Matahari kepada Laut

Samudra yang paling manis, maaf… Sepertinya gue bikin lo nangis

“Dibilangin jangan lama-lama, ih!”

“Maaf… Tadi kasirnya antri panjang banget. Jangan ngambek, dong. Yaaa?”

Denger omelan lo jauh lebih baik dibanding suara tangis, Sam.

Maaf, kali ini perginya jauh lebih lama dari biasanya

Es krim yang dibawa pulang, mungkin sudah leleh seutuhnya

Maaf, sudah bersanding dengan eksistensi penuh bual

“Yaudah, nanti pulangnya gantian gue aja yang nyetir, lo tidur aja sepanjang perjalanan.”

Maaf, gue berakhir tidur selamanya Meninggalkan lo melanjutkan perjalanan sendirian

Maaf, karena pergi hanya mewariskan luka dan tanda tanya

Sungguh, hujan yang dicipta laut adalah berkah

Badai yang menerpa, sama sekali bukan salah samudera

Samudra sudah banyak menyiram asa

Baskara bisa bersinar selama ini, semua karena Samudra

Kita, sebenarnya sudah lebih lama bersama Maaf, sudah egois karena sadar sendirian

Gue nggak mau, menambah riuk ombak pada laut yang tenang

“Kenapa gue nggak perlu jawab?”

“Nanti jadi semakin berat…”

Samudra, terima kasih sudah hidup di masa yang sama dengan gue

Semoga kita nggak ketemu lagi

Gue nggak mau liat lo di sini

Mungkin di kehidupan selanjutnya

Atau selanjutnya lagi

Laut, akan selalu menjadi tempat matahari terbit.

Samudra… Sorry, thank you, I love you and will always do.