Mie Kuah Jam 3 Dini Hari

Isinya nosung baikan kok, bukan angst. I promise.

ㅤ Sudah lewat tengah malam, Jisung masih belum bisa tidur. Biasanya, dalam kondisi seperti ini, member termuda itu bakal mengendap-endap ke kamar sebelah, membangunkan Jeno, terus minta ditemani tidur sambil di-puk puk pantatnya.

Tapi, hubungan mereka saat ini sedang tidak seperti biasanya.

Jisung bahkan ragu apakah Jeno ada di kamarnya atau tidak. Pasalnya, semenjak persiapan album Universe sampai sekarang, Jisung jarang melihat lelaki itu di dorm. Entah menghindari Jisung, atau memang jarang pulang karena kesibukan unit title track.

Namun, melihat Jaemin dan Shotaro yang tetap menampakkan diri seperti biasanya, Jisung simpulkan bahwa opsi pertama adalah jawabannya.

Untuk menyulut rasa kantuknya, Jisung memutuskan untuk memasak satu bungkus mie instan pedas.

Mata sipitnya yang semula fokus memperhatikan gelembung-gelembung rebusan mie, kini teralihkan saat mendengar suara pintu masuk terbuka.

Fokusnya semakin buyar saat mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali mendekat memasuki dapur.

ㅤ Dari pandangan ekor mata Jisung, Jeno sedang berdiri menenggak separuh botol air mineral di depan kulkas yang masih terbuka.

Jisung menelan ludah untuk menghilangkan perasaan canggung pada dirinya sendiri.

“Jam segini kok baru pulang?” tanyanya takut-takut, namun rasa perhatiannya sebagai seorang pacar lebih mendominasi.

Jisung masih pacar Jeno, ‘kan?

“Tadi ada yang harus diobrolin sama Mark hyung.”

“Oh.”

Jisung pikir, obrolannya akan selesai sampai di situ.

Jisung pikir, Jeno akan menghindarinya lagi seperti kemarin-kemarin.

Ternyata salah, Jeno malah menarik bangku, lalu duduk dengan tenang di meja makan.

“Kamu kebangun karena laper atau emang belum tidur?”

Eksistensi Jeno di sini saja sudah membuat hatinya berdesir tidak karuan, ditambah akhirnya pria itu mengajaknya mengobrol.

Jisung merasa senang sekaligus sedih mengingat kerenggangan keduanya beberapa waktu belakangan.

ㅤ “Belum tidur.”

“Kenapa belum tidur?”

Jisung menggigit bibir bawahnya, menahan emosi di dadanya. “Tumben nanya-nanya? Jeno hyung kemarin kemana aja?”

Dari balik punggungnya, Jisung dapat merasakan helaan napas berat Jeno. “Emang nggak boleh, khawatir sama pacar sendiri?”

Jisung masih pacar Jeno.

Setetes air mata lolos membasahi pipinya kemudian disusul dengan tetes tetes lain, hingga suara sesegukan memenuhi dapur.

Jeno panik, lalu melangkah manghampiri Jisung.

“Kamu duduk dulu, biar aku yang lanjutin masaknya,” ucap Jeno sembari mengambil alih sumpit dari tangan Jisung.


ㅤ Setelah beberapa menit, Jeno kembali duduk lalu menyodorkan semangkuk mie ke depan wajah Jisung yang sedang disembunyikan pada lipatan tangannya di atas meja.

“Makan dulu,” tegas Jeno saat melihat Jisung mengangkat wajahnya dan berusaha mengatakan sesuatu.

“Aku cuma mau bilang kalau itu punyaku.” Telunjuk Jisung mengarah pada mie yang ada di hadapan Jeno.

“Sama aja.”

“Beda, punyaku pedesnya dua kali lipat.”

“Punya kamu udah lembek, Jisung… Kamu tadi masaknya kelamaan, aku buatin yang baru. Kamu ‘kan sukanya mie yang tiga per empat mateng.”

Jisung hanya menunduk dan mulai menyeruput mie di hadapannya sesuai perintah sang kekasih.

“Tapi Jeno hyung ‘kan nggak terlalu kuat makan pedes.”

ㅤ Jeno selalu memikirkan Jisung, pun Jisung selalu memikirkan Jeno.

Bahkan member lain heran saat dua sejoli ini sedang dalam hubungan yang dingin.

Obrolannya dengan Mark tadi, juga banyak menyinggung tentang Jisung.

”Nggak boleh gitu Jen, kalian pacaran yang ngejalanin berdua, nggak boleh ngambil keputusan sepihak. Walaupun maksud lu baik, tapi belum tentu baik di Jisung.”

Wejangan Mark, Jeno tanamkan di hati dalam-dalam. Ia bermaksud menghampiri kekasihnya esok hari.

Betul kata orang, namanya jodoh nggak akan ke mana. Pulang-pulang, Jeno justru langsung disambut perawakan menggemaskan Jisung dengan setelan training suit merah jambu.

Jeno kangen Jisung. Banget. Ia hampir saja berlari merengkuh tubuh sang pacar, namun urung, mengingat keduanya belum berbaikan, agaknya pikiran kompulsif itu tidak cukup sopan untuk dilakukan.

ㅤ “Aku minta maaf.”

Jisung terdiam sebentar, mengabaikan perkataan Jeno lalu kembali menyumpit makanannya.

Ceritanya dia lagi balas dendam. Berminggu-minggu Jisung berusaha membujuk Jeno, tapi selalu dicuekin.

Jisung hanya mau sedikit, sedikit saja melihat Jeno memperjuangkan dirinya. Setidaknya sedikit merasakan apa yang Jisung rasakan.

“Akunya enggak dimaafin, nih?”

“…”

“Jisung?”

“…”

“Sayang?”

Sayangnya, Jeno tahu betul cara merayu Jisung.

“Sayang, sayang… Sayang kok ninggalin sendirian. Udah bosen ya, sama aku?” Jurus ngambek Jisung.

“Aku nggak pernah bosen sama kamu…”

“Terus kemarin apa? Aku doang tuh, yang kayanya patah hati. Kamunya biasa aja.”

“Aku enggak biasa aja. Aku juga kangen kamu bang-“

“Kalau kangen ya disamperin! Bukannya malah pergi!”

“Iya, aku minta maaf, ya? Aku salah. Aku pikir dengan kita pisah sebentar bisa memperbaiki keadaan, ternyata malah bikin makin parah.” Jeno mengusap lembut punggung tangan Jisung, berusaha meredam emosinya yang mulai membara.

“Kerjaan kita sama-sama lagi banyak, terutama aku. Kita jadi sering mempermasalahkan hal-hal yang nggak seperlunya diributin karena terlalu capek. Aku cuma takut melampiaskan semua itu ke kamu. Aku nggak mau bawa energi jelek ke kamu,” lanjut Jeno.

“Padahal aku enggak apa-apa.”

Jeno menatap wajah Jisung penuh tanda tanya.

“Aku enggak apa-apa kalau kamu ngelampiasin rasa capek kamu ke aku. Aku mau di sisi kamu bukan cuma pas seneng doang. Waktu kamu sedih, waktu kamu capek, aku juga pengen bisa jadi rumah buat kamu pulang, jadi tempat buat kamu bersandar.” Jisung berhenti sejenak untuk menarik napas.

ㅤ “Aku enggak apa-apa kita cekcok bentar soal hal-hal yang nggak penting. Paling ujung-ujungnya kita baikan, terus pelukan. Kalau kamu nggak ada, siapa yang aku peluk? Kamu mau aku tidurnya dikelonin Jaemin hyung?”

Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Jisung, Jeno sontak berdiri, kemudian memutari meja menghampiri Jisung.

“Nggak ada ya, Jaemin-Jaemin-an. Nggak mau, nggak boleh.”

“Kalau Renjun hyung, boleh?” Goda Jisung.

“Enggak.”

ㅤ “Sungchan?”

“Sembarangan!” ㅤ

“Terus bolehnya sama siapa?”

“Sama aku.” Jeno diam sejenak, menatap dalam pada netra Jisung. “…boleh?”

ㅤ “Iya, boleh.” Jisung membalas dengan senyuman hangat dan langsung dihadiahi dekapan erat dari Jeno.

Keduanya saling melepas rindu, menghirup aroma tubuh satu sama lain yang selalu menjadi candu.

“Makasih ya, Sayang.”

Jisung menarik diri, lalu menganggukkan kepalanya.

“Kembali kasih ya, Sayang.”

Jeno tersenyum lebar hingga tercipta bulan sabit pada kedua matanya.

Ia semakin mempersempit jarak di antara keduanya. Mendekatkan wajahnya, kemudian mencium bilah bibir Jisung dan melumatnya lembut.

ㅤ “Ada bekas kuah mie, aku bantu bersihin aja tadi.”

Jisung memukul pelan pundak Jeno yang sedang cengar cengir.

“Halah, modus.”

Keduanya saling melempar tawa. Tangan Jisung yang semula bertengger di pundak Jeno, kini perlahan naik, melingkar pada leher. Jemari lentiknya menekan tengkuk Jeno, menariknya untuk menyatukan pagutan mereka kembali. ㅤ ㅤ