Marriage isn’t a happily ever after
ㅤ Alih-alih ya atau tidak, “Emangnya kamu udah puas seneng-seneng sama dunia kamu?” Menjadi jawabnya atas pertanyaan Mark yang sedang menggenggam kedua tangannya selepas rutinitas kencan Sabtu malam mereka.
“Udah cukup. Setelah ini, aku mau duniaku berputar di kamu.” Di sela-sela rasa groginya, Mark pancarkan sorot keseriusan penuh penegasan.
“Nikah itu beda loh, Mas. Setelah ini, nggak akan ada lagi dunia aku, dunia kamu. Setelah ini, menjadi dunia kita. Kamu bener-bener yakin?”
Pada banyak kisah cinta, ciuman hangat mereka di balik kaca mobil yang berembun dengan bulir rintik gerimis, akan mejadi akhir yang bahagia. Pernikahan selalu menjadi bab penutup pada buku romansa.
Pada Jisung, pernikahan adalah bab pengantar.
Sebab Mark ingkar.
ㅤ
Halaman pertama pernikahannya, penuh dengan indah mekarnya bunga-bunga.
Pertengahan halaman, bunga-bunga itu mulai layu, satu persatu gugur kelopaknya.
ㅤ
“Sayang, aku hari ini main ke rumah Jeno ya, dia baru pulang dari Chili.”
“Mas, kamu kan udah janji, hari ini mau nemenin aku ke rumah mama kamu? Kita udah tiga bulan nggak ke sana, loh?”
“Besok kan bisa ya, hm? Lagian, aku ketemu temen-temen ‘kan enggak setiap hari.”
Selepas Mark mencium keningnya dan melesat pergi, Jisung tahu, ia tahu bahwa besok tidak akan pernah terjadi.
ㅤ
Mas Mark Sayang, ga usah nungguin aku pulang. Dipaksa anak2 nginep, maaf ya. Minggu depan aja kita ke rumah mama, aku udah pamitin tadi. Love you ❤️
ㅤ
Mark masih sama baiknya. Di mata Jisung, tidak ada yang salah dari sifat suaminya. Semuanya masih sama. Terlalu sama.
Ia tanamkan dalam hatinya, bahwa perbedaan ada pada mereka untuk saling melengkapi.
Namun selama 4 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, kapal mereka nyanyang arah. Ada dua kompas yang berlawanan.
Jisung tidak pernah meminta waktu Mark ‘setiap hari’. Yang ia minta, hanyalah hidupnya dan Mark berdetik pada waktu yang sama.
Ritme hidup mereka berbeda. Jisung berusaha mengejar, kendatipun Mark tidak pernah berusaha mengalah untuk imbang. ㅤ
Bahkan pada denyut ranjang keduanya, selalu Jisung yang meminta. Mark tidak menolak, tidak pernah. Pun tidak pernah luntur kelembutannya.
Namun, rasa-rasanya, sebatas untuk menggugurkan tanggung jawab, memenuhi hak nafkah batinnya.
Mulai timbul banyak pertanyaan dalam benaknya.
“Mas, kamu masih cinta sama aku nggak, sih?” Pertanyaan Jisung cukup untuk menghentikan kegiatan makan malam mereka.
“Ya masih, lah.”
“Apa alasan kamu cinta sama aku?”
“Karena kamu juga cinta sama aku.”
Jisung mengangguk, menggigit bibirnya, menahan genangan pada pelupuk matanya agar tidak tumpah. Tidak sopan menangis di depan makanan.
ㅤ
Jisung tidak ingin dicintai karena mencintai.
Jisung tidak ingin diberi karena meminta.
Jisung tidak ingin dikasihani sedang ia selalu mengasihi.
Jisung tidak pernah suka dengan konsep pembagian hubungan, satu peran yang dilindungi, peran lain yang melindungi.
Satu peran yang diatur, peran lain yang mengatur.
Satu peran yang di- peran lain yang me-
Baginya, hubungan adalah perihal saling-
Saling melindungi.
Saling mengutarakan.
Saling mencintai.
Bahteranya bertahan semata-mata karena sudah terlalu jauh berlayar. Keduanya menumpangi karena sama-sama tidak sanggup berbalik putar arah. Walau mereka tahu, seberapa lama dan jauh lagi mereka berlayar, mereka tidak akan pernah mencapai tujuan yang sama, tetap melaut tak tentu arah, hanya akan dihujani badai yang menerpa.
ㅤ
Lagi-lagi, Jisung yang mengambil keberanian.
Pada ketukan palu pertama, tersiar kenangan-kenangan manis selama mereka bersama.
Pada ketukan palu kedua, manis yang berubah menjadi hambar, lalu pahit ujungnya.
Pada ketukan palu ketiga, Jisung menatap netra mantan suaminya, menyunggingkan senyum pada lelaki yang masih sangat dicintainya.
Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan.
“Mas, dunia kamu, dunia aku, selama ini, nggak pernah menjadi dunia kita.”
Mark menyetujui permintaan perpisahan. Ia juga tidak ingin, Jisungnya lebih lama tergores luka.
ㅤ