Senja

Samudra hendak melayangkan protes atas direnggutnya hak pengikraran cintanya. Urung, setelah dilihatnya Baskara yang masih menatap surya, pancar matanya terus terang mencurahkan ketulusan. Permintaannya tadi, terasa seperti pesan terakhirnya yang harus dikabulkan.

Samudra menangkup pipi Baskara untuk menghadap ke arahnya, pada netra yang sedang menatapnya, konstelasi bintang pernah bersarang di sana. Entah oleh sebab apa, berubah menjadi lubang hitam, bak palung distopia.

Samudra mempersempit jarak, deru napas satu sama lain mengalahkan hembusan angin pesisir.

Pertemuan pertama bilah bibir mereka, beriringan dengan terbenamnya matahari di ufuk barat lautan

Sekaligus menjadi pertemuan terakhir keduanya

Baskara yang terbit menyinari Samudra setelah malam gelap yang panjang, kini terbenam selamanya

Malam telah tiba, laut kembali gelap

Dalam gelapnya, ia menyimpan banyak ombak kegusaran

Bagaimana bisa, sumber tawa dan senangnya, justru tidak mengerti arti kebahagiaan?

Mataharinya tak ingin tertoreh sembilu lebih lebih dalam, ia memilih untuk mati rasa

Membinasakan seluruh inderanya.