Laut kepada Matahari

Baskara sialan!

Gue pikir, lo bilang mau cari angin, bakal balik bawa sekantong es krim kaya biasanya

Lo justru pulang membawa kabar duka

Gimana di sana? Udah tenang?

Gue pengen mengusik ketenangan lo, deh

Gue pengen ngomelin lo Gue pengen nyusul lo

Boleh?

“Nggak boleh.”

“Baskara ih, masa gue ditinggal sendirian?”

“Yaelah, sebentar doang kali Sam, mau beli cemilan buat liat sunset ntar. Es krim vanilla as usual, right?”

“Iya deh, tapi jangan lama-lama.”

Selamanya, rasa vanilla tak lagi sama Manis dikecap, ciptakan getir pada luka Luluh esnya sirat hitungan mundur tenggat kehidupan

Seharusnya gue sadar, kita nggak akan selamanya bersama

Seharusnya gue sadar, hidup tak selamanya tentang tawa

Seharusnya gue bertanya, awan mana yang ciptakan mendung bagi sang surya

“Bas, kok ngelamun, sih? Bentar lagi mataharinya terbenam.”

“Hah? Haha… Sorry, gue tadi terlalu menikmati suasana.”

“Lo gapapa? Keliatan murung gitu dari tadi.”

“Gue gapapa Sam, cuma agak ngantuk aja nyetir ke pantai 3 jam.”

Seharusnya gue tau, Baskara seorang pembohong besar

Seandainya gue sadar, apa kita bisa lebih lama bersama?

Seandainya gue sadar, mungkin hanya manis yang kita rasa, pada es krim yang tersisa

Seandainya gue bertanya, sungguh bukan hujan yang laut beri pada sang surya

“Gue cinta sama lo, Samudra.” Baskara berucap lugas, tatapannya masih tertuju lurus pada mentari yang mulai memadamkan jingganya. Samudra menoleh, terkejut atas penuturan Baskara, ia pun hendak membuka mulut menuturkan balasan.

“Nggak perlu dijawab. Apapun jawaban lo, please, gue mohon jangan dijawab. Gue cuma mau lo tau, kalau lo adalah manusia paling berharga di hidup gue.”

Seandainya gue tau, gue nggak akan membohongi perasaan

Baskara, maaf.

Gue mencuri kesempatan di saat lo nggak ada

Kesempatan buat menjawab

Gue juga cinta sama lo, Baskara.