ㅤ “Naik, Jun,” ucap Najmi kepada Arjuna setelah membukakan kedua footstep motor Beat putih-pink nya.
Arjuna masih bergeming di tempatnya berdiri. Menatap Najmi yang kini sedang nangkring di atas motor juga menatapnya bingung.
Arjuna pikir, perhatian-perhatian kecil yang selama ini temannya berikan, hanyalah bentuk kebaikan antar sesama umat manusia.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mana ada manusia lain yang ngelapin jok motor pakai lengan kemejanya sendiri waktu dia mau bonceng.
Mana ada manusia lain yang waktu kameranya dipinjem, terus lensanya dipatahin, malah bilang, “Hehe nggak apa-apa, seenggaknya di dalem sini jadi ada banyak foto Arjun.”
Nggak ada yang lain, selain Najmi.
ㅤ
“Jun?”
Arjuna tersadar dari lamunan panjangnya, Najmi bahkan sudah mematikan mesin motornya kembali. Ia berdehem pelan sebelum mengangkat kakinya untuk menaiki motor matic tersebut.
“Mau ke mana emangnya?”
“Belum tau. Fly over, mau?” sahut Najmi sembari menyalakan mesin motornya kembali.
jedug
Arjuna membenturkan ujung helmnya sendiri dengan bagian belakang helm Najmi.
“Nggak mau. Dasar, jamet!”
Yang dikatai hanya menggelakkan tawa, bersiap untuk menancapkan gas.
“Pegangan, Jun.”
ㅤ ㅤ Arjuna menatap jagung rebus di genggamannya yang tersisa setengah. Di sampingnya, Najmi melakukan hal yang serupa. Namun, jagungnya hampir sama sekali tidak dimakan.
Aneh, padahal biasanya Najmi yang lebih lahap makan. Bahkan, pria berdarah Sukabumi itu sering mencomot lauk dari piring makan siangnya.
Dari raut mukanya, tampak sedang menanggung beban pikiran.
Apa yang sedang ada di pikiran Najmi?
ㅤ
“Jun, jagung kok bisa ada yang rasanya manis, ada yang rasanya biasa aja tuh, gimana?”
“Ya karena beda varietasnya. Hasil panennya juga beda.”
“Oh, terus varietas manis itu asal muasalnya bisa manis gimana?”
Arjuna mendengus geli.
“Nggak tau, nilai makul tanaman semusim gue C.”
“Ups…” Najmi meringis, masih menatapi tiap butir biji jagung di depannya.
Arjuna meletakkan sisa jagungnya pada piring plastik di samping paha kanannya, piring yang menciptakan jarak setengah meter di antara mereka berdua.
Kini keduanya sedang duduk di pinggiran air mancur yang terletak di depan gerbang salah satu taman kota.
Tamannya sudah tutup, jelas. Sekarang saja sudah hampir jam dua pagi. Di sekitar taman hanya tersisa beberapa pedagang kaki lima. Salah duanya adalah lapak jagung rebus dan wedang ronde yang mereka beli.
Hening menyelimuti keduanya. Bukannya mereka lupa maksud dan tujuan pergi malam-malam begini.
Hanya saja, baik Arjuna dan Najmi, tampak sengaja mengulur waktu lebih lama.
ㅤ
Hembusan napas keluar dari hidung bangir yang lebih tua.
“Sejak kapan?” tanyanya. Kepalanya mendongak ke atas, menatap lekat langit gelap, seakan bisa melihat rasi bintang aries di sana, padahal bulannya saja tertutup polusi.
“Nggak tau, lupa. Udah lama banget soalnya.” Najmi ikut menatap ke atas langit, nggak tau juga dia ngeliatin apa.
ㅤ
“M-“
“Nggak perlu minta maaf, Jun.” Kini Najmi fokuskan pandangannya pada pria di sebelahnya.
“Bukan sesuatu yang salah kalau lo nggak bisa bales perasaan gue.”
Arjuna semakin mendongakkan kepalanya, udah kaya orang mau kayang, saking berusaha keras dia menahan air matanya supaya nggak keluar.
Masa iya dia yang nangis, posisinya ‘kan dia yang menyakiti Najmi.
Setelah beberapa tarikan dan hembusan napas, Arjuna berhasil memposisikan tubuhnya dengan benar, menoleh ke samping kanannya, balik menatap netra Najmi.
Pria itu masih tersenyum, menatapnya lembut, terlihat tenang sekali.
Arjuna jadi bertanya-tanya, apa ini rasanya dicintai?
“Sorry…”
ㅤ “Itu mah sama aja minta maaf, cuma pakai bahasa Inggris, Jun!”
Arjuna memaksakan tawa keluar dari mulutnya.
ㅤ
“Tulisan lo bagus. You’ll be a famous author, someday.”
Terdengar kekehan pilu dari samping kanannya. Sepertinya Arjuna salah memilih bahan obrolan. Sekarang jadinya seakan-akan ia mengolok-olok keadaan. Padahal bukan begitu maksudnya.
Miris, karena tulisan yang disebut bagus oleh Arjuna adalah spin off dari kisah nyata mereka berdua. Najmi menuangkan perasaannya yang terpendam melalui karyanya.
Arjuna sekarang menundukkan kepalanya dalam. Merasa bodoh bukan main. ㅤ
“Jun…”
Panggilan lembut itu membuat Arjuna mengangkat kepalanya kembali.
Najmi menarik napasnya dalam. ㅤ “When I become a famous author someday, I’ll write about us and happy ending we never had,” ucap Najmi sedikit bergetar. Ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan, perlahan runtuh juga.
Pupil Arjuna bergetar mendengar kalimat Najmi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. ㅤ ”Enggak Na, you are the main character and I already did my part as an additional character. So keep going, a happy ending is waiting for you.”
Lagi-lagi Najmi hanya tekekeh. Rasanya, hidupnya benar-benar seperti berada di puncak komedi.
ㅤ
“Jun…”
“Hehe, maaf, gue manggilin lo mulu ya dari tadi.” Najmi nyengir, menggaruk tengkuknya gugup.
ㅤ “Kenapa, Na?”
ㅤ
“Gue boleh nggak, cium lo? Buat yang terakhir kali?”
Arjuna megangguk, mengiyakan. Mempersilakan Najmi untuk mendekat ke arahnya, mempersilakan bibir tipis itu untuk mencium bibirnya.
Arjuna tidak membalas ciuman Najmi, ia hanya membuka mulutnya, mempersilakan bilah merah muda itu untuk merasakan basah dan kenyal bibirnya.
Ia tak sanggup membalas ciuman penuh cinta itu.
Ia tidak memiliki cinta untuk disalurkan, seperti yang sedang Najmi lakukan padanya saat ini, dan selama ini.
Selama ini juga, Arjuna tidak sadar, bahwa ciuman dalam yang diberikan laki-laki itu adalah proyeksi dari rasa cintanya yang sama dalamnya. Ia baru menyadarinya sekarang.
Air matanya menetes di sela-sela ciuman keduanya.
Sungguh, ia merasa bersalah. Betapa teganya dia selama ini membalas ciuman itu hanya sebatas menyalurkan nafsu.
Andaikan Arjuna tahu, Najmi juga memiliki penyesalan dan rasa bersalah yang sama besarnya.
Ia tak seharusnya mengambil langkah ini sejak awal.
Sebagai mahasiswa Psikologi, harusnya ia yang paling tahu, menjalin hubungan dengan harapan bisa mengubah seseorang adalah visi yang salah.
Tapi ia terlalu dibutakan oleh cinta. Ia tak berpikir panjang.
Ia tak seharusnya egois dengan perasaannya, dan membuat Arjuna merasa menjadi orang jahat karena tak membalas perasaannya.
Padahal ia yang telah mengingkari janji, bahwa tidak akan ada ikatan perasaan di antara keduanya.
Kini tak akan ada lagi Arjuna dengan setumpuk kertas HVS di tangannya, yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tengah malam, menggerutu, “Gue numpang ngerjain laporan di sini, ya. Banyak banget anjir, kalau di kamar sepi, gue takut ketiduran.”
Tak akan ada lagi Arjuna yang mengeluhkan jok baru motornya yang terlalu licin, sehingga pria itu sering melorot ke arahnya saat sedang membonceng.
Meskipun setelah ini mereka masih berteman seperti biasa.
Najmi yakin, Arjuna akan membatasi diri. Lelaki itu tak mau menabur pupuk pada perasaannya yang bahkan sudah terlanjur tumbuh subur.
Setelah ini, ia akan kehilangan Arjunanya.
ㅤ Najmi menjauhkan wajahnya, melepaskan ciumannya.
Sejenak Arjuna merasa hampa. Jauh di lubuk hatinya, sejujurnya ia tak rela ciuman mereka harus berakhir.
ㅤ Keduanya saling menatap mata merah satu sama lain.
ㅤ
“Arjuna, happy birthday.”
Arjuna tersenyum manis, matanya lagi-lagi mengeluarkan cairan bening.
Setidaknya, di ulang tahunnya hari ini, ia mendapat hadiah berharga. Pelajaran bagaimana rasanya dicintai.
Ia berharap, di ulang tahun selanjutnya, ia sudah belajar, bagaimana caranya mencintai.
Ibu jari Najmi terulur untuk menyapu air mata yang mengalir di pipinya.
ㅤ “Sorry, I love you.”
ㅤ
“Makasih, Nana.” ㅤ