Meja Makan

Hanya suara denting pergesekan sendok dan piring yang terdengar di ruang makan keluarga Zendra. Sang ayah yang duduk memimpin di sisi kanan meja makan, bunda dan kakaknya duduk di hadapannya, serta tamu spesial yang duduk dengan kikuk di sampingnya.

“Nak Zidan ada kegiatan apa di kampus? Kok enggak pulang ke rumah?”

Ini adalah screening pertama dari nyonya rumah. Semenjak tiba sore tadi, Zidan hanya bertegur sapa seadanya dengan keluarga kekasihnya. Sebelum makan malam pun, ia justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan ketiga kucing Zendra dibanding dengan ketiga anggota keluarga yang tinggal di rumah ini. Bukannya tidak ingin melakukan pendekatan, namun setelah ia memasukkan barang-barang di kamar tamu, keadaan rumah mendadak jadi sepi. Kata Zendra, keluarganya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di kamar masing-masing.

“Saya lagi ikut volunteer Tante, buat ngisi liburan,” jawab Zidan sambil tersenyum. Ia mencoba membaca ekspresi dua wanita di hadapannya, juga pria paruh baya yang ada di sebelah kanannya, hanya anggukan kecil yang tertangkap oleh matanya.

Jantungnya berdegup cepat karena grogi, ia tidak menyangka bahwa suasananya akan secanggung ini. Zidan melirik ke arah pacarnya, berupaya mencari sedikit ketenangan di sana. Namun yang ia dapati malah jantungnya yang berdegup dua kali lebih kencang.

Zidan dapat melihat dengan jelas, pupil mata Zendra yang bergerak gelisah sama seperti dirinya, atau malah lebih dari itu. Ia mulai mempertanyakan banyak hal.

Apakah dirinya menganggu kenyamanan keluarga Zendra?

Apakah keluarga Zendra tidak menyukainya?

Apakah ia terlihat tidak pantas bersanding dengan putra bungsu mereka?

Apakah ia nampak bodoh dan lemah?

Ia mengenakan pakaian terbaiknya untuk mengunjungi kediaman pujaan hati, ia juga selalu menjadi anak yang menjunjung tinggi sopan santun di manapun dan kapanpun. ㅤ

Apa yang salah dari dirinya? ㅤ ㅤ

“Kami nggak tau kalau kamu suka laki-laki. Kayanya waktu SMA semua pacarmu perempuan.” Sang kakak yang sedari tadi nampak tak acuh akhirnya angkat bicara.

Zidan menghentikan pergerakan pada sendoknya. Kepalanya menunduk menatap nasi di piringnya. Ia bahkan tidak berani mencuri pandang pada wajah manapun yang ada di meja makan ini, bahkan tidak kepada kekasihnya yang kini menggenggam pahanya posesif.

Seluruh pertanyaannya terjawab sekarang, bukan penampilannya atau sikapnya yang menyebabkan kecanggungan di rumah ini.

Melainkan karena anak laki-laki keluarga ini, mencintai yang juga laki-laki.