengkung bulan sabit.

Manis sekali. ㅤ

“Gue pengen deh, ada orang yang merasakan hal yang sama kaya gitu ke gue,” lanjutnya. ㅤ

Dada Zidan menghangat, ia sering dipuji sebagai anak baik dan segala sinonimnya atas apa yang telah dilakukannya, namun mendengar ia memancarkan energi positif kepada orang lain hanya karena eksistensinya di dunia, membuatnya nyaris menangis. ㅤ

You will Bang, nanti bakal ada orang yang merasakan hal yang sama kaya gitu ke elo.” Zidan membalas dengan gummy smile andalannya.

Tak kalah manis.

Samudra hendak melayangkan protes atas direnggutnya hak pengikraran cintanya. Urung, setelah dilihatnya Baskara yang masih menatap surya, pancar matanya terus terang mencurahkan ketulusan. Permintaannya tadi, terasa seperti pesan terakhirnya yang harus dikabulkan.

Samudra menangkup pipi Baskara untuk menghadap ke arahnya, pada netra yang sedang menatapnya, konstelasi bintang pernah bersarang di sana. Entah oleh sebab apa, berubah menjadi lubang hitam, bak palung distopia.

Samudra mempersempit jarak, deru napas satu sama lain mengalahkan hembusan angin pesisir.

Pertemuan pertama bilah bibir mereka, beriringan dengan terbenamnya matahari di ufuk barat lautan

Sekaligus menjadi pertemuan terakhir keduanya

Baskara yang terbit menyinari Samudra setelah malam gelap yang panjang, kini terbenam selamanya

Malam telah tiba, laut kembali gelap

Dalam gelapnya, ia menyimpan banyak ombak kegusaran

Bagaimana bisa, sumber tawa dan senangnya, justru tidak mengerti arti kebahagiaan?

Mataharinya tak ingin tertoreh sembilu lebih lebih dalam, ia memilih untuk mati rasa

Membinasakan seluruh inderanya.

Samudra yang paling manis, maaf… Sepertinya gue bikin lo nangis

“Dibilangin jangan lama-lama, ih!”

“Maaf… Tadi kasirnya antri panjang banget. Jangan ngambek, dong. Yaaa?”

Denger omelan lo jauh lebih baik dibanding suara tangis, Sam.

Maaf, kali ini perginya jauh lebih lama dari biasanya

Es krim yang dibawa pulang, mungkin sudah leleh seutuhnya

Maaf, sudah bersanding dengan eksistensi penuh bual

“Yaudah, nanti pulangnya gantian gue aja yang nyetir, lo tidur aja sepanjang perjalanan.”

Maaf, gue berakhir tidur selamanya Meninggalkan lo melanjutkan perjalanan sendirian

Maaf, karena pergi hanya mewariskan luka dan tanda tanya

Sungguh, hujan yang dicipta laut adalah berkah

Badai yang menerpa, sama sekali bukan salah samudera

Samudra sudah banyak menyiram asa

Baskara bisa bersinar selama ini, semua karena Samudra

Kita, sebenarnya sudah lebih lama bersama Maaf, sudah egois karena sadar sendirian

Gue nggak mau, menambah riuk ombak pada laut yang tenang

“Kenapa gue nggak perlu jawab?”

“Nanti jadi semakin berat…”

Samudra, terima kasih sudah hidup di masa yang sama dengan gue

Semoga kita nggak ketemu lagi

Gue nggak mau liat lo di sini

Mungkin di kehidupan selanjutnya

Atau selanjutnya lagi

Laut, akan selalu menjadi tempat matahari terbit.

Samudra… Sorry, thank you, I love you and will always do.

Baskara sialan!

Gue pikir, lo bilang mau cari angin, bakal balik bawa sekantong es krim kaya biasanya

Lo justru pulang membawa kabar duka

Gimana di sana? Udah tenang?

Gue pengen mengusik ketenangan lo, deh

Gue pengen ngomelin lo Gue pengen nyusul lo

Boleh?

“Nggak boleh.”

“Baskara ih, masa gue ditinggal sendirian?”

“Yaelah, sebentar doang kali Sam, mau beli cemilan buat liat sunset ntar. Es krim vanilla as usual, right?”

“Iya deh, tapi jangan lama-lama.”

Selamanya, rasa vanilla tak lagi sama Manis dikecap, ciptakan getir pada luka Luluh esnya sirat hitungan mundur tenggat kehidupan

Seharusnya gue sadar, kita nggak akan selamanya bersama

Seharusnya gue sadar, hidup tak selamanya tentang tawa

Seharusnya gue bertanya, awan mana yang ciptakan mendung bagi sang surya

“Bas, kok ngelamun, sih? Bentar lagi mataharinya terbenam.”

“Hah? Haha… Sorry, gue tadi terlalu menikmati suasana.”

“Lo gapapa? Keliatan murung gitu dari tadi.”

“Gue gapapa Sam, cuma agak ngantuk aja nyetir ke pantai 3 jam.”

Seharusnya gue tau, Baskara seorang pembohong besar

Seandainya gue sadar, apa kita bisa lebih lama bersama?

Seandainya gue sadar, mungkin hanya manis yang kita rasa, pada es krim yang tersisa

Seandainya gue bertanya, sungguh bukan hujan yang laut beri pada sang surya

“Gue cinta sama lo, Samudra.” Baskara berucap lugas, tatapannya masih tertuju lurus pada mentari yang mulai memadamkan jingganya. Samudra menoleh, terkejut atas penuturan Baskara, ia pun hendak membuka mulut menuturkan balasan.

“Nggak perlu dijawab. Apapun jawaban lo, please, gue mohon jangan dijawab. Gue cuma mau lo tau, kalau lo adalah manusia paling berharga di hidup gue.”

Seandainya gue tau, gue nggak akan membohongi perasaan

Baskara, maaf.

Gue mencuri kesempatan di saat lo nggak ada

Kesempatan buat menjawab

Gue juga cinta sama lo, Baskara.