Kondisi Zidan sudah membaik, pada awalnya. Namun karena Zidan bebal dan memaksa masuk kuliah di hari Senin—yang jadwalnya padat bukan main—anak itu tumbang lagi. Bunda Zidan yang mendengar kabar itu langsung menjemputnya pulang.
Di rumah, kerjaan Zidan hanya makan, minum, tidur, buang air. Zidan merasa sudah sembuh setelah beberapa hari istirahat total. Tapi, bundanya bilang, sekalian izin kuliah seminggu aja. Karena restu bunda adalah restu segala dunia, Zidan ya seneng-seneng aja.
Masalahnya di Zendra.
Padahal mereka pernah berpisah jauh lebih lama dari ini, namun untuk yang kali ini, Zendra betul-betul tidak tahan. Ia bahkan membolos empat SKS di hari Jumat untuk menyusul ke rumah pacarnya.
Kedatangan Zendra ke rumah, disambut dengan riang gembira oleh calon bunda mertua. Sangat gembira.
“Makasih ya nak Zendra ganteng, udah main ke rumah. Apa nggak mau sekalian nginep aja? Masih banyak kamar kosong kok, bunda sama Jidan kan cuma tinggal berdua,” ucap bunda di sela-sela makan malam mereka.
Penawaran yang menggiurkan tentu saja bagi Zendra, tapi demi menjaga imej calon mantu idaman, ia harus menjaga martabat dan wibawa.
“Enggak perlu Bunda, nggak enak, nanti malah ngerepotin. Zendra pulang ke kos aja, belum terlalu malem juga,” jawab Zendra sambil tersenyum ramah.
“Yah, sayang banget, padahal bunda mau sekalian minta tolong.”
“Minta tolong apa, Bunda?” sahut Zendra terlalu cepat. Terlalu semangat melihat kesempatan untuk cari muka.
“Jadi tuh, sebenernya bunda besok ada janji nginep-nginep di villa gitu sama geng bunda waktu kuliah. Tapi karena si bontot sakit nggak bisa ditinggal, bunda nggak jadi berangkat, deh.” Bunda Zidan menatap netra Zendra dengan mata yang penuh harap.
“Bunda! Jie kan udah bilang, bunda pergi aja nggak apa-apa, Jie udah sembuh, bisa ditinggal sendirian.”
Zidan mendapat jeweran di telinga kanannya.
“Kamu tuh kalau bunda tinggal pasti makannya mie lagi, mie terus! Nggak ada yang ngawasin buat makan yang bener!”
Zendra tersenyum, lalu berdehem pelan.
“Bunda mau Zendra aja yang jagain Jidan di rumah?” ucap Zendra lembut memotong perdebatan ibu dan anak di depannya.
Bunda Zidan langsung menoleh ke arah Zendra, menatap pacar anaknya itu dengan berbinar-binar. Ah, sekarang Zendra mengerti, Zidan mendapat sorot mata penuh pikat itu dari mana. Kekuatan genetika.
Akhirnya, keesokan paginya, bahkan saat kedua pemuda itu belum bangun tidur. Bundanya sudah berangkat dengan meninggalkan satu wajan nasi goreng serta selembar catatan di meja makan.
Nggak boleh macem-macem ya, anak-anakku sayang.
Zendra memang tidak ada sedikitpun niat untuk macam-macam, namun diberi warning begitu, Zendra makin tidak berani macam-macam. Bahkan untuk sekadar menyulut rokoknya di rumah ini saja Zendra segan.
ㅤ
Sudah lebih dari setengah jam setelah Zendra pamit pada Zidan untuk membeli cemilan di Indomaret. Padahal Zidan tahu, niat asli Zendra adalah untuk merokok di sana.
Karena bosan menunggu lama sendirian, Zidan memutuskan untuk menyusul pacarnya ke Indomaret terdekat yang ada di samping gerbang masuk kompleks perumahannya.
Sepeda Polygon abu-abunya ia parkirkan di depan minimarket sejuta umat. Ia mencari ke dalam, di balik setiap rak di sana, namun tidak menemukan paras tampan kekasihnya. Di depan, tempat kursi dan meja besi berjejer pun, ia tak menemukan Zendra di sana.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, kayuhan Zidan memelan saat melihat punggung kokoh familiar sedang duduk santai di bangku panjang lapangan voli yang kosong.
Zendra sedikit tersentak melihat tubuh jangkung pacarnya berjalan mendekat dengan sepeda yang dituntun, hingga sang empu memarkirkan sepedanya tepat di sebelah bangku yang ia duduki.
“Aduh maaf, gue kelamaan, ya? Sampe disusulin gini,” ucap Zendra sembari berusaha memadamkan rokoknya yang masih bisa beberapa kali dihisap.
“Lanjutin aja, nggak apa-apa.” Zidan ikut mendudukkan dirinya pada bangku kayu di bawah rindangnya pohon kersen. Ia hanya mengistiratkan punggungnya pada sandaran bangku dan menatap lurus ke depan. Sedang lelaki di sebelahnya melanjutkan kegiatan yang sempat terinterupsi karena kehadirannya.
Entah mengapa keheningan ini terasa canggung, Zidan jadi teringat kencan pertama keduanya di Taman Lansia. Potongan memori berputar di kepalanya.
Zidan tersenyum saat melihat Zendra yang mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya berusaha sebisa mungkin tidak mengarah pada dirinya.
“Emang enak, ya?” Konteks pertanyaan Zidan adalah rokok yang sedang disesap Zendra. Pertanyaan basa-basi sebetulnya. Sebagai anak laki-laki dengan pergaulan yang sedikit liar, Zidan tentu pernah mencoba menghisap rokok, saat SMP dulu. Dalam ingatannya, rasanya tidak enak dan asapnya membuat tenggorokannya seperti tercekik. Kenangan buruknya itu yang menyebabkan dia tidak mau lagi merokok hingga sekarang.
“Enak kalau yang ini, ada rasanya soalnya.”
Zidan melirik bungkus rokok di atas bangku di antara keduanya. Kotak dengan nuansa putih dan nila, berbeda dengan rokok Zendra yang biasanya. Memang beberapa waktu lalu Zendra sempat bercerita ingin mengurangi kadar rokoknya, pelan-pelan dimulai dengan transisi oleh rokok yang lebih ringan. Tapi dihitung dari lamanya Zendra di luar rumah, ia pasti sudah menghabiskan lebih dari dua batang, agaknya sedikit percuma, tapi usahanya patut diapresiasi. Untuk perokok sekelas Zendra, bukan lagi keenakan yang dicari, namun sensasi ketenangan dan kepuasan yang didapat dari zat adiktif yang terkandung dalam gulungan tembakau tersebut.
“Mau nyobain?”
Zidan mendongak dan memukul dada Zendra pelan.
“Ih, dasar pembawa pengaruh buruk!”
Zendra hanya terkekeh mendengarnya, ia mematikan rokoknya dan melempar puntungnya pada tempat sampah yang ada di sebelahnya. Satu tangannya terulur untuk menangkup pipi Zidan, mengusapnya dengan ibu jari pelan.
“Jangan ngomel-ngomel dulu dong, Sayang.” ㅤ
ㅤ cup
Zidan terkejut. Tanpa aba-aba, Zendra menyatukan bibir mereka berdua. Ia membeku, selama beberapa detik hanya mempertahankan kecup. Hingga Zendra mengetuk-mengtukkan lidahnya pada belah bibir Zidan, meminta izin untuk masuk.
Zidan membuka mulutnya, tangannya menggenggam kuat otot bisep Zendra. Masih tidak membalas ciuman, ia hanya membiarkan Zendra bermain-main dengan lidahnya di dalam sana. Melilit, menyusuri setiap indera pengecapnya, membagi perpaduan rasa manis, asam, dan sepat jejak rokok yang dihisap.
Ciumannya singkat, Zendra menjauhkan wajahnya setelah memberi satu lumatan gemas pada bibir Zidan.
“Kaya gitu rasanya.”
Zidan menjilat sisi bibirnya yang basah akan salivanya sendiri, ia menengguk ludahnya kasar.
“Oh,” jawab Zidan datar. Sangat kontradiktif dengan wajahnya yang semerah buah kersen yang bergantungan di atas kepalanya.
Zidan bangkit dari duduknya, berbalik mengambil cepat sepeda dan kabur dengannya.
“Bang, ayo pulang! Mendung!” teriak Zidan yang punggungnya sudah semakin menjauh.
Zendra tertawa melihat pacarnya yang salah tingkah terlihat sangat menggemaskan. Ia memandang sejenak pada langit yang menggelap. Bahkan alam semesta mendukung Zidan untuk sembunyi dari rasa malunya.