굿모닝 남친
Kepalanya terangkat ke atas untuk menengok teman minumnya yang sedang berbaring di tempat tidur yang ada di sampingnya. Hugo masih tertidur lelap, biasanya ia akan tidur di kasur bawah, namun pengecualian untuk tadi malam. Zidan membaringkan Hugo di atas tempat tidur dan merebahkan dirinya sendiri di kasur bawah.
Zidan bangkit mendudukkan diri, memijit pelan pelipisnya. Dunianya masih terasa sedikit berputar akibat efek alkohol semalam. Ia melirik jam digital di atas nakasnya yang menunjukkan angka 6.30 AM. Padahal mereka melanjutkan kegiatan minum-minum sampai pukul tiga, tapi Zidan sudah terbangun sepagi ini.
Zidan menghembuskan napasnya pelan, ada kelas yang harus dihadirinya nanti. Ia pun berdiri melangkahkan kakinya ke dapur, berencana untuk memasak mie kuah pedas, hitung-hitung sebagai pereda pengar.
ㅤ
Saat langkahnya memasuki dapur, Zidan langsung disuguhi pemandangan seorang lelaki berpakaian serba hitam yang terlihat kontras dengan kulit putihnya, sedang berdiri di depan dispenser meneguk air tergesa. Dari samping, terlihat jelas bagaimana hidung pria tampan itu terpahat mancung sempurna, tampak sedikit peluh menempel di keningnya serta napasnya yang terengah-engah, menandakan sosok tersebut baru saja kembali dari kegiatan bersepeda.
ㅤ
Zidan berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara.
Secara tiba-tiba, mencuri kecup pada pipi lelaki yang masih sibuk meneguk air putih.
ㅤ
“Selamat pagi, Mas Pacar.”
Zendra tersedak akibat perlakuan mendadak kekasihnya, sedang sang pencuri hanya tersenyum tanpa dosa.
“Bikin kaget aja, pagi-pagi cium-cium.” Zendra berlagak memasang wajah galak, namun gagal karena senyumnya yang tak bisa ia tahan.
ㅤ
“Itu ciuman buat bayar kemarin-kemarin gue lebih sering sama bang Hugo dari pada sama elu, Bang.”
Zendra mengangguk dan ber-oh ria, dari mimik mukanya tersirat sebuah ide cemerlang.
“Hmmm, kalau gitu satu lagi dong, kan gue cemburunya dua kali.” Ia menepuk-nepuk pipi kanannya dengan telunjuk dan mencondongkannya pada Zidan.
ㅤ
cuup~
ㅤ
Lagi-lagi Zendra terkejut, ia berniat jahil, namun malah ia yang merasa dijahili.
Bukannya mendaratkan kecup di pipinya, Zidan justru mencium bibirnya.
ㅤ
“Huhmmm~ Kayanya gue harus nyiapin amunisi cium banyak-banyak deh, pacar gue cemburuan soalnya,” ucap Zidan pura-pura menguap dan meregangkan tangannya, berlalu menuju kompor melewati Zendra, kembali pada tujuan awalnya untuk memasak mie kuah. Namun bukan lagi untuk pereda pengar, kesadarannya sudah kembali penuh saat ia mencium Zendra.