“Jadi gitu ceritanya.” Zendra menutup penjelasan panjang lebarnya perihal kronologi Leo yang mengetahui hubungan mereka.
Kini keduanya sedang duduk bersila, saling berhadapan di atas ranjang kamar Zendra.
Di depannya, Zidan tampak sibuk menggulirkan layar ponsel yang menunjukkan percakapannya bersama Leo sore tadi.
“Ohhh,” tutur Zidan. Matanya masih fokus pada gelembung-gelembung pesan di hadapannya.
“Oh itu artinya oh paham atau oh marah?” tanya Zendra penuh hati-hati.
Pertanyaan itu membuat Zidan menurunkan ponsel kekasihnya. Kepalanya terangkat untuk menatap manik mata Zendra.
“Oh… yaudah?” jawab Zidan santai sebelum ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menggulingkan tubuhnya miring memunggungi Zendra.
“Yaudah sih Bang, santai aja. Nggak apa-apa,” lanjutnya sambil memejamkan mata.
ㅤ Zendra menghembuskan napas lega, lalu menyusul untuk ikut berbaring di samping pacar jangkungnya itu.
Tangan kirinya terulur untuk memeluk erat pinggang Zidan dari belakang.
Dagunya sudah bertengger nyaman di antara leher dan bahu bidang kekasihnya. Tempat favoritnya, di mana ia bisa mencium harum white musk khas Zidan yang selalu menjadi candu baginya.
ㅤ
“Ji, gue sayang banget sama lo. Sayaaaanggg bangeeet.”
Zidan terkekeh geli mendengar pengakuan dari Zendra.
“Tiba-tiba banget?”
“Enggak tiba-tiba tuh, gue sayang, gue mikirin lo tiap hari, tiap detik bahkan, tapi nggak mungkin juga ‘kan, gue ngomong gitu tiap detik?”
Zidan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Zendra.
Ia menurunkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan dada bidang kekasihnya, untuk kemudian menjatuhkan kepalanya di sana. Tangannya memeluk erat tubuh Zendra.
Bak menerima sinyal cinta, lengan kanan Zendra secara otomatis bergerak untuk merengkuh tubuh Zidan, sedang tangan kirinya semakin mesra, intim melingkar di pinggang Zidan.
ㅤ
“Kangen.”
Satu kata dari pujaan hatinya, sukses meningkatkan ritme detak jantung Zendra.
“Hahaha. Kan tiap hari juga kita ketemu, Ji?” Zendra hanya basa-basi, ia tahu persis apa yang dirasakan Zidan.
ㅤ
“Eunggg…. Kangen…” Zidan mengulang perkataannya dengan nada yang berpuluh kali lipat lebih manja. Kepalanya menggeleng-geleng gemas di atas dada Zendra yang sedang naik turun karena tertawa pelan.
ㅤ
Tangan kiri Zendra menggenggam telapak Zidan yang sedang memeluknya. Dilayangkannya ribuan kecupan kupu-kupu pada punggung tangan dan jemari lentik kekasihnya itu.
ㅤ
“Mas, adek malem ini boleh tidur sini?”
Kecupannya turun, beralih pada pelipis Zidan. Diciumnya lembut dan dalam penuh kasih sayang.
Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini semenjak seluruh penghuni kos kembali.
Jangan bahas soal aktivitas panas mereka di homestay beberapa waktu lalu.
Rasanya, berbeda.
ㅤ
“Ya boleh dong, Sayang. Malahan, sekarang udah bebas. Kan Leo udah tau juga, jadi kamu nggak perlu ngendap-ngendap lagi kalau di sini.”
Ternyata, ada untungnya juga.
Zidan tersenyum lebar, ia menengadahkan kepala untuk menatap Zendra.
“Minta cium,” rengeknya sambil memanyunkan bibirnya gemas.
Jangankan cium. Kalau Zendra bisa, Zidan minta seisi dunia pun bakal dikasih.
Chuuu~p
“Udah, ayo bobo.”
ㅤ
“Eungg… Lagi!”
Pipi Zendra rasanya mau sobek gara-gara kebanyakan senyum. Demi Tuhan, bayi besarnya tidak pernah semanja ini sebelumnya. Ini peristiwa langka, salah satu keajaiban dalam dunia Zendra yang tentu saja tak mau ia sia-siakan begitu saja.
Maka dari itu, Zendra mengubah posisi mereka. Ia rebahkan kepala Zidan di atas lengannya, guna memudahkan kegiatannya, menciumi setiap inci wajah Zidan sepanjang malam.