circadiansins

“Kak Chenle!”

ㅤ “Udah bangun lo?”

Arta mengerjapkan mata, berusaha menjernihkan penglihatannya untuk kemudian disuguhi pemandangan berupa punggung Jersava yang sedang berkutat dengan komputer inventaris sekre. ㅤ

“Jer, filenya ada di data D,” tutur Arta masih setengah mengigau. Telunjuknya mengayun-ayun lemas tak tentu arah.

“Lu semalem nginep di sini?” ㅤ “…”

Hening.

Tak kunjung mendapat jawaban, Jersava menolehkan kepalanya ke belakang. Ia mendengus geli saat mendapati Arta yang kembali tertidur pulas disertai dengan dengkuran halus.

“Jangan pengen nikah dulu, gue belum siap,” ucap Jersava pelan sambil membenarkan posisi telapak tangan Arta agar tidak kesemutan saat bangun nanti.

ㅤ Deru ombak pecah berderai. Rembulan purnama terpantul apik pada laut pasang dekat penginapan sepasang kekasih yang baru saja selesai dengan pergulatan panas di ranjang. ㅤ “Cantik.”

Jisung mengalihkan pandangannya dari perenungan di balik jendela kamar mereka. Chenle sedang menatapnya lekat, jemari kasarnya lembut mengusap tengkuk sang pujaan sebelum NGGAK JADI DH MAU AKU BUAT NOSUNG YG KERAJAAN AJA INI WKKWW

Isinya nosung baikan kok, bukan angst. I promise.

ㅤ Sudah lewat tengah malam, Jisung masih belum bisa tidur. Biasanya, dalam kondisi seperti ini, member termuda itu bakal mengendap-endap ke kamar sebelah, membangunkan Jeno, terus minta ditemani tidur sambil di-puk puk pantatnya.

Tapi, hubungan mereka saat ini sedang tidak seperti biasanya.

Jisung bahkan ragu apakah Jeno ada di kamarnya atau tidak. Pasalnya, semenjak persiapan album Universe sampai sekarang, Jisung jarang melihat lelaki itu di dorm. Entah menghindari Jisung, atau memang jarang pulang karena kesibukan unit title track.

Namun, melihat Jaemin dan Shotaro yang tetap menampakkan diri seperti biasanya, Jisung simpulkan bahwa opsi pertama adalah jawabannya.

Untuk menyulut rasa kantuknya, Jisung memutuskan untuk memasak satu bungkus mie instan pedas.

Mata sipitnya yang semula fokus memperhatikan gelembung-gelembung rebusan mie, kini teralihkan saat mendengar suara pintu masuk terbuka.

Fokusnya semakin buyar saat mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali mendekat memasuki dapur.

ㅤ Dari pandangan ekor mata Jisung, Jeno sedang berdiri menenggak separuh botol air mineral di depan kulkas yang masih terbuka.

Jisung menelan ludah untuk menghilangkan perasaan canggung pada dirinya sendiri.

“Jam segini kok baru pulang?” tanyanya takut-takut, namun rasa perhatiannya sebagai seorang pacar lebih mendominasi.

Jisung masih pacar Jeno, ‘kan?

“Tadi ada yang harus diobrolin sama Mark hyung.”

“Oh.”

Jisung pikir, obrolannya akan selesai sampai di situ.

Jisung pikir, Jeno akan menghindarinya lagi seperti kemarin-kemarin.

Ternyata salah, Jeno malah menarik bangku, lalu duduk dengan tenang di meja makan.

“Kamu kebangun karena laper atau emang belum tidur?”

Eksistensi Jeno di sini saja sudah membuat hatinya berdesir tidak karuan, ditambah akhirnya pria itu mengajaknya mengobrol.

Jisung merasa senang sekaligus sedih mengingat kerenggangan keduanya beberapa waktu belakangan.

ㅤ “Belum tidur.”

“Kenapa belum tidur?”

Jisung menggigit bibir bawahnya, menahan emosi di dadanya. “Tumben nanya-nanya? Jeno hyung kemarin kemana aja?”

Dari balik punggungnya, Jisung dapat merasakan helaan napas berat Jeno. “Emang nggak boleh, khawatir sama pacar sendiri?”

Jisung masih pacar Jeno.

Setetes air mata lolos membasahi pipinya kemudian disusul dengan tetes tetes lain, hingga suara sesegukan memenuhi dapur.

Jeno panik, lalu melangkah manghampiri Jisung.

“Kamu duduk dulu, biar aku yang lanjutin masaknya,” ucap Jeno sembari mengambil alih sumpit dari tangan Jisung.


ㅤ Setelah beberapa menit, Jeno kembali duduk lalu menyodorkan semangkuk mie ke depan wajah Jisung yang sedang disembunyikan pada lipatan tangannya di atas meja.

“Makan dulu,” tegas Jeno saat melihat Jisung mengangkat wajahnya dan berusaha mengatakan sesuatu.

“Aku cuma mau bilang kalau itu punyaku.” Telunjuk Jisung mengarah pada mie yang ada di hadapan Jeno.

“Sama aja.”

“Beda, punyaku pedesnya dua kali lipat.”

“Punya kamu udah lembek, Jisung… Kamu tadi masaknya kelamaan, aku buatin yang baru. Kamu ‘kan sukanya mie yang tiga per empat mateng.”

Jisung hanya menunduk dan mulai menyeruput mie di hadapannya sesuai perintah sang kekasih.

“Tapi Jeno hyung ‘kan nggak terlalu kuat makan pedes.”

ㅤ Jeno selalu memikirkan Jisung, pun Jisung selalu memikirkan Jeno.

Bahkan member lain heran saat dua sejoli ini sedang dalam hubungan yang dingin.

Obrolannya dengan Mark tadi, juga banyak menyinggung tentang Jisung.

”Nggak boleh gitu Jen, kalian pacaran yang ngejalanin berdua, nggak boleh ngambil keputusan sepihak. Walaupun maksud lu baik, tapi belum tentu baik di Jisung.”

Wejangan Mark, Jeno tanamkan di hati dalam-dalam. Ia bermaksud menghampiri kekasihnya esok hari.

Betul kata orang, namanya jodoh nggak akan ke mana. Pulang-pulang, Jeno justru langsung disambut perawakan menggemaskan Jisung dengan setelan training suit merah jambu.

Jeno kangen Jisung. Banget. Ia hampir saja berlari merengkuh tubuh sang pacar, namun urung, mengingat keduanya belum berbaikan, agaknya pikiran kompulsif itu tidak cukup sopan untuk dilakukan.

ㅤ “Aku minta maaf.”

Jisung terdiam sebentar, mengabaikan perkataan Jeno lalu kembali menyumpit makanannya.

Ceritanya dia lagi balas dendam. Berminggu-minggu Jisung berusaha membujuk Jeno, tapi selalu dicuekin.

Jisung hanya mau sedikit, sedikit saja melihat Jeno memperjuangkan dirinya. Setidaknya sedikit merasakan apa yang Jisung rasakan.

“Akunya enggak dimaafin, nih?”

“…”

“Jisung?”

“…”

“Sayang?”

Sayangnya, Jeno tahu betul cara merayu Jisung.

“Sayang, sayang… Sayang kok ninggalin sendirian. Udah bosen ya, sama aku?” Jurus ngambek Jisung.

“Aku nggak pernah bosen sama kamu…”

“Terus kemarin apa? Aku doang tuh, yang kayanya patah hati. Kamunya biasa aja.”

“Aku enggak biasa aja. Aku juga kangen kamu bang-“

“Kalau kangen ya disamperin! Bukannya malah pergi!”

“Iya, aku minta maaf, ya? Aku salah. Aku pikir dengan kita pisah sebentar bisa memperbaiki keadaan, ternyata malah bikin makin parah.” Jeno mengusap lembut punggung tangan Jisung, berusaha meredam emosinya yang mulai membara.

“Kerjaan kita sama-sama lagi banyak, terutama aku. Kita jadi sering mempermasalahkan hal-hal yang nggak seperlunya diributin karena terlalu capek. Aku cuma takut melampiaskan semua itu ke kamu. Aku nggak mau bawa energi jelek ke kamu,” lanjut Jeno.

“Padahal aku enggak apa-apa.”

Jeno menatap wajah Jisung penuh tanda tanya.

“Aku enggak apa-apa kalau kamu ngelampiasin rasa capek kamu ke aku. Aku mau di sisi kamu bukan cuma pas seneng doang. Waktu kamu sedih, waktu kamu capek, aku juga pengen bisa jadi rumah buat kamu pulang, jadi tempat buat kamu bersandar.” Jisung berhenti sejenak untuk menarik napas.

ㅤ “Aku enggak apa-apa kita cekcok bentar soal hal-hal yang nggak penting. Paling ujung-ujungnya kita baikan, terus pelukan. Kalau kamu nggak ada, siapa yang aku peluk? Kamu mau aku tidurnya dikelonin Jaemin hyung?”

Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Jisung, Jeno sontak berdiri, kemudian memutari meja menghampiri Jisung.

“Nggak ada ya, Jaemin-Jaemin-an. Nggak mau, nggak boleh.”

“Kalau Renjun hyung, boleh?” Goda Jisung.

“Enggak.”

ㅤ “Sungchan?”

“Sembarangan!” ㅤ

“Terus bolehnya sama siapa?”

“Sama aku.” Jeno diam sejenak, menatap dalam pada netra Jisung. “…boleh?”

ㅤ “Iya, boleh.” Jisung membalas dengan senyuman hangat dan langsung dihadiahi dekapan erat dari Jeno.

Keduanya saling melepas rindu, menghirup aroma tubuh satu sama lain yang selalu menjadi candu.

“Makasih ya, Sayang.”

Jisung menarik diri, lalu menganggukkan kepalanya.

“Kembali kasih ya, Sayang.”

Jeno tersenyum lebar hingga tercipta bulan sabit pada kedua matanya.

Ia semakin mempersempit jarak di antara keduanya. Mendekatkan wajahnya, kemudian mencium bilah bibir Jisung dan melumatnya lembut.

ㅤ “Ada bekas kuah mie, aku bantu bersihin aja tadi.”

Jisung memukul pelan pundak Jeno yang sedang cengar cengir.

“Halah, modus.”

Keduanya saling melempar tawa. Tangan Jisung yang semula bertengger di pundak Jeno, kini perlahan naik, melingkar pada leher. Jemari lentiknya menekan tengkuk Jeno, menariknya untuk menyatukan pagutan mereka kembali. ㅤ ㅤ

Happy New Year, Happy New Tears.

Happy New Year, Happy New Tears.

Istirahat 30 menit dimanfaatkan secara bervariasi oleh para member NCT Dream. Mayoritas keluar untuk mencari kudapan dan menghirup udara segar. Bebarapa tinggal di ruang latihan untuk tiduran dan berleha-leha. Seperti yang dilakukan Lee Donghyuck atau akrab dipanggil Haechan.

Berbeda dengan Jaemin yang merebah santai di atas lantai berbantal tisu gulung—tanpa merepotkan orang lain—, Haechan sedari tadi menahan Jisung agar tetap tinggal untuk dijadikan objek pelukan.

Member termuda itu tidak keberatan. Bahkan sepanjang latihan tadi, Haechan terus menerus menempel dengannya seperti stiker, justru Jisung membalasnya dengan merengkuh, melingkarkan lengannya pada pinggang Haechan, seperti posisi mereka saat ini.

Jisung selonjoran, bersandar pada tembok dengan Haechan yang duduk di pangkuannya, memeluk lehernya seperti koala.

Jisung gemas dengan Haechan yang mengusak-ngusakkan hidung pada ceruk lehernya. Maka ia curi satu kecupan pada bibir yang sedang mengerucut lucu di hadapannya.

Senyum secerah matahari sontak merekah. Bukan Lee Haechan namanya kalau tidak ngelunjak. Dikasih hati minta ampela.

Ia menarik tengkuk Jisung untuk menyatukan bilah bibir mereka kembali. Bukan hanya sekadar kecup, Haechan melumat dan menghisap bibir Jisung lembut.

Jisung sesekali terkekeh pelan di sela-sela ciuman keduanya. Semakin gemas dengan perlakuan Haechan. ㅤ

Semuanya terasa hangat dan menyenangkan, hingga-

“Mmhhhh..”

Jisung menegang. Satu desahan yang lolos dari bibir pria manis dalam dekapannya, sukses membuat bulu kuduknya meremang.

Usapan lembutnya pada punggung Haechan seketika berubah menjadi cengkraman. Ia masih membiarkan bibirnya dilumat dan disesap beberapa saat lebih lama, sebelum melepas pagutannya.

Haechan hendak menyodorkan bibirnya lagi, namun ditahan oleh telunjuk Jisung, sedang ibu jarinya menyeka tepi bibir Haechan yang basah oleh saliva keduanya.

“Kenapa?” tanya Haechan merajuk.

“Nanti Jaemin hyung bangun…”

Lebih tepatnya, nanti titit Jisung bangun.

Lebih tepatnya lagi, titit Jisung udah bangun.

Tidak mau Haechan merasakan gundukan di balik celananya, Jisung melepaskan pelukan mereka berdua. Menggeser tubuh Haechan, bangkit berdiri, lalu berpura-pura,

“Kebelet pipis, mau ke kamar mandi dulu bentar.”


Setidaknya, fokusnya pada koreografi lagu baru saat melanjutkan latihan, ampuh mendistraksi dirinya dari hal-hal jorok yang ada di pikirannya.

Setidaknya, ia pulang dengan selamat karena mobilnya dan Haechan terpisah.

Namun tidak, saat akhirnya ia diam sendirian di atas ranjang kamarnya. Bayang-bayang desahan merdu Haechan kembali mengganggu pikiran dan tubuh bagian bawahnya, yang jika dibiarkan, Jisung tidak akan bisa tidur sampai fajar tiba.

Tangannya menyelusup masuk ke dalam celana tidurnya. Sambil mengusap pelan batang kejantanannya yang setengah menegang, dalam batinnya, Jisung berucap, “Haechan hyung, maafin gue coli sambil ngebayangin muka lo.”

“Hyung, perbuatan senonoh ini tidak termaafkan, karena gue mulai ngebayangin ngecrot di muka lo.”

Rasa bersalahnya tidak sinkron dengan kocokan yang semakin kencang pada penisnya.


Jisung kira, momen terberat dalam permasalahan selangkangannya sudah berakhir di malam ia melepaskan hasrat dengan bantuan tangannya sendiri—dan bantuan bayang-bayang wajah Haechan—, namun ia salah.

Sekarang, ia dihadapkan dengan masalah yang lebih besar.

Kilas balik pada lima belas menit yang lalu, Jisung bersantai di atas ranjangnya, menonton series Modern Family yang baru ia tonton satu dari total sebelas season.

Skit lucu rasa-rasanya tak lagi family friendly saat Haechan yang baru selesai bermain game di kamar sebelah, tiba-tiba masuk ke kamarnya dan ikut duduk di sampingnya sambil menggelendoti lengannya.

Jisung sudah tidak bisa mencerna skenario bagaimana bayi Lily terkunci di dalam mobil dan dua ayahnya yang panik bukan main.

Jisung sudah tidak bisa menangkap cerita mengapa Mr. Dunphy dan Mrs. Dunphy tiba-tiba melakukan balap lari.

Semua itu karena Haechan yang bermain-main dengan tangannya dan menciumi sepanjang rahang hingga ke lehernya.

Entah hanya firasat akibat horny, atau Haechan memang mengengelus-elus urat tangan dan jemarinya dengan sensual?

Jisung berdehem singkat, tenggorokannya sedikit tercekat karena menahan tegang. Akhirnya ia menggapai tangan Haechan yang sedari tadi menyentuhnya, menggenggamnya dan saling menautkan jari untuk menghentikan kegiatannya.

Ketenangan pada episode selanjutnya kembali terusik, saat Haechan tiba-tiba meniup telinga kirinya.

Jisung menoleh, menaikkan satu alisnya.

“Jangan ditahan. Gue tau, lo juga pengen.”

Jisung menelan ludahnya kasar. “Pengen apaan?”

Heachan melepaskan genggaman Jisung. Dengan gemulai, ia mengarahkan tangannya, berhenti tepat di selangkangan Jisung.

“See? You’re hard as fuck.”

Gelagapan, Jisung menepis tangan Haechan pelan. “Nggak ada hubungannya sama lo, Hyung.”

Haechan tersenyum mengejek sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Terus lo ngaceng karena apa? Kita lagi nonton sitkom, bukan bokep.”

Tanpa aba-aba, Haechan langsung menyingkirkan laptop, lalu melompat ke pangkuan Jisung. Sengaja menerjunkan belahan pantatnya tepat di penis Jisung.

Jisung menahan erangannya dan memalingkan wajah ke sembarang arah. Haechan menangkup pipinya, memaksa untuk saling tatap.

“Kesempatan nggak dateng dua kali loh, Jisung sayang. Gue hitung sampe tiga, kalau lo nggak mau, nanti gue pergi.”

“Satu…”

“Dua…” ㅤ

Jisung masih bergeming, Haechan mulai panik karena godaannya tidak mempan.

“Dua setengah…” ㅤ

“Ti-“

Mulut Haechan terbungkam oleh bibir Jisung yang melumatnya rakus. Ia tersenyum penuh kemenangan.

Jisung menciumnya tergesa dan penuh gairah. Lidah keduanya berdansa, menari satu sama lain. Haechan menepuk pundak Jisung untuk melepaskan pagutan mereka.

“Calm down Baby, jangan buru-buru. Pertama-tama, hyung mau liat dulu adik kecil ini udah segede apa,” ucap Haechan sembari mengusak surai Jisung.

Jisung tersenyum miring. “Gede banget sampe bikin lo nggak akan bisa manggil gue bayi lagi.”

Aura Jisung seketika berubah, tatapannya menggelap dan suara berat yang biasanya menenangkan, kini menggairahkan sarat dominasi.

Haechan makin menyukainya.

Lelaki gemini itu menuruni tubuh jangkung Jisung, melepaskan celana training adidas hitam hingga sebatas paha.

Haechan menelan ludah kasar saat dihadapkan dengan penis panjang Jisung yang tegak sempurna.

Jisung tersenyum bangga melihat reaksi tersebut. Tangannya membelai rambut coklat Haechan, merapikan helaian yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.

“Konsep kita nggak usah buru-buru. Gue sabar nungguin kok, sampe lo siap menta-Ahhh!”

Ucapan Jisung terpotong oleh Haechan yang tiba-tiba menghisap kuat kepala penisnya.

“Sekarang siapa yang belum siap mental?” ledek Haechan sebelum kembali menjilati penis Jisung. Lidahnya bergerilya, mulai dari buah zakar hingga ke lubang penis.

Ia jilati sebentar cairan pre-cum yang mulai keluar bercucuran, lalu memasukkan batang penis Jisung ke dalam mulutnya.

Haechan menaik turunkan kepalanya, sesekali mengerang untuk menciptakan vibrasi pada kulimannya.

Jisung mendongakkan kepalanya, lagi-lagi belaiannya berubah menjadi cengkraman. Ia mendorong kepala Haechan, agar penisnya bisa masuk lebih dalam.

“Holy shit, can I fuck your mouth?”

Haechan mengangguk tanpa melepaskan kulumannya.

Bertumpu pada lutut, Jisung menegakkan tubuhnya dan mulai memaju mundurkan pinggulnya, melesakkan penisnya masuk ke tenggorokan Haechan.

Mata Haechan berair menerima hantaman bertubi-tubi dari Jisung yang nampak seperti hilang akal, terpengaruh sihir dari magis mulut Haechan.

“Ahhh Hyung, mulut lo enak banget, gue nggak kuat.”

Jisung mengeluarkan penisnya, mengurut menumpahkan cairan putih kental di telapak tangannya sendiri.


“Ngghh… Ahhh…”

Punggung Haechan melengkung saat Jisung memainkan lubang analnya dengan jemarinya.

Ini yang paling Haechan dambakan. Sedari dulu ia hanya bisa membayangkan, bagaimana rasanya jemari panjang dan kekar milik anggota termuda itu masuk mengoyak lubang analnya.

Tapi tidak pernah terbayang, rasanya akan senikmat ini.

Jisung baru memasukkan dua jarinya, namun Haechan sudah kelojotan tidak karuan.

Jemari panjangnya ia lekukkan ke atas, membentuk kail, keluar masuk menumbuk prostat Haechan.

Kemudian disusul dengan jari ketiga dan keempat. Jisung mengecup sensual perut Haechan, semakin ke atas, lalu berhenti pada puting yang sudah menegang.

Jisung menjilatinya kasar, mengulum dan menghisapnya kuat. Haechan menangis keenakan menerima semua rangsangan pada tubuhnya. Hingga ia mencapai puncaknya, menyemburkan cairan putih kental pada perutnya sendiri, bahkan mengalir ke lubang analnya, sebagian mengenai dada bidang Jisung.

“Fuck, lidah lo juga enak banget, please lubang gue juga mau dijilatin,” rancu Haechan masih belum sepenuhnya sadar dari fase putihnya.

“Itu disimpen dulu buat nanti, sekarang lakuin yang gue mau dulu.”

“Ahhh!” pekik Haechan saat Jisung tanpa aba-aba langsung memasukkan seluruh penisnya ke dalam lubang Haechan.

Jisung menciumi wajah Haechan, mengabsen seluruh tahi lalat di wajahnya, membelai lembut pelipisnya yang basah akan keringat.

Ia selami netra Haechan penuh sayang, sebelum melumat bibirnya lalu menggerakkan pinggulnya pelan.

“Ji.. Faster-hhh”

“Tadi katanya nggak boleh buru-buru?”

Haechan bangkit memposisikan dirinya di pangkuan Jisung. Menggoyangkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri.

Jisung hanya tersenyum, ia cukup senang dengan posisi ini, karena begitu intim. Lengannya bisa dengan nyaman merengkuh tubuh Haechan, dan ia lebih leluasa mengecupi tubuh indah Haechan sambil memandangi wajahnya yang tetap menggemaskan walau sedang sange maksimal.

Saat dirasa lelaki di atas pangkuannya kini mulai kehabisan energi, Jisung kembali merebahkan tubuh Haechan ke atas kasur.

Genjotannya tak lagi pelan, kini Jisung betul-betul menghantam anal Haechan dengan dalam dan kuat. Jiwa poppin-nya sepertinya melekat di DNA hingga terbawa sampai ke ranjang.

Jisung mengeluarkan sebagian besar penisnya, lalu melesak masuk kembali dengan kencang.

“Ahhh! Ahhh! Ahhh!”

Hentakan demi hentakan terus dilakukan hingga penisnya terlihat menyembul dari perut Haechan.

“Ngghhhh… Jisungghhh….“

Jisung nyaris gila, desahan yang selama ini hanya ada di fantasinya sekarang betul-betul ia dengar secara nyata memanggil-manggil namanya.

Tangan Haechan berusaha menggapai penisnya sendiri untuk membantu pelepasannya, namun ditahan oleh Jisung, tangannya digenggam erat.

Alih-alih, Jisung menurunkan tubuhnya, menempel dengan tubuh Haechan. Dinamika genjotan dan liuk tubuh Jisung menciptakan friksi antara penis Haechan dan perut berotot Jisung.

Jisung masih sibuk menciptakan mahakarya kebiruan pada selangka Haechan, saat ia merasakan basah dan lengket pada perutnya, menandakan Haechan sudah mencapai orgasmenya.

Jisung kembali menegakkan tubuhnya, menaikkan satu kaki jenjang Haechan ke atas pundaknya.

Hentakannya lebih dalam dari yang sebelumnya, ritmenya cepat dan acak-acakan. Jisung mengerang rendah, menggigit paha dalam Haechan saat merasakan penisnya mulai mengembang dalam himpitan anal Haechan.

“Fill me up. Cum inside me,” lirih Haechan saat keduanya saling beradu tatap.

Jisung mengecup dalam kening Haechan, pinggangnya ia maju mundurkan pelan, memeras penisnya dengan lubang anal Haechan untuk menuntaskan pelepasannya.

“Damn… You’re so good, Hyung. You’re perfect,” bisik Jisung tepat di telinga Haechan lalu mengecup pipi gembulnya lembut.

Jisung bangkit mengeluarkan penisnya dari lubang Haechan. Ia benar-benar memenuhi anal Haechan dengan spermanya hingga banyak meluber keluar.

Cairan putih kental yang kontras dengan kulit eksotis Haechan tampak begitu lezat di mata Jisung.

“Hyung, nungging.”

“Istirahat bentar kenapa, Ji? Lo ‘kan juga baru keluar.” Haechan masih memejamkan matanya, terengah-engah.

“Tadi katanya mau dijilatin?”

Haechan sontak membuka matanya lebar, membulat gemas seperti anak anjing.

Tanpa pikir panjang, Haechan langsung memposisikan dirinya, menungging, menyuguhkan bokong sintalnya di depan wajah Jisung, siap untuk disantap.

ㅤ Alih-alih ya atau tidak, “Emangnya kamu udah puas seneng-seneng sama dunia kamu?” Menjadi jawabnya atas pertanyaan Mark yang sedang menggenggam kedua tangannya selepas rutinitas kencan Sabtu malam mereka.

“Udah cukup. Setelah ini, aku mau duniaku berputar di kamu.” Di sela-sela rasa groginya, Mark pancarkan sorot keseriusan penuh penegasan.

“Nikah itu beda loh, Mas. Setelah ini, nggak akan ada lagi dunia aku, dunia kamu. Setelah ini, menjadi dunia kita. Kamu bener-bener yakin?”

Pada banyak kisah cinta, ciuman hangat mereka di balik kaca mobil yang berembun dengan bulir rintik gerimis, akan mejadi akhir yang bahagia. Pernikahan selalu menjadi bab penutup pada buku romansa.

Pada Jisung, pernikahan adalah bab pengantar.

Sebab Mark ingkar.

Halaman pertama pernikahannya, penuh dengan indah mekarnya bunga-bunga.

Pertengahan halaman, bunga-bunga itu mulai layu, satu persatu gugur kelopaknya.

“Sayang, aku hari ini main ke rumah Jeno ya, dia baru pulang dari Chili.”

“Mas, kamu kan udah janji, hari ini mau nemenin aku ke rumah mama kamu? Kita udah tiga bulan nggak ke sana, loh?”

“Besok kan bisa ya, hm? Lagian, aku ketemu temen-temen ‘kan enggak setiap hari.”

Selepas Mark mencium keningnya dan melesat pergi, Jisung tahu, ia tahu bahwa besok tidak akan pernah terjadi.

Mas Mark Sayang, ga usah nungguin aku pulang. Dipaksa anak2 nginep, maaf ya. Minggu depan aja kita ke rumah mama, aku udah pamitin tadi. Love you ❤️

Mark masih sama baiknya. Di mata Jisung, tidak ada yang salah dari sifat suaminya. Semuanya masih sama. Terlalu sama.

Ia tanamkan dalam hatinya, bahwa perbedaan ada pada mereka untuk saling melengkapi.

Namun selama 4 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, kapal mereka nyanyang arah. Ada dua kompas yang berlawanan.

Jisung tidak pernah meminta waktu Mark ‘setiap hari’. Yang ia minta, hanyalah hidupnya dan Mark berdetik pada waktu yang sama.

Ritme hidup mereka berbeda. Jisung berusaha mengejar, kendatipun Mark tidak pernah berusaha mengalah untuk imbang. ㅤ

Bahkan pada denyut ranjang keduanya, selalu Jisung yang meminta. Mark tidak menolak, tidak pernah. Pun tidak pernah luntur kelembutannya.

Namun, rasa-rasanya, sebatas untuk menggugurkan tanggung jawab, memenuhi hak nafkah batinnya.

Mulai timbul banyak pertanyaan dalam benaknya.

“Mas, kamu masih cinta sama aku nggak, sih?” Pertanyaan Jisung cukup untuk menghentikan kegiatan makan malam mereka.

“Ya masih, lah.”

“Apa alasan kamu cinta sama aku?”

“Karena kamu juga cinta sama aku.”

Jisung mengangguk, menggigit bibirnya, menahan genangan pada pelupuk matanya agar tidak tumpah. Tidak sopan menangis di depan makanan.

Jisung tidak ingin dicintai karena mencintai.

Jisung tidak ingin diberi karena meminta.

Jisung tidak ingin dikasihani sedang ia selalu mengasihi.

Jisung tidak pernah suka dengan konsep pembagian hubungan, satu peran yang dilindungi, peran lain yang melindungi.

Satu peran yang diatur, peran lain yang mengatur.

Satu peran yang di- peran lain yang me-

Baginya, hubungan adalah perihal saling-

Saling melindungi.

Saling mengutarakan.

Saling mencintai.

Bahteranya bertahan semata-mata karena sudah terlalu jauh berlayar. Keduanya menumpangi karena sama-sama tidak sanggup berbalik putar arah. Walau mereka tahu, seberapa lama dan jauh lagi mereka berlayar, mereka tidak akan pernah mencapai tujuan yang sama, tetap melaut tak tentu arah, hanya akan dihujani badai yang menerpa.

Lagi-lagi, Jisung yang mengambil keberanian.

Pada ketukan palu pertama, tersiar kenangan-kenangan manis selama mereka bersama.

Pada ketukan palu kedua, manis yang berubah menjadi hambar, lalu pahit ujungnya.

Pada ketukan palu ketiga, Jisung menatap netra mantan suaminya, menyunggingkan senyum pada lelaki yang masih sangat dicintainya.

Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan.

“Mas, dunia kamu, dunia aku, selama ini, nggak pernah menjadi dunia kita.”

Mark menyetujui permintaan perpisahan. Ia juga tidak ingin, Jisungnya lebih lama tergores luka.

Ludo

Ludo