skidipapap

Deru halus mesin Xpander mengisi kekosongan di antara dua sejoli yang saling melempar hening. Mereka sudah tiba sejak tadi, namun tidak ada yang berinisiatif untuk turun dari mobil.

“Maaf ya Bang, padahal hubungan lo sama keluarga udah membaik, gue malah nambah-nambahin masalah baru,” ucap Zidan. Tangannya memilin ujung kemejanya gusar.

“Enggak Ji, udah gue bilang, mereka cuma kaget. Besok-besok pasti udah biasa aja, kok.”

Zendra mengulurkan tangan kirinya untuk menangkup dagu Zidan. Ibu jari dan telunjuknya menekan pipi pacarnya itu hingga bibirnya mengerucut lucu seperti ikan.

“Lagian siapa sih yang nggak mau punya mantu cakep dan baik kaya gini,” lanjutnya sambil terkekeh pelan.

Zidan memalingkan wajah ke arah jendela di sebelah kirinya, melepaskan tangan Zendra dari wajahnya, ia sama sekali tidak terhibur dengan perkataan kekasihnya itu dan mendengus kasar.

ㅤ “Tapi gue laki-laki.”

ㅤ Zendra mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Zidan.

“Justru karena laki-laki, gue suka,” bisik Zendra pelan tepat di sebelah telinga Zidan.

ㅤ Ia tersenyum lega saat akhirnya melihat semburat merah muda pada pipi dan lengkungan naik dari sudut bibir Zidan yang masih menatap ke luar jendela.

sniff sniff

Zendra menghirup dalam aroma di sekitar leher pacarnya. “Ganti parfum, ya?”

Yang ditanya akhirnya menoleh dan mengangguk pelan. “Iya. Nggak suka, ya?”

Zendra memberikan kecupan singkat pada leher Zidan, lalu mengeluarkan jurus senyum bulan sabit andalannya sebelum menjawab, “Suka kok, enak.”

Entah enak yang dimaksud Zendra adalah wangi parfum baru, atau leher jenjang Zidan.

Ia lantas memberikan kecupan bertubi-tubi pada setiap inci ceruk leher kekasihnya.

ㅤ “Aaa~ Udah ah Bang, geli,” pinta Zidan.

Keduanya terkekeh sambil menatap mata satu sama lain.

Pandangan Zidan turun pada bibir ranum Zendra. Ibu jarinya terangkat untuk mengusap lembut bibir tersebut.

Terkadang ia heran, pacarnya itu adalah perokok aktif, namun bibirnya tetap indah merah muda, manis, bikin kecanduan.

“Jangan dipencet-pencet doang dong, cium,” goda Zendra menyadarkan Zidan dari lamunannya.

ㅤ Zidan pun menuruti permintaan pacarnya, ia memiringkan wajahnya, mempersempit jarak di antara keduanya dan mempertemukan bibir mereka.

Bibir penuh Zidan yang pertama kali membuka untuk melumat bibir Zendra, yang tentu saja dibalas dengan senang hati.

Keduanya saling menyesap bibir satu sama lain.

Namun hari ini agaknya terlalu berbeda. Mereka terbiasa menyalurkan kasih sayang dengan ciuman yang hangat dan manis.

Hari ini ciuman mereka panas dan memabukkan.

Lenguhan-lenguhan kecil acapkali terdengar di sela-sela ciuman keduanya.

Punggung Zendra mulai pegal karena posisi duduknya yang tidak menguntungkan. Namun ia tidak bisa melepaskan pagutan bibirnya dan kekasihnya.

Bukan hanya Zidan yang kecanduan, Zendra juga.

Tangannya pada tengkuk Zidan turun untuk meraih kait seat belt.

Klik

Dengan sekali tekan, tubuh Zidan sudah terbebas dari lindungan sabuk pengaman.

Zendra pun meraih pinggang Zidan, menariknya mengisyaratkan untuk duduk di atas pangkuannya.

Posisi yang semakin nyaman dan intim, membuat keduanya semakin hilang kendali.

Bukan hanya mencumbu bibir satu sama lain, mereka melesakkan dan saling melilitkan lidah. Bunyi kecipak basah memenuhi seisi mobil.

Pagutan keduanya terlepas, ciuman Zendra turun pada leher Zidan.

Dalam sekali jilatan, ia menyapu sepanjang selangka hingga ke daun telinga Zidan dengan lidahnya.

“Ngghhhhh…”

Lenguhan itu. Lenguhan Zidan yang seksi itu, adalah kesukaan Zendra mulai saat ini. Ia ingin mendengar lebih. Ia harus melakukan lebih.

Tangan kanannya menggapai kancing kemeja Zidan untuk dibukanya satu persatu. Sedang tangan kirinya menggenggam pinggul Zidan yang sedang maju mundur di atas pangkuannya.

“Ahh…” Zendra juga tidak kuat menahan desahannya. Kepalanya mendongak ke atas saat merasakan penisnya bergesekan dengan milik Zidan yang masih terbalut celana.

Zendra kembali memfokuskan pandangannya pada tubuh yang ada di hadapannya saat seluruh kancingnya sudah berhasil terlepas.

Mata sayunya menggelap, tubuh kekasihnya sangat indah.

Pandangannya tertuju pada puting coklat muda yang mencuat minta dihisap.

Ia mendekatkan wajahnya pada dada Zidan. Melahap puting tersebut seperti bayi kelaparan.

Dilumat, dijilat, dihisap. Tubuh Zidan menggelinjang keenakan. Dadanya membusung. Tangan kirinya mencengkram surai Zendra, mendorongnya untuk mencumbunya lebih dalam.

TIINNNNN!!!!

Keduanya terlonjak kaget saat mendengar suara kencang klakson mobil.

Penyebabnya adalah Zidan.

Ia terlalu menikmati rangsangan dari pacarnya sampai-sampai punggungnya tidak sengaja membentur klakson mobil yang mereka tumpangi.

Efek kejut tadi sedikit mengembalikan kesadaran atas kontrol diri mereka.

Keduanya terkekeh menyadari kebodohan Zidan dan kondisi mereka yang sudah tidak karuan.

Zendra menggigit bibir bawahnya sembari menatap Zidan lekat. Telunjuknya mengelus-elus membentuk lingkaran pada puting kemerahan akibat perbuatannya barusan.

“Lanjut di dalem yuk, Ji?”


ㅤ ㅤ Sepasang kekasih tersebut sudah sama-sama bertelanjang dada di atas tempat tidur Zendra.

Zidan yang berada di bawah kukungan Zendra, menekan-nekan pelan selangkangan lelaki yang ada di atasnya menggunakan lutut kanannya.

Matanya merem melek merasakan segala stimulus yang diberikan pada sekujur tubuhnya. Mulai dari sentuhan telapak kekar dan hangat Zendra pada dadanya, hingga jilatan sensual yang membasahi abdomennya.

Jilatan Zendra perlahan turun, menuju gundukan yang ada di balik celana jeansnya.

Zendra menaikkan tubuhnya agar bisa bertatapan dengan Zidan.

“Boleh?” tanyanya lembut. Zidan hanya menjawab dengan. anggukan. Tentu saja boleh.

Ia kembali menurunkan tubuhnya, kedua tangannya dengan telaten membuka zipper celana Zidan, melepasnya hingga hanya tersisa celana dalam yang sedikit basah akibat cairan pre-cum.

Diliriknya kekasihnya sekali lagi, wajahnya merah padam, entah karena malu atau karena nafsu. Zendra pun sulit menafsirkannya.

Zendra meneguk ludahnya sebelum menggapai karet celana dalam Zidan. Ditariknya sisa kain terakhir dari tubuh pacarnya itu.

Penis Zidan sudah mengacung sempurna. Zendra merasakan bagian bawahnya semakin sesak, meminta untuk dibebaskan juga.

Ia mengecup paha Zidan sebelum mendekatkan wajahnya pada buah zakar yang tengah mengembang. Deru napasnya dapat dirasakan oleh Zidan.

Selama beberapa detik, tetap hanya deru napasnya yang terasa.

Zidan yang kebingungan, melirik Zendra di bawah sana sedang memejamkan matanya dan mengatur tempo napasnya.

Pacarnya itu malah bangkit dan mencium keningnya dalam.

“Maaf, gue nggak bisa.” Zendra berucap lembut.

“Kenapa? Ada yang salah sama badan gue?” Zidan bertanya setengah menangis. Kurang ajar, udah bikin anak orang sange mampus, tapi nggak mau tanggung jawab.

“Ssshhhh no, nggak gitu, Sayang,” jawab Zendra kemudian memberikan kecupan pada pipi Zidan. “Kita nggak ada persiapan apa-apa. Aku bahkan nggak punya kondom, apalagi lubricant.”

Zendra menatap wajah pacarnya cemas, ia juga sulit menahan nafsunya, tapi ia tidak mau membahayakan orang yang ia sayang.

“Mas…”

Sial, panggilan itu.

Zendra memejamkan matanya, berusaha untuk tidak melihat mata Zidan yang menatapnya berkaca-kaca.

“Nggak usah pakai itu aja nggak bisa?”

Ia menggeleng tegas. Tangan kanannya mengusap peluh di pelipis Zidan.

“Nanti sakit. Mas nggak mau adek sakit.”

Zidan menggigit bibirnya kuat untuk menahan tangisnya. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, berusaha menenggelamkan wajahnya ke bantal, air matanya keluar tanpa permisi.

Zendra yang melihat itu merasa bersalah, ia kemudian menangkup wajah Zidan untuk menghadap ke arahnya.

“Yaudah, adek tahan sebentar ya, mas mau ngeloot di kamar Arjun dulu. Biasanya kamarnya nggak dikunci.”

Demi pacar, Zendra rela jadi maling dadakan.


ㅤ ㅤ Zendra sempat meremehkan kejantanan Arjuna. Ia khawatir ukuran kondom tetangga kosnya itu tidak sesuai dengan miliknya, dan juga milik pacarnya. Kepunyaan pacarnya itu, setelah ia lihat tadi, meskipun tidak sebesar miliknya, namun ukurannya sedikit lebih panjang.

Tapi untungnya, ukuran Arjuna setara dengan mereka.

Seluruh persiapan tempur sudah terpasang, amunisi pelumas juga sudah di tangan.

Zendra mengecup bibir Zidan dalam. “Maaf ya Sayang, udah dibikin nunggu lama.”

Zidan hanya diam, ia masih kesal. Entah mengapa jiwanya menjadi lembek saat berada di bawah kukungan Zendra.

ㅤ “Adek lebih suka gimana? Mau jadi yang di atas atau di bawah?” tanya Zendra sembari membelai rambut Zidan yang lebih gondrong dari biasanya.

Zendra tak mendapatkan jawaban apapun. Ia paham, pacarnya itu masih belum tahu.

Mereka pernah mengobrol tentang hal ini. Zidan belum pernah berhubungan seksual.

Ini adalah kali pertamanya.

Sebagai yang lebih berpengalaman, Zendra harus memberikan solusi.

“Gimana kalau mas coba masukin adek dulu? Kalau adek nggak nyaman, nanti kita bisa gantian.”

Setelah mendapat persetujuan, Zendra melebarkan paha Zidan, menunjukkan lubang analnya yang masih sempit.

Ia mengusap lubang itu pelan, sekadar menyapa menggunakan ibu jarinya.

Zidan mendesis geli, Zendra tertawa. Gemes, batinnya.

Zendra melumuri jarinya dengan lubricant. Satu jarinya perlahan masuk pada lubang anal Zidan. Memaju mundurkan jarinya di sana.

Zidan tidak merasakan sakit, hanya sedikit dingin dan mengganjal pada lubang analnya.

“Mas boleh kok tambahin jarinya, adek nggak apa-apa.”

Zendra pun menyusulkan jari tengahnya memasuki lubang Zidan. Kali ini Zidan lumayan merasakan perih, namun juga nikmat di saat bersamaan ketika jemari tebal Zendra menyentuh prostatnya.

Zendra betul-betul mempersiapkan Zidan. Jarinya menggunting di dalam sana, berusaha melebarkan lubang analnya agar tidak terlalu sakit saat ia setubuhi pertama kali nanti.

Setelah selesai dengan jari ketiga, barulah Zendra merasa cukup untuk masuk ke bagian inti.

Tangan kirinya terangkat untuk menggenggam tangan kanan Zidan.

Ia mencium kening, mata, hidung, pipi, dan bibir Zidan.

“Mas masukin ya, Dek.”

“Ngangkang yang lebar ya Sayang, nanti kalau sakit bilang,” titah Zendra.

Yang dipanggil Dek hanya mengangguk pasrah.

Zendra mengocok sebentar penisnya yang licin oleh lubricant. Ia mengarahkan kejantanannya pada lubang Zidan.

Kepala penisnya sudah masuk. Ia merasakan genggaman Zidan pada tangannya mengerat.

Are u okay?”

I’m okay, lanjutin aja.”

Zendra kembali memasukkan seluruh batang penisnya perlahan-lahan. Meskipun sudah dipersiapkan sedemikian rupa, lubang perawan tetap berbeda. Penisnya tidak pernah dijepit seketat ini.

Ia menciumi bibir Zidan, berusaha mengalihkan dari rasa sakit saat penisnya sudah masuk sepenuhnya. Ia mendiamkannya di sana sejenak sampai Zidan lebih rileks dan terbiasa.

“Mas mulai genjot ya, Sayang.”

Zendra mulai memaju mundurkan penisnya di lubang Zidan dengan sangat berhati-hati.

“Ahhh… Mas, ahhhh…”

Desahan Zidan selalu membuat libidonya meningkat, apalagi dilihatnya pacarnya itu sedang memelintir putingnya sendiri.

Ingin rasanya ia menggempur Zidan habis-habisan, tapi ia bahkan tidak memikirkan kenikmatannya sendiri. Ia hanya fokus menyenangkan kekasihnya, berusaha tidak membuatnya terluka.

Karenanya, ia menjaga tempo genjotannya agar tidak terlalu kasar.

S-stoph…” Zidan berucap lirih.

Zendra yang mendengar itu langsung menghentikan pergerakannya.

Saat ia berniat melepaskan penisnya dari lubang Zidan, pinggulnya justru ditarik, menyebabkan penisnya melesak masuk lebih dalam.

Zidan sedikit mengangkat kepalanya, mempertemukan hidung mancung keduanya. Ibu jari kirinya mengusap halus alis Zendra.

Ia berucap lembut, “Jangan ditahan, Mas.”

“Kita kan ngelakuinnya berdua, masa cuma adek yang keenakan.”

Zendra mencium telapak tangan yang menangkup wajahnya. Ia tersenyum senang. Bukan senang karena ia bisa leluasa menggenjot Zidan, tapi ia senang dianugerahi pacar yang sangat pengertian.

Zendra pun menegakkan tubuhnya, ditekuknya kaki Zidan hingga menempel di dada. Membuat lubangnya semakin jelas terekspos.

Ia kembali menggenjot seperti tempo awal. Pelan-pelan… Namun lama-kelamaan semakin kencang.

Ia menghentak-hentakkan penisnya kuat dan dalam.

Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan kalimat pujian kepada sang pujaan.

Suara erangan serta desahan memenuhi kamar Zendra. Mereka bahkan sudah tidak peduli apabila ada orang lain yang menangkap basah perbuatan mereka.

“Ngghh aahhh…”

Bibir merah Zidan yang sedikit terbuka terlihat sangat menggairahkan di mata Zendra.

Ia pun memasukkan dua jarinya ke sana, Zidan mengulum jemari tersebut dengan semangat, seperti mendapatkan es krim di musim panas.

Jarinya menekan-nekan lidah Zidan, hingga air liur mengalir dari sudut bibir.

Pemandangan ini membuat penisnya semakin mengembung.

Dilepaskannya jemarinya dari mulut Zidan, tangannya turun untuk mengocok penis panjang pacarnya tersebut.

“Mmmh-mas… Adek mau keluar nghhhh…” Air matanya mengalir membasahi pipi, Zidan punya kebiasaan menangis apabila terlalu emosional, baik karena perasaan senang ataupun sedih.

ㅤ Zendra dapat merasakan penis yang ada di genggamannya bergetar mengeluarkan cairan kental. Dada Zidan kembang kempis, tubuhnya bergelonjang.

Setelah berdiam sejenak untuk memberi waktu Zidan menikmati pelepasannya, ia kembali menumbuk lubang anal kesayangannya dalam, berusaha mendapatkan pelepasannya juga.

Pada hentakan ke delapan, ia mengeluarkan penisnya dari lubang Zidan saat dirasa ejakulasinya sudah di ujung tanduk.

“Nghhh ahhhhh…” Lenguhan panjang menggema di penjuru dinding kamar.

Dengkul Zendra lemas saat cairan kental keluar memenuhi ujung kondomnya.

Tubuhnya ambruk di pelukan kekasihnya, kepalanya bersandar di dada Zidan.

Kepalanya mendongak ke atas, dikecupnya rahang tegas Zidan. “Makasih ya, Sayang.”

Kemudian ia bangkit untuk membereskan sisa pelepasannya dan juga Zidan.


ㅤ ㅤ Zendra mendekap Zidan yang berbaring di lengannya. Keduanya saling memeluk satu sama lain di balik selimut tebal, masih telanjang bulat.

“Adek kapan-kapan mau cobain di atas juga, nggak?” tanya Zendra. Sepertinya ia serius soal agenda eskplorasinya dulu.

Zidan mengeratkan pelukannya. Ia menggeleng pelan, menenggelamkan kepalanya pada bahu Zendra.

“Adek udah nyaman kaya gini. Mentang-mentang badan adek gede, terus adek macho, selama ini orang-orang berekspektasi kalau adek yang di atas. Padahal nggak harus begitu, kan?” oceh Zidan mengerucutkan bibirnya gemas.

Zendra tertawa renyah.

“Iya Sayang, it’s just sex position, kok,” jawabnya dengan senyum, kemudian mencium kening Zidan.

. .

Mereka masih terjaga, saling diam memeluk satu sama lain. Hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar.

“Mas…” Zidan memecah keheningan.

“Hm?”

“Adek udah bilang, jangan ditahan…”

Zendra terkejut, ia berdehem sebelum memiringkan tubuhnya bertumpu pada sikunya untuk menghadap ke arah Zidan.

“Emang boleh nambah?”

Sontak Zendra menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka setelah mendapat jawaban berupa anggukan.

Bersiap untuk ronde kedua.


Pemerintah harus menjadikan gue duta kondom nggak, sih?

✨Penggunaan pelumas sangat penting ya, Sahabat. Diusahakan gunakan yang sillicone base, karena kalau bahan dasar air lebih cepet kering, kalau nggak sering re-apply berpotensi melukai lubang senggama kalian. Pakai air liur juga sebaiknya dihindari karena dia cepet kering, bisa menularkan PMS/IMS, beberapa sumber juga mengatakan air liur bisa menurunkan kualitas kondom.✨

Pesan moral yang dapat diambil dari part ini adalah, TITIT BOT NGGAK MELULU MUNGIL DAN BOT NGGAK MELULU KEMAYU!

Sekian khamsahaeyo ✨privatter sebagai sarana edukasi (kali ini bikin sange dikit lah tp gpp bonus), semoga bermanfaat✨