Kencan Pertama
“Bakso keliling di situ enak banget, Ji,” ucap Zendra di tengah perjalanan mereka menuju Taman Lansia beberapa menit yang lalu.
ㅤ Zidan menginjak-injak daun kering yang ada di bawah bangkunya untuk menghilangkan rasa bosan–menunggu Zendra dan pesanan baksonya datang. Ia duduk di area batu refleksi, cukup jauh dari gerobak bakso.
Zidan mengedarkan pandangannya, walaupun bernama Taman Lansia, namun tidak banyak lansia yang datang sore ini, justru ramai terlihat anak-anak yang berlarian di area playground dan beberapa remaja yang bermain badminton. ㅤ
Tidak buruk juga sebenarnya Zendra membawanya ke sini, banyak pohon rindang yang menjadi naungan dari teriknya matahari. Lingkungannya pun bersih ditambah dengan suara gemericik air mancur. Aura kebahagiaan dari keluarga yang datang bersama pun ikut diserap oleh Zidan. ㅤ
Ah, tapi nampaknya tempat ini terlalu family-friendly untuk berkencan. ㅤ
“Aww!‼” Zidan merasakan hangat tiba-tiba pada tengkuknya, ia menoleh dan mendapati cengiran Zendra yang rupanya baru saja menempelkan mangkuk bakso pada lehernya. ㅤ
“Ngelamun aja sih, Ji.” Zendra mengulurkan mangkuk tersebut ke arah Zidan, kemudian duduk di sampingnya. ㅤ
Zidan menyeruput sedikit kuah baksonya, masih terlalu panas baginya untuk dimakan. Lagi-lagi ia harus menunggu, dan lagi-lagi ia mengedarkan pandangannya, lalu terkunci pada sosok di sampingnya.
Mereka sudah tidak bertemu sekitar 3 hari, sejak menjemputnya di depan FMIPA hingga ke Taman Lansia, Zendra terus menggunakan helm. Saat tiba pun, ia tidak sempat memerhatikan Zendra dengan seksama.
Namun dari jarak sedekat ini, ia dapat melihat dengan jelas wajah Zendra yang nampak lelah, dihiasi kantung mata besar dengan lingkaran hitam yang lebih legam dari biasanya. Yang mana menurut Zidan cukup janggal, karena Zendra baru saja pulang ke rumah untuk menghabiskan akhir pekan, seharusnya ia kembali dengan keadaan fresh selepas beristirahat panjang. Setidaknya itu yang dilakukan Zidan jika di rumah, bermalas-malasan sepanjang hari, bergerak hanya jika disuruh sang bunda.
ㅤ
“Baru sadar ya kalau gue ganteng? Bukan sekadar nggak jelek jelek amat?” ㅤ
Sialan, Zidan lagi-lagi melamun. Sialnya lagi ia tertangkap basah sedang memerhatikan wajah Zendra. Ia hanya berdecih sebagai balasan dan memfokuskan diri pada baksonya. Zidan merutuki dirinya sendiri, sudah berapa lama ia memandangi Zendra, sampai-sampai kuah baksonya sudah tidak panas sama sekali.
ㅤ
Sepertinya kencan hari ini bertemakan perkenalan diri, hal dasar yang dilakukan pada segala macam hubungan dan segala keperluan agenda. ㅤ
Mereka menjadi lebih tahu tentang satu sama lain, Zidan juga mendapati fakta baru, bahwa sebenarnya Zendra tidak sekaku yang ia kira. Terbukti, selama bercengkrama, Zendra justru yang lebih aktif membangun obrolan. Hingga bakso mereka habis, hingga sekarang ditemani gelas kedua es teh mereka, walaupun beberapa kali keduanya terdistraksi oleh orang tua yang melalui dan menyapa mereka saat berjalan di batu refleksi, percakapan mereka masih mengalir begitu saja. ㅤ
Obrolan keduanya tidak selalu cocok, bagaimana Zidan yang percaya bahwa alien itu ada, dibantah oleh Zendra bahwa tidak terdapat cukup bukti ilmiah akan adanya kehidupan lain di luar bumi.
Bagaimana Zidan yang terkejut bahwa harga sepeda Zendra ternyata lebih mahal dari motornya.
Begitu pun Zendra yang tidak habis pikir dengan Zidan yang membeli album vinyl limited edition penyanyi favoritnya dengan harga mahal padahal ia tidak memiliki turntable.
Namun keduanya merasakan adanya kenyamanan dalam dialog mereka. Zidan bahkan sudah sama sekali lupa akan kegugupannya beberapa saat lalu. Nyatanya, ia tidak perlu gimana gimana.
Bersama Zendra, ia hanya perlu bersikap sederhana dan apa adanya.
“Gue iri deh, sama lo,” ucap Zendra setelah mereka membahas tentang bagaimana Zidan merayu abangnya untuk manggung di event konser galang dana Fakultas Teknik, tentang bagaimana arti hari Jumat bagi keluarganya. ㅤ
“Hanya dengan eksistensi lo aja bisa menciptakan kebahagiaan bagi orang lain, unconditionally.”
Lagi, raut lesu yang beberapa waktu lalu menyita perhatian Zidan kembali muncul.
Ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh, ia merasa belum saatnya melangkah sejauh itu jika Zendra belum menghendaki.
Ia hanya mampu menyalurkan empati melalui sorot mata dan senyuman lembut. ㅤ
“Oh, ya? Dari cerita gue, lo nangkepnya begitu, Bang?” tanya Zidan. ㅤ
“Nggak cuma dari cerita lo, gue dari tadi nangkep sendiri juga. Keberadaan lo, bikin gue seneng.” Zendra memberikan senyum dengan mata melengkung bulan sabit.
Manis sekali. ㅤ
“Gue pengen deh, ada orang yang merasakan hal yang sama kaya gitu ke gue,” lanjutnya. ㅤ
Dada Zidan menghangat, ia sering dipuji sebagai anak baik dan segala sinonimnya atas apa yang telah dilakukannya, namun mendengar ia memancarkan energi positif kepada orang lain hanya karena eksistensinya di dunia, membuatnya nyaris menangis. ㅤ
“You will Bang, nanti bakal ada orang yang merasakan hal yang sama kaya gitu ke elo.” Zidan membalas dengan gummy smile andalannya.
Tak kalah manis.