Sesampainya di kos, Zendra tergopoh-gopoh menuju kamar pujaan hatinya yang sedang sakit. Jika ada yang melihat kondisinya yang kelimpungan saat ini, ia pasti akan dikatai, “Ah anjir, lebay banget lu, cuma panas doang udah kaya denger kabar istri mau ngelahirin.”

Tapi memang begitu lah caranya mencintai. Bukan cara yang seratus persen baik.

Mengingat bagaimana ia kebut-kebutan di sepanjang perjalanan.

Telinganya seakan tuli, padahal ribuan kali dicaci-maki klakson pengendara lain.

Matanya seakan buta, tak bisa bedakan warna, yang merah dianggapnya hijau.

Mulutnya seakan bisu, saat Markus bertanya dengan raut bingung, “Loh Zen, nggak jadi nginep di rumah?”

Zendra berhenti sejenak di ambang pintu kamar yang terbuka lebar, menampilkan Markus yang sepertinya sedang mengemban tugas untuk mengganti kompres Zidan.

Ia meraup napas sebanyak-banyaknya, ibu jarinya menyisir rambutnya yang berantakan karena helm kebesarannya—entah milik siapa, saking terburu-burunya dia bahkan asal mencomot helm di garasi rumah—.

“Udah minum obat?” tanya Zendra dari ujung tempat tidur, entah pada siapa. matanya terus mengamati Zidan lekat, namun yang diamati nampak tak mungkin menjawab pertanyaannya karena terlampau lemas.

“Udah, sejam yang lalu.” Akhirnya Markus mewakili menjadi juru bicara.

“Makannya?”

“Cuma beberapa sendok aja, kayanya lidah dia lagi nggak enak, sama malah bikin mual.”

Jujur saja, Markus sebenernya nggak tahu kenapa harus menjelaskan detail kondisi Zidan kepada pria yang sekarang sedang mengambil posisi untuk duduk di sisi ranjang yang lain.

Tapi instingnya memberi sinyal, bahwa Zendra berhak mendapat informasi itu.

“Bang, gerah…” tutur Zidan lemah, badannya menggeliat kecil tak nyaman karena peluh yang membanjiri tubuhnya.

Ada dua abang di ruangan ini. Abang yang satu terlihat kikuk, bingung harus merespon dan bertindak apa.

Abang yang satu lagi, dengan sigap membelai surai hitam kecoklatan Zidan, menyeka keringat pada pelipis menggunakan punggung tangannya. Hembusan napas keluar saat merasakan suhu panas yang menjalar di sana.

Tangan yang satunya, terulur untuk membuka selimut tebal yang menutupi tubuh jangkung Zidan. Mengecek pacarnya yang ternyata masih mengenakan kemeja yang tampak kurang nyaman digunakan untuk beristirahat.

Jemarinya menggapai kancing teratas kemeja merah flanel bermotif kotak—kemeja yang ujungnya pernah sobek terjepit pintu mobil Leo, tapi itu adalah baju kesayangan Zidan, semakin sayang karena kemeja itu yang dikenakan pada salah satu momen berharga dalam hidupnya—.

Pergerakan tangan Zendra terhenti saat hendak membuka kancing ketiga. Matanya melirik ke arah Markus, memberi kode enkripsi.

Paham dengan kode tersebut, Markus justru mentransimikannya kepada Zidan. Menatap wajah adik kos-kosannya yang paling bontot, mencari persetujuan.

Posisinya ‘kan Markus nggak tahu kalau mereka berdua pacaran, kalau ini termasuk modus pelecahan seksual gimana?

“Maass…”

Markus terkejut mendengar rengekan Zidan, lebih terkejut lagi saat lelaki itu mendusel sambil kedua tangannya berusaha memeluk pinggang Zendra.

Dekripsi konkret bentuk persetujuan dari Zidan.

Markus bangkit dari duduknya, ia berdehem singkat. Matanya menatap ke arah Zendra, kelihatan betul tenggorokannya tercekat, menahan banyak tanya yang ingin dilontarkan.

Namun yang keluar hanya, “Titip Jidan.”

Zendra sedikit tersinggung dengan frasa itu. Markus salah, bukan dia yang harusnya dititipi.

Semua hal yang dilakukan teman-teman kosnya sejak tadi, seharusnya ia yang mengambil peran.

Namun Zendra juga salah, banyak peran yang bisa dilakukan, hanya olehnya.

Zendra membuka seluruh kancing kemeja Zidan setelah kepergian Markus.

Ia mengangkat punggung Zidan pelan untuk melepaskan kemeja itu seutuhnya.

Ia memutari ranjang, duduk di sisi yang semula adalah posisi Markus. Ia mengecek air di dalam baskom, masih hangat.

Dengan telaten, dibasuhnya tubuh Zidan dengan handuk hangat, menyeka keringat yang membuat Zidan sedari tadi tidak nyaman. ㅤ ㅤ Setelah mengganti bawahan Zidan dengan celana training yang lebih nyaman, bukannya mamakaikan baju, Zendra justru ikut melepaskan kaosnya.

Tagar CMIIW, setahu Zendra, skin to skin dengan orang yang sedang demam bisa membantu untuk menurunkan panas.

Maka dari itu, di balik selimut tebal, ia mempraktekannya sekarang.

Dibawanya Zidan dalam pelukan hangatnya, dibiarkan dadanya menjadi bantal bagi kepala besar pacarnya.

Dibiarkan kulit abdomennya saling menempel dengan kulit dada Zidan.

Lengannya merengkuh punggung dan memeluk pinggang Zidan erat.

Bibirnya mengecup puncak kepala kekasihnya bak merapalkan mantra-mantra pengobatan.

“Mas ngapain parkir sepeda di depan lemari adek?” ucap Zidan lirih.

Tanpa mengikuti arah pandang mata Zidan yang terbuka sayu pun, Zendra tahu, tidak akan ada apa-apa di sana, pacarnya ini hanya sedang berhalusinasi, efek dari sakit.

Ibu jarinya terangkat untuk membelai pangkal hidung Zidan, memberi stimulasi agar matanya kembali terpejam.

Baru beberapa menit, Zidan nampak mengerutkan alisnya tak nyaman. Pipinya yang mengembung menjadi sinyal bagi Zendra untuk bangkit mengambil asal plastik Indomaret yang tergeletak di meja belajar Zidan.

“Hoeekkk”

Zendra membantu Zidan untuk duduk lebih nyaman dari posisi tidurnya. Dielus-elus punggung kekasihnya lambut.

Matanya berkaca-kaca sedih saat melihat Zidan yang terlihat sangat mual, namun isi perutnya seperti sudah tidak ada yang bisa dikeluarkan. Hanya sedikit ampas bubur dan cairan lambung yang mengisi plastik putih tersebut.

Tanpa rasa jijik, Zendra menyeka tepi bibir Zidan yang basah akibat muntahannya.

Saat dirasa kekasihnya itu mulai tenang dan napasnya kembali teratur. Zendra akhirnya bangkit untuk memakaikan Zidan—dan dirinya sendiri—baju sebelum turun untuk mengambilkan air minum hangat.

ㅤ ㅤ Zendra hendak kembali ke kamar Zidan, langkahnya terhenti saat melihat Markus duduk di tengah persimpangan anak tangga.

Kedua sikunya ditopangkan di atas paha, telapaknya menggenggam satu sama lain, matanya menatap lurus ke arah Zendra.

Explain.” Itu bukan pertanyaan, apalagi penawaran, itu jelas todongan penjelasan.

Air hangat pada genggamannya, mengingatkan Zendra bahwa pacarnya sedang membutuhkannya, segera. Karenanya, ia tak mau mengulur waktu lebih lama.

Mungkin memang sudah template-nya. Zendra membuka mulut, mengeluarkan kalimat yang sama seperti yang ia berikan kepada Leo.

ㅤ “Zidan pacar gue, Bang.”

Dibanding ekspresi terkejut, kelegaan yang justru tergambar dari wajah Markus.

“Yooo, dudee-“

“Bisa minggir dulu nggak, Bang? Jidan nungguin gue.” potong Zendra sebelum Markus dan kebiasaannya saat heboh nyerocos panjang lebar akan mengulur waktunya lebih lama.

“Okay, Sorry.” Markus menggeser pantatnya untuk memberi jalan pada Zendra.

“Jadi yang gue denger waktu itu bukan lo lagi nonton bokep?”

Zendra hanya terkekeh sembari menaiki tangga, memberikan pundak Markus dua kali tepukan saat melewatinya. “Gue juga sorry ya, Bang.”


ㅤ Zendra membuka matanya saat merasakan adanya pergerakan di pelukannya, jam digital di nakas Zidan menunjukkan pukul tujuh. Ia baru memejamkan mata satu jam, setelah semalaman terjaga untuk menjaga Zidan. Padahal setelah muntah terakhir tadi malam, kondisi pacarnya itu sudah lebih mendingan. Sudah tertidur pulas juga, hanya saja Zendra kelewat cemas sampai tiap jam mengecek suhu badan Zidan.

Zidan menggeliat pelan dan membuka mata perlahan, tersenyum manis saat melihat wajah kekasihnya.

“Kirain cuma mimpi, taunya beneran tidur dikelonin sama Mas.”

Zendra ikut tersenyum, lalu mengecup kening Zidan yang sudah tidak sepanas tadi malam. “Mas bikinin bubur, ya?”

“Nggak mau, nggak laper.”

“Tetep harus makan dong Sayang, biar bisa minum obat.” Zendra berusaha melepaskan pelukan Zidan yang semakin erat pada tubuhnya.

“Ihhhh, dibilangin nggak mau. Udah diem di sini aja.”

Perfect timing.

Sebelum bujukan Zendra berubah menjadi paksaan, pintu kamar Zidan terbuka, menampakkan Leo yang melangkah mendekat dengan semangkuk bubur di tangannya.

“Dapet shift pagi nih gue ngurusin pasien.”

Zendra hendak bangkit untuk mengambil alih mangkuk dari tangan Leo, namun lagi-lagi ditahan oleh Zidan.

“Adek tuh cuma mau dipeluk sama mas, kenapa pergi-pergi mulu, sih!?”

Waduh, mulai ngambeknya.

Leo yang melihat itu, hanya berdecih. “Yaudah Bang, pelukin aja tuh pacar lo, biar gue yang nyuapin dia makan.”

Merasa tidak ada opsi lain yang lebih baik, maka Zendra—dan Zidan yang bergelayutan di tubuhnya—pun duduk bersandar pada headboard tempat tidur.

Leo betulan menyuapi Zidan yang kepalanya menempel manja di dada Zendra.

Zendra pun tampak tidak terganggu atau pun risih dengan itu, dan dengan eksistensi Leo.

“Uhuk.”

“Pelan-pelan dong Le, jangan banyak-banyak nyuapinnya,” tegur Zendra karena pacarnya sedikit tersedak.

Padahal Leo sengaja, biar tugasnya cepet selesai, biar cepet hengkang dari kamar ini.

Siapa juga yang mau lama-lama di antara dua sejoli ini, mana Zendra dengan nggak tahu malunya tiba-tiba nyium hidung Zidan.

Yang itu Leo masih maklum, Zidan memang menggemaskan, wajar kalau pacarnya nggak tahan buat nyium.

Tapi Leo betulan merasa terlempar ke universe lain, karena nggak pernah terbayang dalam hidupnya, di dunia ini, akan melihat adegan yang satu ini.

Zidan. Nyium. Bibir. Zendra.

Bukan ciuman yang gimana-gimana, cuma kecupan singkat yang diakhiri cengiran kedua belak pihak.

Tapi,

Diulang lagi, ya…

Zidan. Nyium. Bibir. Zendra.

Zidan, subjek.

Nyium, predikat.

Bibir Zendra, objek.

Zidan yang itu, yang disayang semua abang-abang kosan, memulai inisiasi buat nyium Zendra.

Zendra yang itu, yang paling keliatan nggak sayang sama Zidan dibanding abang-abang kosan yang lain.

Leo berdiri, menaruh paksa mangkuk bubur yang masih tersisa beberapa sendok ke tangan Zendra.

“Lanjutin sendiri.”

Ia tak tahan, melangkah keluar kamar, meninggalkan pasangan itu untuk kembali berduaan. ㅤ



Please, dibaca sampai akhir.ㅤ ㅤ

Menurut hasil penelitian Purwaningsih dan Widuri (2019), terdapat perbedaan secara bermakna suhu tubuh pada bayi demam sesudah dilakukan skin to skin contact (PMK).

Hal ini disebabkan karena hipotalamus di otak akan menganggap area tersebut menjadi panas di luar batas titik pengaturan (set point), maka impuls dikirimkan untuk menurunkan suhu tubuh.

Serta dengan skin to skin contact (PMK) maka bayi akan lebih merasa nyaman karena dapat mendengar detak jantung ibunya yang pada akhirnya metode skin to skin contact (PMK) ini lebih cepat dalam menstabilkan suhu tubuh bayi.

Tentu saja di AU ini Zidan adalah lelaki dewasa dan bukan bayi. Cara ini agaknya kurang efektif diterapkan pada orang dewasa. Makanya aku mengoreksi ke-sok-tahu-an Zendra. Biar nggak jadi salah informasi.

Yaudah sih, gitu aja, lagian ini cuma karya fiktif. Hihi.

DAFTAR PUSTAKA ㅤ Purwaningsih H, Widuri. 2019. Pengaruh skin to skin (pmk) terhadap penurunan suhu tubuh pada bayi demam. J Perawat Indonesia 3(1): 79-84. e-ISSN 2548-7051.