DRAFT SONATA GATA
Istirahat 30 menit dimanfaatkan secara bervariasi oleh para member NCT Dream. Mayoritas keluar untuk mencari kudapan dan menghirup udara segar. Bebarapa tinggal di ruang latihan untuk tiduran dan berleha-leha. Seperti yang dilakukan Lee Donghyuck atau akrab dipanggil Haechan.
Berbeda dengan Jaemin yang merebah santai di atas lantai berbantal tisu gulung—tanpa merepotkan orang lain—, Haechan sedari tadi menahan Jisung agar tetap tinggal untuk dijadikan objek pelukan.
Member termuda itu tidak keberatan. Bahkan sepanjang latihan tadi, Haechan terus menerus menempel dengannya seperti stiker, justru Jisung membalasnya dengan merengkuh, melingkarkan lengannya pada pinggang Haechan, seperti posisi mereka saat ini.
Jisung selonjoran, bersandar pada tembok dengan Haechan yang duduk di pangkuannya, memeluk lehernya seperti koala.
Jisung gemas dengan Haechan yang mengusak-ngusakkan hidung pada ceruk lehernya. Maka ia curi satu kecupan pada bibir yang sedang mengerucut lucu di hadapannya.
Senyum secerah matahari sontak merekah. Bukan Lee Haechan namanya kalau tidak ngelunjak. Dikasih hati minta ampela.
Ia menarik tengkuk Jisung untuk menyatukan bilah bibir mereka kembali. Bukan hanya sekadar kecup, Haechan melumat dan menghisap bibir Jisung lembut.
Jisung sesekali terkekeh pelan di sela-sela ciuman keduanya. Semakin gemas dengan perlakuan Haechan. ㅤ
Semuanya terasa hangat dan menyenangkan, hingga-
ㅤ
“Mmhhhh..”
Jisung menegang. Satu desahan yang lolos dari bibir pria manis dalam dekapannya, sukses membuat bulu kuduknya meremang.
Usapan lembutnya pada punggung Haechan seketika berubah menjadi cengkraman. Ia masih membiarkan bibirnya dilumat dan disesap beberapa saat lebih lama, sebelum melepas pagutannya.
Haechan hendak menyodorkan bibirnya lagi, namun ditahan oleh telunjuk Jisung, sedang ibu jarinya menyeka tepi bibir Haechan yang basah oleh saliva keduanya.
“Kenapa?” tanya Haechan merajuk.
“Nanti Jaemin hyung bangun…”
Lebih tepatnya, nanti titit Jisung bangun.
Lebih tepatnya lagi, titit Jisung udah bangun.
Tidak mau Haechan merasakan gundukan di balik celananya, Jisung melepaskan pelukan mereka berdua. Menggeser tubuh Haechan, bangkit berdiri, lalu berpura-pura,
“Kebelet pipis, mau ke kamar mandi dulu bentar.”
Setidaknya, fokusnya pada koreografi lagu baru saat melanjutkan latihan, ampuh mendistraksi dirinya dari hal-hal jorok yang ada di pikirannya.
Setidaknya, ia pulang dengan selamat karena mobilnya dan Haechan terpisah.
Namun tidak, saat akhirnya ia diam sendirian di atas ranjang kamarnya. Bayang-bayang desahan merdu Haechan kembali mengganggu pikiran dan tubuh bagian bawahnya, yang jika dibiarkan, Jisung tidak akan bisa tidur sampai fajar tiba.
Tangannya menyelusup masuk ke dalam celana tidurnya. Sambil mengusap pelan batang kejantanannya yang setengah menegang, dalam batinnya, Jisung berucap, “Haechan hyung, maafin gue coli sambil ngebayangin muka lo.”
“Hyung, perbuatan senonoh ini tidak termaafkan, karena gue mulai ngebayangin ngecrot di muka lo.”
Rasa bersalahnya tidak sinkron dengan kocokan yang semakin kencang pada penisnya.
Jisung kira, momen terberat dalam permasalahan selangkangannya sudah berakhir di malam ia melepaskan hasrat dengan bantuan tangannya sendiri—dan bantuan bayang-bayang wajah Haechan—, namun ia salah.
Sekarang, ia dihadapkan dengan masalah yang lebih besar.
Kilas balik pada lima belas menit yang lalu, Jisung bersantai di atas ranjangnya, menonton series Modern Family yang baru ia tonton satu dari total sebelas season.
Skit lucu rasa-rasanya tak lagi family friendly saat Haechan yang baru selesai bermain game di kamar sebelah, tiba-tiba masuk ke kamarnya dan ikut duduk di sampingnya sambil menggelendoti lengannya.
Jisung sudah tidak bisa mencerna skenario bagaimana bayi Lily terkunci di dalam mobil dan dua ayahnya yang panik bukan main.
Jisung sudah tidak bisa menangkap cerita mengapa Mr. Dunphy dan Mrs. Dunphy tiba-tiba melakukan balap lari.
Semua itu karena Haechan yang bermain-main dengan tangannya dan menciumi sepanjang rahang hingga ke lehernya.
Entah hanya firasat akibat horny, atau Haechan memang mengengelus-elus urat tangan dan jemarinya dengan sensual?
Jisung berdehem singkat, tenggorokannya sedikit tercekat karena menahan tegang. Akhirnya ia menggapai tangan Haechan yang sedari tadi menyentuhnya, menggenggamnya dan saling menautkan jari untuk menghentikan kegiatannya.
Ketenangan pada episode selanjutnya kembali terusik, saat Haechan tiba-tiba meniup telinga kirinya.
Jisung menoleh, menaikkan satu alisnya.
“Jangan ditahan. Gue tau, lo juga pengen.”
Jisung menelan ludahnya kasar. “Pengen apaan?”
Heachan melepaskan genggaman Jisung. Dengan gemulai, ia mengarahkan tangannya, berhenti tepat di selangkangan Jisung.
“See? You’re hard as fuck.”
Gelagapan, Jisung menepis tangan Haechan pelan. “Nggak ada hubungannya sama lo, Hyung.”
Haechan tersenyum mengejek sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Terus lo ngaceng karena apa? Kita lagi nonton sitkom, bukan bokep.”
Tanpa aba-aba, Haechan langsung menyingkirkan laptop, lalu melompat ke pangkuan Jisung. Sengaja menerjunkan belahan pantatnya tepat di penis Jisung.
Jisung menahan erangannya dan memalingkan wajah ke sembarang arah. Haechan menangkup pipinya, memaksa untuk saling tatap.
“Kesempatan nggak dateng dua kali loh, Jisung sayang. Gue hitung sampe tiga, kalau lo nggak mau, nanti gue pergi.”
“Satu…”
“Dua…” ㅤ
Jisung masih bergeming, Haechan mulai panik karena godaannya tidak mempan.
“Dua setengah…” ㅤ
“Ti-“
Mulut Haechan terbungkam oleh bibir Jisung yang melumatnya rakus. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Jisung menciumnya tergesa dan penuh gairah. Lidah keduanya berdansa, menari satu sama lain. Haechan menepuk pundak Jisung untuk melepaskan pagutan mereka.
“Calm down Baby, jangan buru-buru. Pertama-tama, hyung mau liat dulu adik kecil ini udah segede apa,” ucap Haechan sembari mengusak surai Jisung.
Jisung tersenyum miring. “Gede banget sampe bikin lo nggak akan bisa manggil gue bayi lagi.”
Aura Jisung seketika berubah, tatapannya menggelap dan suara berat yang biasanya menenangkan, kini menggairahkan sarat dominasi.
Haechan makin menyukainya.
Lelaki gemini itu menuruni tubuh jangkung Jisung, melepaskan celana training adidas hitam hingga sebatas paha.
Haechan menelan ludah kasar saat dihadapkan dengan penis panjang Jisung yang tegak sempurna.
Jisung tersenyum bangga melihat reaksi tersebut. Tangannya membelai rambut coklat Haechan, merapikan helaian yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.
“Konsep kita nggak usah buru-buru. Gue sabar nungguin kok, sampe lo siap menta-Ahhh!”
Ucapan Jisung terpotong oleh Haechan yang tiba-tiba menghisap kuat kepala penisnya.
“Sekarang siapa yang belum siap mental?” ledek Haechan sebelum kembali menjilati penis Jisung. Lidahnya bergerilya, mulai dari buah zakar hingga ke lubang penis.
Ia jilati sebentar cairan pre-cum yang mulai keluar bercucuran, lalu memasukkan batang penis Jisung ke dalam mulutnya.
Haechan menaik turunkan kepalanya, sesekali mengerang untuk menciptakan vibrasi pada kulimannya.
Jisung mendongakkan kepalanya, lagi-lagi belaiannya berubah menjadi cengkraman. Ia mendorong kepala Haechan, agar penisnya bisa masuk lebih dalam.
“Holy shit, can I fuck your mouth?”
Haechan mengangguk tanpa melepaskan kulumannya.
Bertumpu pada lutut, Jisung menegakkan tubuhnya dan mulai memaju mundurkan pinggulnya, melesakkan penisnya masuk ke tenggorokan Haechan.
Mata Haechan berair menerima hantaman bertubi-tubi dari Jisung yang nampak seperti hilang akal, terpengaruh sihir dari magis mulut Haechan.
“Ahhh Hyung, mulut lo enak banget, gue nggak kuat.”
Jisung mengeluarkan penisnya, mengurut menumpahkan cairan putih kental di telapak tangannya sendiri.
“Ngghh… Ahhh…”
Punggung Haechan melengkung saat Jisung memainkan lubang analnya dengan jemarinya.
Ini yang paling Haechan dambakan. Sedari dulu ia hanya bisa membayangkan, bagaimana rasanya jemari panjang dan kekar milik anggota termuda itu masuk mengoyak lubang analnya.
Tapi tidak pernah terbayang, rasanya akan senikmat ini.
Jisung baru memasukkan dua jarinya, namun Haechan sudah kelojotan tidak karuan.
Jemari panjangnya ia lekukkan ke atas, membentuk kail, keluar masuk menumbuk prostat Haechan.
Kemudian disusul dengan jari ketiga dan keempat. Jisung mengecup sensual perut Haechan, semakin ke atas, lalu berhenti pada puting yang sudah menegang.
Jisung menjilatinya kasar, mengulum dan menghisapnya kuat. Haechan menangis keenakan menerima semua rangsangan pada tubuhnya. Hingga ia mencapai puncaknya, menyemburkan cairan putih kental pada perutnya sendiri, bahkan mengalir ke lubang analnya, sebagian mengenai dada bidang Jisung.
“Fuck, lidah lo juga enak banget, please lubang gue juga mau dijilatin,” rancu Haechan masih belum sepenuhnya sadar dari fase putihnya.
“Itu disimpen dulu buat nanti, sekarang lakuin yang gue mau dulu.”
“Ahhh!” pekik Haechan saat Jisung tanpa aba-aba langsung memasukkan seluruh penisnya ke dalam lubang Haechan.
Jisung menciumi wajah Haechan, mengabsen seluruh tahi lalat di wajahnya, membelai lembut pelipisnya yang basah akan keringat.
Ia selami netra Haechan penuh sayang, sebelum melumat bibirnya lalu menggerakkan pinggulnya pelan.
“Ji.. Faster-hhh”
“Tadi katanya nggak boleh buru-buru?”
Haechan bangkit memposisikan dirinya di pangkuan Jisung. Menggoyangkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri.
Jisung hanya tersenyum, ia cukup senang dengan posisi ini, karena begitu intim. Lengannya bisa dengan nyaman merengkuh tubuh Haechan, dan ia lebih leluasa mengecupi tubuh indah Haechan sambil memandangi wajahnya yang tetap menggemaskan walau sedang sange maksimal.
Saat dirasa lelaki di atas pangkuannya kini mulai kehabisan energi, Jisung kembali merebahkan tubuh Haechan ke atas kasur.
Genjotannya tak lagi pelan, kini Jisung betul-betul menghantam anal Haechan dengan dalam dan kuat. Jiwa poppin-nya sepertinya melekat di DNA hingga terbawa sampai ke ranjang.
Jisung mengeluarkan sebagian besar penisnya, lalu melesak masuk kembali dengan kencang.
“Ahhh! Ahhh! Ahhh!”
Hentakan demi hentakan terus dilakukan hingga penisnya terlihat menyembul dari perut Haechan.
“Ngghhhh… Jisungghhh….“
Jisung nyaris gila, desahan yang selama ini hanya ada di fantasinya sekarang betul-betul ia dengar secara nyata memanggil-manggil namanya.
Tangan Haechan berusaha menggapai penisnya sendiri untuk membantu pelepasannya, namun ditahan oleh Jisung, tangannya digenggam erat.
Alih-alih, Jisung menurunkan tubuhnya, menempel dengan tubuh Haechan. Dinamika genjotan dan liuk tubuh Jisung menciptakan friksi antara penis Haechan dan perut berotot Jisung.
Jisung masih sibuk menciptakan mahakarya kebiruan pada selangka Haechan, saat ia merasakan basah dan lengket pada perutnya, menandakan Haechan sudah mencapai orgasmenya.
Jisung kembali menegakkan tubuhnya, menaikkan satu kaki jenjang Haechan ke atas pundaknya.
Hentakannya lebih dalam dari yang sebelumnya, ritmenya cepat dan acak-acakan. Jisung mengerang rendah, menggigit paha dalam Haechan saat merasakan penisnya mulai mengembang dalam himpitan anal Haechan.
“Fill me up. Cum inside me,” lirih Haechan saat keduanya saling beradu tatap.
Jisung mengecup dalam kening Haechan, pinggangnya ia maju mundurkan pelan, memeras penisnya dengan lubang anal Haechan untuk menuntaskan pelepasannya.
“Damn… You’re so good, Hyung. You’re perfect,” bisik Jisung tepat di telinga Haechan lalu mengecup pipi gembulnya lembut.
Jisung bangkit mengeluarkan penisnya dari lubang Haechan. Ia benar-benar memenuhi anal Haechan dengan spermanya hingga banyak meluber keluar.
Cairan putih kental yang kontras dengan kulit eksotis Haechan tampak begitu lezat di mata Jisung.
ㅤ
“Hyung, nungging.”
“Istirahat bentar kenapa, Ji? Lo ‘kan juga baru keluar.” Haechan masih memejamkan matanya, terengah-engah.
“Tadi katanya mau dijilatin?”
Haechan sontak membuka matanya lebar, membulat gemas seperti anak anjing.
Tanpa pikir panjang, Haechan langsung memposisikan dirinya, menungging, menyuguhkan bokong sintalnya di depan wajah Jisung, siap untuk disantap.